Pengaruh Popularitas K-pop di Indonesia

Mahasiswi Universitas Gunadarma.
Konten dari Pengguna
1 September 2022 11:22
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Yola Amelia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu boygroup Korea Selatan. NCT 127 (cr : shutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu boygroup Korea Selatan. NCT 127 (cr : shutterstock.com)
ADVERTISEMENT
K-pop atau Korean Pop merupakan salah satu genre musik yang berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan. K-pop pertama kali meledak di Indonesia sekitar tahun 2011 di era generasi kedua idol korea. Sejak saat itu, girlgroup maupun boygroup dari Indonesia juga bermunculan sebagai imbas meledaknya popularitas K-pop di Indonesia. Misalnya saja seperti Blink atau Coboy Junior.
ADVERTISEMENT
Tetapi, popularitas dan kejayaan grup asal Indonesia itu tidak berlangsung lama. Mulai dari tahun 2014 satu persatu grup mulai kalah pamor dan masing-masing anggotanya lebih fokus pada kegiatan individu sehingga berpengaruh pada aktivitas grup.
Berbanding terbalik, popularitas K-pop justru meningkat. Dengan ide dan konsep yang selalu baru, K-pop membuat lingkaran penggemarnya semakin luas.
Meledak kembali secara mengejutkan di tahun 2020, K-pop mulai menjarah ke berbagai dunia dan semakin besar basis penggemarnya di Indonesia. Tidak hanya musiknya yang dinikmati banyak masyarakat, budaya serta negara asalnya juga menarik banyak perhatian masyarakat Indonesia. Mulai dari kebiasaan, tren busana, makanan, bahkan lokasi-lokasi tempat para idol berkunjung juga menjadi perbincangan hangat para penggemar.
Beberapa pihak mulai mengambil peluang dari besarnya popularitas K-pop seperti brand atau merek di Indonesia yang menggaet para idol untuk menarik konsumen. Wajah-wajah idol juga mulai menghiasi layar kaca televisi Indonesia.
ADVERTISEMENT
Saat ini, kita bahkan bisa menemukan Korean food dengan begitu mudah. Mulai dari mall besar hingga minimarket, menjualnya. Contoh yang popular di Indonesia adalah tteokbokki, ramyeon, kimbab, dan sebagainya.
Tren seperti ini memang wajar saja terjadi. Tetapi, belakangan ini sepertinya popularitas K-pop di Indonesia harus diberi batas. Para penggemar tidak bisa selalu memaklumi budaya yang dibawa oleh artis K-pop karena ada beberapa nilai yang bertentangan dengan norma di Indonesia. Apalagi jika ada penggemar yang sampai membandingkan budaya mereka dengan budaya di Indonesia.
Tidak hanya soal itu, penggemar juga harus sadar dengan maraknya iklan serta promosi produk yang melibatkan artis K-pop. Jangan sampai perilaku konsumtif menjadi kebiasaan dengan dalih untuk mendukung artis favorit. Juga, jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan para penggemar untuk menarik simpati mereka untuk hal-hal yang tidak seharusnya.
ADVERTISEMENT
Para penggemar harus tetap menyadari nilai-nilai norma dan tidak menjadi fanatik yang tutup mata pada penyelewengan ini. Jadilah penggemar yang sehat. Penggemar yang menikmati karya, bukan penggemar yang abai pada realita.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020