Why Geology Museum?

Tulisan dari Yola Widya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak merasa kesal ketika anak menolak diajak ke museum? Saya pernah, bukan sekali saja tapi berulang kali. Sepertinya, kata 'museum' sulit membuat anak- anak jaman nows beranjak dari magnet gawai. Sebagai orang tua jaman nows, tentunya harus siap meng-upgrade diri agar tidak ketinggalan zaman.
Tapi, bukan berarti pendidikan tentang sejarah dan peninggalan kuno dikesampingkan. Justru kemajuan suatu bangsa dilihat dari cara mereka mengapresiasi sejarah beserta peninggalannya. Karenanya, wisata sambil belajar adalah aktifitas yang ingin saya tanamkan pada anak.
Bandung, kota besar dengan banyak tujuan wisata. Seperti Museum Geologi Bandung, yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Museum ini berada di Jalan Diponegoro No.57. Dekat dengan icon Kota Bandung, Gedung Sate. Tak jauh pula dari Lapangan Gasibu Bandung. Sangat strategis, dan kita bisa mendapatkan petualangan penuh edukasi di luar lokasi museum tersebut.
Harga tiket masuk Museum Geologi sangat bersahabat, Rp 2.000 untuk pelajar, Rp 3.000 untuk wisatawan lokal, dan Rp 10.000 untuk wisatawan asing. Museum buka dari pukul 08.00 pagi sampai 16.00 pada hari senin sampai kamis, dan 8 pagi sampai 14.00 siang hari pada hari sabtu dan hari minggu. Dan tutup setiap hari jumat dan hari libur nasional.
Salah satu acara yang menarik dari museum adalah "Night at Museum." Baru tadi malam saya sempat berpartisipasi di dalamnya. Acara tadi malam dihadiri pula oleh komunitas "earth hour." Bisa dikatakan Museum Geologi ikut andil dalam kegiatan hemat energi.
Tak ketinggalan, diramaikan pula oleh berbagai stand kuliner di sepanjang halaman depan museum. Di acara itu kami diajak berkeliling museum dalam suasana gelap, diiringi para pemandu museum tentunya. Acara yang penuh kesan edukatif menurut saya. Museum ini sendiri terdiri dari dua lantai. Di dalamnya terdapat koleksi batuan, fosil, mineral serta sejarah manusia lengkap. Museum dibagi tiga ruangan, sejarah kehidupan, geologis Indonesia, serta geologi dan kehidupan manusia.
Yang semakin menambah daya tarik dari museum ini adalah adanya sudut planetorium mini. Toko souvenir pun tersedia bagi yang ingin memiliki merchandise museum. Tersedia pernak-pernik yang dapat menarik perhatian anak-anak. Oh ya, bahkan kita bisa berfoto tiga dimensi ala film Jurasic Park di sana. Yang semakin membuat saya betah adalah fasilitas ibadahnya, terdapat mesjid di halaman samping museum.
Bagaimana, tertarik berwisata edukasi di sana? Seperti yang dikatakan Bapak Ma'mur, ST., M.Hum sebagai Kepala Seksi Edukasi dan Informasi Museum Geologi, "Bahwa kita harus menyadari, posisi museum itu sebagai apa dalam pembentukan karakter suatu bangsa. Museum sangat membutuhkan orang-orang yang mengapresiasi sejarah dan peninggalannya."
Saya berkeyakinan, dengan menumbuhkan apresiasi anak terhadap museum, berarti kita telah ikut berperan menanamkan karakter pada mereka. Karakter bangsa yang menghargai sejarah dan peninggalannya.
