Sibuk Tapi Tidak Produktif

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi S1 Teknik Elektro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yogi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kemarin malam aku ketemu Asep, teman kuliahku, di warung kopi dekat smp kita dulu. Baru duduk, dia langsung menghela napas panjang. Capek banget, yog. Seharian sibuk, tapi rasanya nggak ada yang kelar.
Aku langsung ketawa. Bukan karena lucu, tapi karena itu persis aku beberapa bulan lalu. Sibuk tapi tidak produktif, kalau kata orang. Dan ceritanya panjang, jadi sini kuceritain sambil ngopi.
Dulu aku bangga banget dengan kesibukanku. Kalau ada yang tanya kabar, jawabanku selalu sama sibuk nih. Rasanya keren, seperti tanda bahwa aku penting. Pagi buka laptop, langsung bales chat. Lanjut rapikan folder, ganti nama file, atur ulang kalender. Tab terbuka belasan, notifikasi bunyi terus, dan aku merasa jadi orang paling rajin sedunia.
Sampai suatu malam, aku duduk di kasur dan iseng nanya ke diri sendiri hari ini aku menyelesaikan apa? Aku mikir lama. Lama banget. Dan jawabannya bikin aku malu sendiri, karena tugas yang dikumpulkan minggu itu bahkan belum kusentuh.
Menurutku, di situlah jebakannya. Kita sering mengira sibuk itu sama dengan maju. Padahal kadang kita cuma berputar di tempat. Aku mengerjakan tugas kecil yang gampang dicoret dari daftar, karena rasanya enak, seperti dapat hadiah kecil. Sementara tugas besar yang benar-benar penting kubiarkan menunggu, soalnya menakutkan. Jujur saja, aku sebenarnya bukan sibuk. Aku menghindar.
Yang bikin lebih parah, aku juga nggak pernah benar-benar fokus. Lagi nulis, ada notifikasi, kucek. Cuma sebentar, pikirku. Balik lagi ke tulisan, sudah lupa tadi mau ngetik apa. Aku sempat bangga bisa mengerjakan tiga hal sekaligus, tapi ujung-ujungnya ketiganya setengah jadi. Kepalaku rasanya seperti ponsel yang aplikasinya kebanyakan terbuka: panas, lemot, dan baterainya cepat habis.
Aku nggak bilang sekarang aku sudah sempurna. Masih sering kok aku tergoda buka-buka folder nggak penting atau bales chat yang sebenarnya bisa nanti. Tapi sekarang aku lebih cepat sadar. Dan kebiasaan kecilku cuma satu setiap pagi, sebelum buka apa pun, aku tanya ke diri sendiri, kalau hari ini cuma satu hal yang selesai, apa yang paling penting.
