Konten dari Pengguna

Faktor Pemicu Sifat Anak Menjadi Pembully di Sekolah

Yogi Prassetio

Yogi Prassetio

Mahasiswa aktif jurusan Ilmu komunikasi semester 5 Universitas Pembangunan Jaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yogi Prassetio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bullying di sekolah (Sumber: canva.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bullying di sekolah (Sumber: canva.com)

Tangerang Selatan — Kasus perundungan di sekolah kembali mencuat setelah sejumlah video insiden bullying viral di media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku anak sebagai pelaku perundungan tidak muncul tiba-tiba, melainkan dipengaruhi banyak faktor dari lingkungan terdekat maupun kebiasaan sehari-hari.

Menurut data KemenPPPA 2023, lebih dari 5.000 laporan kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah, termasuk kasus perundungan verbal, fisik, hingga digital. Psikolog anak, Ratih Ibrahim, menegaskan bahwa karakter pembully sering terbentuk dari pengalaman negatif yang tidak ditangani sejak dini.

“Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika ia tumbuh di lingkungan yang keras, penuh bentakan atau hinaan, ia menganggap agresi adalah cara biasa untuk menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Selain pola asuh, banyak anak menjadi pembully karena kebutuhan untuk merasa lebih unggul di kelompoknya. Lingkungan pertemanan yang kompetitif sering mendorong anak melakukan perundungan demi mendapatkan pengakuan. Peer pressure turut memperkuat perilaku ini, terutama pada usia remaja awal yang sedang mencari jati diri.

Paparan konten digital juga ikut membentuk karakter. Tayangan kekerasan, candaan merendahkan, hingga tren menghina di media sosial dapat menjadi contoh buruk bagi anak. Tanpa edukasi literasi digital, anak mudah menormalisasi perilaku tidak sopan atau menyakitkan sebagai hal yang lucu.

Di sekolah, kurangnya pengawasan dan komunikasi yang lemah antara guru, siswa, dan orang tua membuat masalah ini semakin kompleks. Guru sering kali baru mengetahui kasus bullying setelah dampaknya terlihat secara fisik atau emosional.

Konselor pendidikan, Dina Wardani, menambahkan,

“Anak yang merundung sebenarnya juga membutuhkan pendampingan. Mereka sering menyimpan kemarahan atau rasa kurang percaya diri yang tidak tersalurkan dengan sehat.”

Dampak bullying tidak hanya dirasakan korban. Pelaku perundungan berpotensi tumbuh menjadi pribadi agresif, sulit mengendalikan emosi, bahkan memiliki masalah hubungan sosial saat dewasa. Karena itu, intervensi sejak dini sangat penting dilakukan.

Sekolah perlu menerapkan program anti-bullying, penguatan pendidikan karakter, serta menyediakan layanan konseling yang aktif. Sementara orang tua harus membangun komunikasi yang hangat dan menjadi teladan dalam mengelola emosi serta menghormati orang lain.

Menghadapi maraknya kasus perundungan, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan digital menjadi kunci. Anak tidak hanya perlu diajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan untuk berempati, menghargai, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.