Reinterpretasi Ta‘lim al-Muta‘allim

Dosen Fakultas Tarbiyah IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yogi Sopian Haris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dilema Penghormatan Guru dan Kebebasan Berpikir Generasi

Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim karya Syekh Burhanuddin az-Zarnuji merupakan salah satu karya klasik paling berpengaruh dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya di lingkungan pesantren. Kitab ini tidak sekadar membahas metode belajar, tetapi juga menekankan adab, penghormatan kepada guru, kesungguhan menuntut ilmu, serta dimensi spiritual dalam pendidikan. Selama berabad-abad, kitab ini menjadi fondasi pembentukan karakter santri. Namun, di tengah perkembangan pendidikan modern yang menekankan rasionalitas, dialog kritis, dan kebebasan berpikir, muncul pertanyaan mendasar: apakah seluruh konsep dalam Ta‘lim al-Muta‘allim masih relevan jika dipahami secara literal? Ataukah diperlukan reinterpretasi agar nilai-nilai luhur kitab ini tetap hidup tanpa mengekang perkembangan intelektual peserta didik?
Salah satu ungkapan yang cukup menggelitik sekaligus sarat makna dari kitab ini adalah perkataan Sayyidina ‘Ali karamallāhu wajhah tentang kemuliaan seorang guru dan besarnya penghormatan murid kepada orang yang mengajarkannya ilmu. Beliau berkata:
قال عليٌّ كرّم الله وجهه: أنا عبدُ مَن علَّمني حرفًا واحدًا، إن شاء باعَ، وإن شاء أعتقَ، وإن شاء استرقَّ
Anā ‘abdu man ‘allamanī harfan wāḥidan, in syā’a bā‘a, wa in syā’a a‘taqa, wa in syā’a istaraqqa.
Terjemahannya: “Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajariku walau hanya satu huruf. Jika ia mau, ia boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku budaknya.”
Jika ungkapan ini dibaca secara tekstual dan mentah, tentu akan menimbulkan persoalan besar di era sekarang. Kata ‘abdu secara harfiah memang berarti “hamba” atau “budak”. Dalam logika sosial, budak identik dengan kepatuhan total, tidak boleh membantah, tidak boleh mengkritik, dan harus tunduk mutlak kepada tuannya. Jika konsep ini diterapkan secara kaku dalam pendidikan, maka relasi guru dan murid berpotensi berubah menjadi hubungan yang otoriter dan feodal.
Padahal, dalam khazanah bahasa Arab, kata ‘abdu tidak selalu bermakna budak secara literal. Secara istilah dan konteks kebahasaan, ia juga dapat berarti pengabdian, loyalitas, penghormatan, dan ketundukan moral terhadap sesuatu yang dianggap mulia. Kaitannya dengan ungkapan Sayyidina Ali lebih tepat dipahami sebagai bentuk penghormatan mendalam kepada guru, bukan legalisasi ketaatan buta. Demikian pula kata harfan wahidan yang sering diterjemahkan “satu huruf”. Secara literal memang demikian, tetapi makna substantifnya jauh lebih luas. Harfan wahidan dapat dipahami sebagai satu petunjuk, satu ilmu, satu nilai, atau satu pengetahuan yang membawa manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, ungkapan tersebut sebenarnya menegaskan betapa berharganya ilmu dan betapa besarnya jasa seorang guru dalam membentuk kehidupan manusia.
Akan tetapi, memahami teks klasik tidak cukup hanya dari sisi bahasa. Kita juga harus membaca konteks historisnya. Pertanyaan pentingnya adalah siapa guru Sayyidina Ali? Jawabannya jelas, Rasulullah SAW, seorang manusia ma‘shum yang terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu. Maka wajar jika penghormatan Sayyidina Ali kepada gurunya mencapai tingkat sedemikian tinggi.
Persoalannya, apakah ungkapan tersebut bisa diterapkan secara mutlak kepada semua guru di zaman sekarang? Tentu tidak sesederhana itu. Realitas pendidikan modern menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki integritas moral, keilmuan, dan keteladanan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Ada guru yang mengajar sekadar mencari nafkah, mengejar popularitas, bahkan menyalahgunakan otoritasnya. Karena itu, konsep penghormatan kepada guru tidak boleh dijadikan alat untuk membungkam nalar kritis murid atau membenarkan segala tindakan guru tanpa evaluasi. Di sinilah pentingnya membaca Ta‘lim al-Muta‘allim secara kritis dan kontekstual.
Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulumuddin memberikan gambaran ideal tentang sosok guru. Menurut beliau, guru sejati adalah orang yang menyayangi murid seperti anaknya sendiri, tidak menjadikan ilmu sebagai alat mencari keuntungan duniawi, tidak merendahkan murid, serta mengajar dengan kasih sayang dan keteladanan. Guru juga harus mengamalkan ilmunya, bersikap rendah hati, dan tidak fanatik terhadap pendapatnya sendiri.
Pandangan Al-Ghazali ini penting karena menunjukkan bahwa penghormatan kepada guru bukanlah sesuatu yang berdiri sepihak. Guru juga memiliki tanggung jawab moral yang besar. Murid memang wajib menghormati guru, tetapi guru pun wajib menjaga amanah ilmu dan akhlaknya. Dengan kata lain, relasi guru dan murid dalam Islam sejatinya dibangun di atas etika timbal balik, bukan dominasi sepihak.
Karena itu, mengkaji ulang terhadap Ta‘lim al-Muta‘allim menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan di era modern ini. Adab kepada guru tetap harus dijaga, tetapi tidak boleh mematikan daya kritis murid. Menghormati guru bukan berarti menerima semua ucapan tanpa berpikir. Islam sendiri memiliki tradisi intelektual yang sangat kritis. Para ulama besar ketika berbeda pendapat, berdialog, bahkan saling mengoreksi dengan tetap menjaga adab dan penghormatan.
Selain itu, penting juga memperhatikan kualitas dan sanad keilmuan guru. Dalam atsar tabi'in besar bernama Muhammad bin Sirin menyebutkan:
ان هذا العلم دين فانظروا عمن تاخذون دينكم
Inna hāżal-‘ilma dīnun, fandhurū ‘amman ta’khudzūna dīnakum.
Artinya: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Atsar ini menegaskan bahwa memilih guru bukan perkara sepele. Seorang guru bukan hanya harus pintar, tetapi juga memiliki integritas moral, sanad keilmuan yang jelas, dan keteladanan hidup. Nilai ini juga tercermin dalam syair “Memilih Guru” karya perjuangan Nahdlatul Wathan (NW):
Pandai-pandai memilih guru taok ngaji
Guru sak tegak kance jujur ikhlas hati
Mengajar bukan karena materi atau kursi
Hanya semata-mata ikhlas karena Ilahi
Syair ini menegaskan bahwa guru ideal adalah sosok yang ikhlas, jujur, dan tidak menjadikan ilmu sebagai alat kepentingan duniawi. Bahkan dalam bait berikutnya ditegaskan pentingnya sanad keilmuan yang bersambung kepada Nabi Muhammad SAW, karena ilmu dalam tradisi Islam bukan sekadar transfer informasi, melainkan juga pewarisan adab, ruh, dan keteladanan.
Dalam narasi kitab Ta‘lim al-Muta‘allim pada lembar berikutnya, Az-Zarnuji kembali menegaskan pentingnya adab murid terhadap guru.
فَمَنْ تَأَذَّى مِنْهُ أُسْتَاذُهُ يُحْرَمْ بَرَكَةَ الْعِلْمِ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا قَلِيلًا
Faman ta’adzdzā minhu ustāżuhu yuhram barakata al-‘ilmi wa lā yantafi‘u bihi illā qalīlā.
Terjemahan: “Barang siapa yang gurunya tersakiti oleh perbuatannya, maka ia akan terhalang dari keberkahan ilmu dan hanya sedikit memperoleh manfaat dari ilmu tersebut.”
إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيبَهَا وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمًا
Innal mu‘allima waṭ-ṭabība kilāhumā lā yanṣaḥāni idzā humā lam yukramā. Faṣbir lidā’ika in jafauta ṭabībaha waqna‘ bijahlika in jafauta mu‘allimā.
Terjemahan: “Sesungguhnya guru dan dokter, keduanya tidak akan memberi nasihat dengan baik apabila tidak dihormati. Maka bersabarlah atas penyakitmu jika engkau meremehkan doktermu, dan terimalah kebodohanmu jika engkau meremehkan/membangkang/tidak menuruti nasihat gurumu.”
Akan tetapi, penting dipahami bahwa yang dimaksud guru dalam narasi tersebut bukan sekadar seseorang yang berdiri di depan kelas atau memiliki profesi mengajar. Guru yang dimaksud adalah guru ideal sesuai dengan kriteria Al-Quran, hadist dan juga pendapat Ulama. Sosok yang berilmu, berakhlak, ikhlas, memiliki integritas moral, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian, bukan alat dominasi ataupun kepentingan duniawi. Karena itu, penghormatan murid kepada guru dalam tradisi Islam sejatinya lahir dari kualitas moral dan keteladanan guru itu sendiri, bukan karena jabatan atau pun status profesi semata.
Kesimpulannya, Ta‘lim al-Muta‘allim tetap merupakan warisan intelektual Islam yang sangat berharga. Namun, warisan itu tidak boleh dipahami secara kaku dan literal. Pendidikan Islam hari ini membutuhkan sintesis antara adab dan kebebasan berpikir, antara spiritualitas dan rasionalitas, antara penghormatan dan sikap kritis. Menghormati guru adalah keharusan moral, tetapi mengkultuskan guru hingga menutup ruang kritik adalah kemunduran intelektual. Sebab tujuan pendidikan Islam sejatinya bukan melahirkan manusia yang tunduk tanpa nalar, melainkan manusia beradab yang mampu berpikir kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.
