Kematian Aktivis Mahasiswa dan Lahirnya Neo-Orba

Mochammad Yogik Septiawan
Peneliti Muda Academia Forum Karya Buku : Buku Syair-syair terbuang (ISBN Progresif) Buku Meniti jalan sunyi, menggapai mimpi (ISBN Umsurabaya Publishing)
Konten dari Pengguna
15 Februari 2024 11:52 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mochammad Yogik Septiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://pixabay.com/id/vectors/podium-politikus-politik-speaker-3278115/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/vectors/podium-politikus-politik-speaker-3278115/
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Membicarakan aktivis mahasiswa tentu ingatan kita tertuju pada seorang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang hidup pada akhir masa orde lama hingga masa orde baru. Soe Hok Gie merupakan mahasiswa jurusan sastra di Universitas Indonesia pada tahun 1962-1969. Terkenal dengan idealismenya dalam memberikan perlawanan terhadap kekuasaan hingga kematian menjemputnya. Tentunya berita kehilangan bagi aktivis mahasiswa di kampus-kampus.
ADVERTISEMENT
"Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka" salah satu kalimat dari Soe Hok Gie yang hingga saat ini tetap bergetar di setiap nafas perlawanan terhadap kekuasaan. Pilihan terbaik sebagai aktivis mahasiswa adalah memilih menjadi merdeka. Pertanyaannya, apakah aktivis mahasiswa saat ini mengikuti arus atau memilih menjadi merdeka? Hal ini menjadi refleksi bersama.
Kematian Soe Hok Gie sudah lebih dari setengah abad yaitu tanggal 16 Desember 1969, akan tetapi kematian aktivis mahasiswa benar-benar mati tepat pada tanggal 14 Februari 2024. Kematian ini ditandai dengan berberapa aktivis mahasiswa dan mantan aktivis mahasiswa yang dengan mudahnya menggadaikan idealismenya. Ya tentunya tidaklah semua aktivis mahasiswa. Dalam persoalan politik, yaitu di kontestasi pemilu 2024 dapat dilihat adanya pertarungan antara petahana dengan oposisi. Fenomena yang menjadi topik persoalan adalah matinya aktivis mahasiswa, hal ini dapat melihat fenomena mahasiswa yang mengkritik mahasiswa yang kritis mengkritik kebobrokan kekuasaan, fenomena aktivis mahasiswa yang berada dalam barisan paslon yang di dukung kekuasaan, apalagi paslon yang di dukung memiliki rekam jejak menculik aktivis. Bagaimana mungkin seorang aktivis mahasiswa mendukung seorang yang pernah menculik aktivis mahsiswa? bagaimana mungkin seorang aktivis mahasiswa mendukung kekuasaan yang telah membunuh rekan aktivis mahasiswa pada demo mahasiswa yaitu Immawan Randi dan Yusuf?
ADVERTISEMENT
Detik-detik lahirnya Neo-Orba
Pertarungan politik yang sarat kepentingan, dengan berbagai macam cara dijalankan hanya untuk menuju kekuasaan. Praktik-praktik melanggengkan kekuasaan saat ini berbeda dari zaman Soeharto. Jika masa orba penuh dengan otoritarianisme, korupsi, dan pelanggaran HAM, penculikan aktivis dan pembungkaman media yang kontra pemerintahan, maka kondisi politik saat ini di kemas lebih soft dengan bersembunyi dibalik aturan, undang-undang. Melanggengkan kekuasaan saat ini dilakukan dengan cara-cara yang sistematis dan terstruktur. Hal ini dilakukan dengan menggunakan instrument negara, menempatkan kroni-kroninya di posisi yang menguntungkan untuk memperpanjang kekuasaan. Ya inilah matinya aktivis mahasiswa dan lahirnya Neo-Orba, dimana idealisme aktivis mahasiswa dengan mudahnya dibeli meskipun ada rekan aktivis mahasiswa yang menjadi korban pelanggaran HAM.
ADVERTISEMENT