Konten dari Pengguna

Hujan Jakarta: Antara Narasi Keindahan dan Rapuhnya Tanggung Jawab Ruang Publik

Yoka Pramadi

Yoka Pramadi

Peneliti di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya - BRIN

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yoka Pramadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Romantisasi hujan tentu bisa terjadi, tapi tidak untuk semua kalangan. Sang penyair Chairil Anwar pernah berujar:

"Kami cuma tulang-tulang berserakan. Tapi kami adalah kepunyaanmu."

Kalimat puitis itu terasa menggaung pahit di tengah guyuran hujan Jakarta. Tulang-tulang berserakan itu kini adalah jutaan pekerja harian di jalanan, yang nasibnya ditentukan oleh genangan air.

Kata "Hujan" di Jakarta sudah terlanjur dibungkus dalam mitos komersial yang manis sebagai simbol ketenangan, ambience kafe cozy, dan playlist Spotify yang menenangkan. Romantisasi ini yang dipompa habis oleh konten lifestyle dan para influencer yang mana merupakan privilese yang kejam. Ia hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang terlindungi oleh kursi mobil berlapis kulit mahal, atap WFH permanen, dan saldo rekening yang menjamin bahwa hari libur karena banjir pun tetap dibayar.

Narasi "hujan adalah berkah" yang mendominasi media sosial secara total meniadakan realitas jutaan kaum pekerja kota.

Jauh di Sumatera, kita baru saja melihat harga yang harus dibayar dari kegagalan tata kelola ruang, di mana banjir dan longsor merenggut lebih dari seribu jiwa. Tragedi di hulu itu memberi pelajaran mahal: kegagalan infrastruktur adalah kegagalan kemanusiaan. Sementara tragedi di Jakarta disajikan secara mikro setiap hari saat hujan deras turun. Jalanan yang seharusnya menjadi ruang gerak ekonomi, seketika berubah menjadi arena perjuangan bertahan hidup yang tidak adil.

Romantisasi Hujan dan Privilese di Balik Jendela Kaca

Bagi pengemudi ojek daring, kurir logistik, pedagang kaki lima, hingga pekerja pabrik yang mengandalkan motor, hujan bukan metafora puitis. Hujan adalah ancaman finansial dan bukti telanjang atas kegagalan infrastruktur kota yang abai. Hujan menangguhkan gaji harian mereka.

Di sinilah krisis integritas sosial kota ini terungkap. Romantisasi hujan adalah narasi yang didorong oleh kelas atas dan menengah yang dilindungi. Dalam kerangka berpikir Yuval Noah Harari (seperti yang ia bahas dalam Homo Deus), privilese di era modern tidak hanya diukur dari harta, tetapi dari kemampuan untuk menghindari dampak negatif teknologi dan lingkungan. Pekerja ojol adalah kelas yang paling rentan yang dipaksa bertaruh dengan risiko fisik dan pendapatan demi mempertahankan rating digital atau target pengiriman.

Risiko yang mereka hadapi sangat nyata, diantaranya:

  1. Biaya Operasional Membengkak: Tidak hanya jaket dan sepatu, risiko kerusakan motor akibat menerobos banjir dan genangan menjadi beban finansial yang seringkali lebih besar dari pendapatan hari itu.

  2. Kehilangan Waktu dan Pendapatan: Setiap menit yang terbuang karena kemacetan akibat genangan di kolong jembatan adalah uang yang hilang. Hal ini sangat krusial bagi mereka yang terlibat dalam gig economy yang berbasis waktu dan efisiensi.

  3. Ancaman Psikologis: Lebih dari sekadar basah, risiko jatuh, menghadapi pengendara lain yang emosional, dan tekanan untuk tetap memenuhi target di tengah badai menciptakan tekanan psikologis akut yang tidak pernah masuk dalam hitungan biaya pembangunan kota.

Gagap Komunikasi Pembangunan dan Krisis Empati

Dalam hal ini saya melihat pola kegagalan komunikasi yang mendasar yakni komunikasi. Komunikasi Pembangunan seharusnya memastikan bahwa proyek infrastruktur dan narasi kota yang dibangun mencerminkan kebutuhan dan keselamatan seluruh warganya, terutama mereka yang paling rentan.

Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Pembangunan infrastruktur kita selama ini fokus pada estetika, perluasan jalan tol, dan kelancaran lalu lintas kendaraan roda empat mewah. Tujuannya adalah memuaskan stakeholder ekonomi besar, alih-alih pada perlindungan terhadap manusia yang paling rentan.

Jalur sepeda motor yang minim perlindungan, trotoar yang tidak berfungsi sebagai drainase, dan sistem pembuangan air yang bobrok menunjukkan bahwa human resources (pekerja) tidak pernah ditempatkan sebagai prioritas utama dalam perencanaan kota. Ini adalah pesan (komunikasi) pembangunan yang sangat jelas:

Anda penting saat bekerja, tapi tidak penting saat Anda basah kuyup.

Fenomena ini adalah manifestasi konkret dari social gap dan budaya yang abai. Mereka yang terpapar risiko tertinggi saat hujan (kurir dan pekerja harian) adalah mereka yang paling sedikit memiliki suara dan paling sulit menjangkau forum pengambilan keputusan kota. Romantisasi hujan di media sosial berfungsi sebagai digital noise yang menutupi jeritan para pekerja ini. Krisis empati ini diperparah oleh minimnya kanal komunikasi yang efektif bagi pekerja harian untuk melaporkan secara real-time kondisi jalan yang berbahaya akibat hujan.

Hujan sebagai Indikator Kinerja Negara Urban

Hujan di Jakarta seharusnya kita anggap sebagai indikator kinerja infrastruktur. Jika hujan satu jam saja menyebabkan banjir lokal dan kemacetan parah, itu berarti sistem drainase, tata ruang, dan kebijakan transportasi publik kita sudah gagal. Mengapa? Karena air tidak bisa lari?

Masalahnya terletak pada hilangnya daya serap kota. Ruang terbuka hijau menyusut drastis demi bangunan dan jalan beton. Air yang seharusnya diserap bumi, lari ke jalanan, tempat yang seharusnya menjadi ruang gerak ekonomi. Romantisasi hujan membiarkan kita menganggap ini sebagai "takdir alam" padahal ini adalah konsekuensi kebijakan.

Maka, sudah saatnya kita mengakhiri romantisasi yang toxic ini. Kritik terhadap hujan harus dialihkan menjadi kritik terhadap kebijakan publik.

Tuntutan Kebijakan Publik yang Berpihak

Pemerintah kota tidak cukup hanya berjanji mengatasi banjir, tetapi harus menjamin keselamatan dan produktivitas pekerja harian saat cuaca ekstrem. Tuntutan kebijakan yang harus dipertimbangkan meliputi:

  1. Infrastruktur Berpihak: Pembangunan jalur khusus sepeda motor yang memiliki perlindungan memadai dari hujan dan genangan di titik-titik krusial rawan banjir.

  2. Sistem Mitigasi Cepat: Integrasi komunikasi (aplikasi) yang memungkinkan pekerja harian melaporkan genangan secara real-time dan pemerintah merespons dengan cepat, bukan hanya menunggu laporan formal.

  3. Regulasi Gig Economy yang Adaptif: Mendorong platform digital untuk memberikan buffer time atau kompensasi risiko yang adil selama jam hujan deras, mengurangi tekanan target yang mengancam keselamatan pekerja.

Ini bukan sekadar masalah drainase, tapi masalah keadilan sosial dan keberpihakan pembangunan. Kegagalan mengelola air hujan adalah kegagalan membangun kota yang beradab dan adil.

Selama kita belum pernah merasakan dinginnya perjuangan di bawah guyuran hujan, mungkin sulit bagi kita untuk memahami bahwa rintik yang indah tidak menyapa semua orang dengan cara yang sama. Bagi jiwa-jiwa yang menggantungkan hidup di atas aspal, narasi puitis tentang hujan sering kali terasa semu di hadapan realitas perjuangan yang mereka jalani, dan itu adalah tugas kita bersama (para peneliti, perencana kota, dan pembuat kebijakan) untuk menghentikannya melalui intervensi data dan komunikasi pembangunan yang berpihak.