Monetisasi Lagu AI: Bisakah Dapat Uang dari YouTube dan Spotify?
Tulisan dari Yolansyah Sultan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Monetisasi lagu AI jadi incaran banyak kreator sejak aplikasi seperti Suno dan Udio bisa menghasilkan lagu lengkap dalam hitungan detik. Idenya terdengar mudah: buat puluhan lagu, unggah ke YouTube dan Spotify, lalu tunggu pemasukan. Kenyataannya, sepanjang 2026 platform-platform besar justru memperketat aturan untuk lagu buatan AI.
Lagu AI tetap bisa menghasilkan uang, tetapi ada empat lapis aturan yang perlu dipahami: syarat aplikasi pembuatnya, kebijakan platform, hukum hak cipta, dan risiko meniru lagu orang lain.
Lapis pertama: syarat aplikasi pembuat lagu
Hak komersial atas lagu AI pertama-tama ditentukan oleh aplikasi yang Anda pakai. Suno, misalnya, memperbarui syarat layanannya mulai 3 September 2026. Pengguna gratis hanya mendapat 7 kali unduhan percobaan seumur akun, dan unduhan itu hanya untuk pemakaian pribadi. Hak komersial hanya berlaku untuk lagu yang diunduh lewat paket berbayar, dengan kuota 20 unduhan per bulan untuk paket Pro dan 60 unduhan per bulan untuk paket Premier.
Artinya, lagu yang dibuat dan diunduh dengan akun gratis tidak boleh dimonetisasi. Simpan bukti langganan Anda kalau suatu hari ada yang mempertanyakan hak Anda atas lagu tersebut.
Lapis kedua: monetisasi lagu AI di YouTube, Spotify, dan TikTok
YouTube tidak melarang lagu AI, tetapi tidak mau membayar konten yang dianggap tidak autentik. Sejak 16 Juli 2026, YouTube memperjelas bahwa konten generik, berulang, atau berbasis templat yang mudah dibuat dengan AI tidak bisa dimonetisasi lewat YouTube Partner Program. Kepala Trust and Safety YouTube Matt Halprin menyebut konten semacam itu tidak menunjukkan kreativitas pembuatnya. Saluran yang mengunggah ratusan lagu AI dengan gambar diam dan judul seragam termasuk yang paling berisiko kehilangan monetisasi.
Spotify mengambil langkah lain. Sejak pertengahan September 2026, Spotify memasang label "AI Persona" pada profil artis buatan AI yang tampil seolah-olah manusia. Lagu dari profil berlabel ini tidak lagi masuk ke playlist algoritma dan playlist kurasi editor. Lagu masih bisa diputar, tetapi hanya oleh orang yang mencari atau mengikuti artis tersebut. Spotify juga melarang kloning suara artis tanpa izin dan sudah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam.
Deezer lebih tegas lagi. Sejak Juli 2026, Deezer menghapus lagu AI yang dipakai untuk kecurangan pemutaran, setelah menemukan hingga 85 persen pemutaran lagu AI pada 2025 berasal dari aktivitas curang.
TikTok mewajibkan kreator memberi label pada konten AI yang realistis. Konten yang tidak diberi label bisa diturunkan atau dibatasi jangkauannya.
Lapis ketiga: hak cipta di Indonesia
UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta hanya melindungi ciptaan manusia. Lagu yang sepenuhnya dihasilkan AI tidak punya pencipta, sehingga Anda tidak bisa mengklaim hak cipta atasnya. Akibat praktisnya, orang lain bisa saja memakai ulang lagu itu, dan Anda sulit menuntut. Mencatatkan lagu semacam itu di DJKI atas nama sendiri juga bukan jalan keluar. Pencatatan ciptaan di Indonesia bersifat deklaratif, sehingga catatan yang berangkat dari klaim palsu bisa dibatalkan atau digugat jika terbukti tidak ada kontribusi manusia di dalamnya.
Situasinya berbeda kalau Anda ikut berkarya, misalnya menulis lirik sendiri, mengubah melodi, atau mengaransemen ulang hasil AI. Bagian yang Anda kerjakan tetap dilindungi. Draf RUU Hak Cipta yang sedang dibahas DPR juga mengarah ke prinsip yang sama, yaitu karya berbantuan AI dilindungi sejauh ada kontribusi kreatif manusia. Karena itu, memberi label "dibuat dengan bantuan AI" tidak mengurangi hak Anda atas bagian yang Anda kerjakan sendiri.
Lapis keempat: risiko meniru lagu orang lain
Model AI bisa menghasilkan lagu yang mirip lagu yang sudah ada. Pengadilan Regional Munich pada Juli 2026 menilai model Suno menyimpan dan dapat mereproduksi lagu yang dilindungi, seperti "Daddy Cool" dan "Rasputin". Kalau lagu AI Anda terlalu mirip lagu populer, video Anda bisa terkena klaim hak cipta, dan pendapatannya bisa dialihkan ke pemilik lagu asli. Risiko yang sama berlaku untuk perintah yang meminta AI meniru suara penyanyi tertentu.
Tips monetisasi lagu AI yang lebih aman
Pakai paket berbayar yang secara tertulis memberi hak komersial, lalu simpan bukti langganan dan riwayat pembuatan lagu. Tambahkan kontribusi Anda sendiri, misalnya lirik, aransemen, atau vokal asli, supaya lagu punya bagian yang dilindungi hak cipta dan tidak dianggap konten generik. Unggah lebih sedikit, tetapi dengan kualitas dan identitas yang jelas, karena YouTube dan Spotify sama-sama menyasar akun yang memproduksi lagu secara massal.
Selalu beri label AI di platform yang menyediakannya. Jangan gunakan nama, suara, atau gaya penyanyi tertentu dalam perintah Anda. Kalau memakai distributor musik untuk masuk ke Spotify atau platform lain, baca kebijakan mereka soal lagu AI, karena sebagian distributor mewajibkan pengungkapan penggunaan AI.
Monetisasi lagu AI masih mungkin, tetapi aturannya bergerak cepat. Kreator yang bertahan adalah yang memakai AI sebagai alat bantu berkarya, bukan sebagai mesin pencetak konten.

