Konten dari Pengguna

Inovasi Alat Tabur Pupuk Sederhana: “ Solusi Efisiensi untuk Petani Kecil “

Kelompok KKN

Kelompok KKN

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kelompok KKN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyerahan alat tabur pupuk kepada pak Akhmad Rowi selaku mitra
zoom-in-whitePerbesar
Penyerahan alat tabur pupuk kepada pak Akhmad Rowi selaku mitra

Mojokerto_Di tengah tantangan pertanian yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, mahalnya harga pupuk, hingga keterbatasan tenaga kerja, petani di berbagai pelosok Indonesia terus berjuang demi menjaga ketahanan pangan. Salah satunya Pak Rowi salah satu petani di Desa Bendunganjati, Kabupaten Mojokerto. Dimana ia masih menggunakan metode pemupukan manual, yaitu menabur pupuk dengan tangan sembari membungkuk. Selain melelahkan, cara ini kurang efisien dan seringkali menyebabkan pemborosan pupuk. “ kadang memakan waktu yang lumayan banyak dan juga membutuhkan tenaga yang lebih besar “ keluh Pak Rowi

Permasalahan seperti yang dialami oleh Pak Rowi bukan hal yang baru karena banyak juga petani kecil di desa Bendunganjati dan juga di Indonesia yang menghadapi kendala serupa. Pemupukan manual juga sangat menguras tenaga. Dalam sehari, Pak Rowi hanya mampu memupuk beberapa petak lahan saja. Hal ini tidak sebanding dengan kebutuhan waktu tanam yang sering kali harus serempak, terlebih saat musim hujan.

Maka sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, kami melihat secara langsung tantangan yang dihadapi oleh Pak Rowi sebagai petani kecil di Desa Bendunganjati, Kabupaten Mojokerto. Salah satu persoalan mendasar yang kami temukan di lapangan adalah rendahnya efisiensi dalam proses pemupukan, yang masih dilakukan secara manual dan tradisional. Hal ini tidak hanya menguras tenaga dan waktu, tetapi juga sering menyebabkan pemborosan pupuk yang berdampak pada biaya produksi.

pengujian alat tabur pupuk oleh pak Akhmad Rowi selaku mitra

Melihat kondisi tersebut, kami berinisiatif memperkenalkan inovasi alat tabur pupuk sederhana, sebagai solusi tepat guna yang dapat digunakan langsung oleh para petani di desa. Alat ini dirancang agar mudah digunakan, ringan, serta terjangkau. Dengan menggunakan alat ini, petani dapat menabur pupuk secara lebih merata, cepat, dan efisien, bahkan hanya dengan satu orang tenaga kerja. Alat ini tidak menggunakan teknologi rumit atau mahal. Justru keunggulannya terletak pada kesederhanaannya. Dibuat dari bahan lokal yang mudah diperoleh dan dapat dirakit sendiri, alat ini menawarkan keberlanjutan dan kemandirian bagi petani lokal. Kami juga memberikan pelatihan cara pembuatan dan penggunaannya agar para petani bisa memproduksi dan memperbaikinya secara mandiri jika diperlukan.

Cara kerjanya pun mudah petani hanya perlu memegang tongkat tabur dengan posisi tegak, arahkan bagian ujung bawah ke tanah/lubang tanam, lalu tekan tongkat ke bawah dengan tangan. Saat ditekan, mekanisme akan membuka saluran dan pupuk akan keluar lewat ujung bawah. Setelah itu lepaskan tekanan, pegas dalam alat akan menutup Kembali dan saluran secara otomatis Pindahkan alat ke titik berikutnya dan ulangi proses.

Setelah memperkenalkan alat ini kepada Pak Rowi ia menyambut baik inovasi ini karena sangat membantu meringankan beban kerjanya, terutama bagi petani yang sudah berusia lanjut atau memiliki lahan terbatas seperti beliau. Kami percaya bahwa inovasi sederhana seperti ini bisa menjadi langkah awal menuju transformasi pertanian di desa Bendunganjati Mojokerto, sekaligus bukti nyata bahwa kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat desa bisa melahirkan solusi yang relevan dan berdampak.

Harapan kami, inovasi alat tabur pupuk ini dapat terus dikembangkan, diperbanyak, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain. Dengan dukungan pemerintah desa dan dinas terkait, kami yakin Desa Bendunganjati bisa menjadi pelopor pertanian efisien dan mandiri di Kabupaten Mojokerto.

Inovasi tak selalu berarti mahal atau rumit. Dengan kreativitas dan kemauan, solusi sederhana seperti alat tabur pupuk ini bisa menjawab permasalahan besar yang dihadapi petani kecil. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Untag Surabaya menjadi bukti nyata bahwa teknologi bukan soal mahal atau rumit melainkan tentang kebermanfaatan dan keberlanjutan. Maka sudah saatnya teknologi pertanian berpihak pada mereka yang selama ini menjadi tulang punggung pangan negeri: para petani desa.