Konten dari Pengguna

Organisasi Sebagai Wadah dalam Meningkatkan Sikap Toleransi Generasi Milenial

Yola Fernanda Aditya

Yola Fernanda Aditya

Mahasiswa Universitas PGRI Madiun

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yola Fernanda Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Pentingnya sikap toleransi pada generasi milenial. sumber: pinterest.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Pentingnya sikap toleransi pada generasi milenial. sumber: pinterest.com

Toleransi merupakan sikap manusia untuk saling menghormati antar sesama dan menghargai adanya perbedaan pendapat, agama, suku, ras, serta budaya baik antar individu maupun kelompok. Secara terminologi, toleransi adalah sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Dengan demikian, toleransi disebut sebagai kunci utama sebuah perdamaian yang wajib dijaga dan dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia khususnya generasi milenial. Mengapa harus generasi milenial? Karena menurut saya generasi milenial adalah generasi yang menjadi suatu agen perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang ramai diperbincangkan. Selain itu, generasi milenial disebut sebagai generasi canggih karena mereka lahir sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sehingga bangsa Indonesia berharap bahwa generasi milenial tidak hanya paham akan canggihnya suatu teknologi, tetapi juga paham akan pentingnya sikap tolerasi. Namun, bagaimana sikap toleransi yang dimiliki oleh generasi milenial saat ini? Sikap toleransi yang dimiliki oleh generasi milenial saat ini mengalami penurunan, hal tersebut dapat dilihat dari cara penggunaan sosial media.

Contoh kasus kurangnya sikap toleransi yaitu ketika terdapat postingan mengenai pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki (Gay) di negara Thailand, dimana dalam negara tersebut pernikahan sesama jenis tidak terlalu dipermasalahkan. Hal tersebut dilansir dari berita voi.id (9 juli 2020) menyatakan bahwa kabinet Thailand menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang secara hukum akan mengakui kemitraan sipil sesama jenis. Hal itu akan menjadikan negara Thailand sebagai negara kedua di Asia Tenggara yang melegalkan pasangan sesama jenis hidup bersama. Namun, banyak dari masyarakat Indonesia yang memberikan komentar-komentar dengan bahasa yang tidak etis bahkan ada juga yang mengancam pasangan gay tersebut, sehingga membuat mereka merasa ketakutan dengan ancaman-ancaman mengenai larangan menikah dengan sesama jenis. Dalam agama Islam LGBT memang sangat tidak diperbolehkan, akan tetapi sebagai masyarakat yang baik kita harus bertoleransi dengan adanya perbedaan budaya antara negara kita dengan negara lain seperti pernikahan gay tersebut. Dan apabila ingin berkomentar, kita harus berkomentar dengan bahasa yang sopan serta mengandung edukasi bagi para pembaca lainnya, jangan berkomentar dengan bahasa yang tidak sopan bahkan mengandung ancaman bagi orang yang bersangkutan. Kasus tersebut membuktikkan bahwa masih minimnya sikap toleransi dalam diri masyarakat Indonesia, hal tersebut harus cepat diatasi agar tidak terjadi diskriminasi antar sesama maupun negara yang dapat menyebabkan suatu perpecahan.

Contoh kasus lainnya yaitu adanya perbedaan pendapat antara salah satu artis Indonesia dengan pemuda di lingkungan sekitar rumahnya. Perbedaan tersebut terjadi karena kurang tepatnya pemuda setempat dalam membangunkan sahur, seperti menggunakan TOA Masjid dan tutur bahasa yang kurang sopan. Kasus tersebut juga membuktikan kurangnya sikap tolerasi generasi milenial terhadap masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa. Menurut saya, ketika membangunkan sahur hendaknya menggunakan tutur bahasa yang sopan sehingga masyarakat tidak merasa terganggu.

Untuk menyikapi kasus yang mencerminkan kurangnya sikap toleransi dalam diri generasi milenial dapat dilakukan dengan menanamkan sikap toleransi sejak dini. Misalnya dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya mengikuti organisasi di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Menurut saya, dengan aktif mengikuti organisasi dapat meningkatkan sikap toleransi dalam diri generasi milenial karena organisasi adalah salah satu wadah yang tepat untuk menanamkan serta meningkatkan sikap toleransi pada generasi milenial. Selain itu, konsep organisasi yaitu bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama, meskipun dalam setiap anggotanya memiliki pendapat yang berbeda-beda mereka dituntut untuk menahan diri supaya tidak memaksakan pendapat yang dimiliki. Dengan adanya perbedaan, mereka akan berdiskusi mengenai berbagai pendapat tersebut untuk menghasilkan suatu keputusan yang disepakati dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga dengan berorganisasi sikap tolerasi akan tertanam dalam diri setiap individu. Selain itu, manfaat aktif dalam berorganisasi antara lain :

1. Menimbulkan semangat kerja sama

Dalam berorganisasi setiap anggota dituntut untuk ikut serta dalam melakukan suatu hal yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi tersebut. Sehingga adanya semangat kerja sama ini dapat menanamkan pentingnya sikap toleransi antar sesama baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Mereka juga akan paham bahwa manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia tidak dapat hidup secara individualisme.

2. Membentuk emotional intelligent

Dalam aktif berorganisasi juga mempengaruhi perkembangan emosional pada anak, hal tersebut terjadi karena dalam berorganisasi anak akan dihadapkan dengan tanggungjawab dalam mencapai tujuan secara bersama-sama. Dimana setiap anggota organisasi dituntut untuk selalu solid walau terkadang terdapat adanya perbedaan pendapat maupun sifat dengan anggota lain. Sehingga, dengan aktif berorganisasi membuat anak akan lebih mudah berinteraksi dan menghadapi berbagai sifat manusia yang berbeda.

3. Menambah pengetahuan dan wawasan

Dalam berorganisasi setiap anggota dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya agar tujuannya dapat dicapai secara maksimal. Dengan itu, anak akan termotivasi untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan tuntutan dari organisasi tersebut dan perkembangan zaman. Secara tidak langsung anak akan mendapatkan tambahan ilmu baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan cara bersikap. Hal tersebut terjadi karena dalam berorganisasi setiap anggota dapat menginspirasi dan terinspirasi dari adanya sebuah pengalaman.

Dengan demikian, organisasi merupakan salah satu wadah yang tepat untuk menanamkan dan meningkatkan sikap toleransi dalam diri generasi milenial. Aktif berorganisasi dapat menciptakan generasi milenial yang canggih berteknologi dan bertoleransi, sehingga diharapkan dapat membawa suatu perubahan yang jauh lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.