Kunci Swasembada Pangan yang Ramah Lingkungan

Dosen di Bidang Ilmu Teknik Tanah dan Air, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yogina Situmorang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia punya mimpi besar: swasembada pangan. Tapi, jalan menuju sana tidak bisa hanya mengandalkan pupuk kimia dan mesin-mesin saja. Kita butuh solusi yang justru datang dari alam yang sekarang dikenal dengan Nature Based Solution (NBS). Apa itu? Pendekatan NBS Adalah solusi yang dari alam untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dan alam agar tetap Lestari dan salah satunya mengatasi masalah pangan.

Apa contoh nyata NBS? Pertanian berbasis agroekologi. Alih-alih bergantung pada pestisida kimia, petani bisa memanfaatkan musuh alami hama. Misalnya, menanam bunga marigold di antara padi untuk mengusir serangga pengganggu. Hasilnya? Tanaman terhindar hama, lebih sehat, tanahnya tidak rusak, dan biaya produksi turun.
Lalu ada silvopastura, gabungan antara peternakan dan penanaman pohon. Dibanding harus membuka lahan baru dengan membakar hutan, petani bisa menanam rumput pakan di bawah tegakan pohon seperti lamtoro. Hewan ternak dapat makan tanpa merusak ekosistem, kemudian pohon membantu menyuburkan tanah dan menyerap karbon. Tapi silvopastura itu bukan penggembalaan liar di hutan ya. Tetap arealnya dibatasi.
Sekarang ini digalakkan kembali restorasi lahan gambut untuk lahan pertanian. Alih-alih dikeringkan, lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman adaptif seperti sagu atau nanas, yang justru tumbuh subur di kondisi basah. Ini mencegah kebakaran lahan dan menghasilkan komoditas pangan juga.
Pemerintah dan swasta harus mendorong praktik-praktik semacam ini dengan pelatihan, pendanaan, dan akses pasar. Petani juga perlu didukung untuk beralih dari pola konvensional yang seringkali merusak lingkungan.
Swasembada pangan bukan sekadar soal produksi melimpah, tapi juga keberlanjutan. Dengan Nature Based Solution, kita bisa makan kenyang tanpa membebani bumi. Bukankah itu impian kita semua?
