Detak Jantung Ibu: Kisah Cinta dan Ketahanan

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yonadia Meliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku masih ingat hari itu, ketika dokter memanggil kami ke ruangannya. Ibuku duduk di kursi kayu, dengan senyum tipis yang berusaha menenangkan hatiku. Tapi saat dokter mulai berbicara, duniaku serasa runtuh.
“Tumor di otak, Bu. Ini sudah cukup besar. Kita perlu menanganinya segera,” katanya pelan, tapi cukup untuk menghantam batinku.
Sejak hari itu, waktu seperti berlomba dengan kekuatan ibu. Setiap bulan, aku menyaksikan tubuhnya melawan rasa sakit yang tidak mampu kuterjemahkan. Kejang itu datang tanpa aba-aba. Tangannya mengejang, tubuhnya terjatuh. Aku memeganginya erat-erat, menahan air mata.
“Ibu, tahan, ya… aku di sini,” bisikku, meski suaraku bergetar.
Di balik rasa sakitnya, ibu tetap menjadi ibu yang kukenal. Ia masih tertawa, bercanda, dan setiap pagi mendorong gerobak kecilnya untuk menjual makanan. Katanya, “Ibu nggak mau cuma duduk menunggu waktu. Kalau ibu berhenti bergerak, kamu malah ikut berhenti.”
Perkataan itu menamparku. Aku, yang saat itu sedang berjuang menamatkan SMA, sering merasa dunia begitu kejam. Aku kehilangan teman, mimpi, bahkan diriku sendiri. Pikiranku mengingat pada ibu, membuatku kehilangan fokus pada pelajaran. Tapi ibu selalu punya cara untuk menguatkanku.
“Belajarlah, Nak. Ibu di sini kuat karena kamu.”
Malam itu, kejang ibu datang lagi. Aku memeluknya, berharap bisa mentransfer kekuatan, meski tahu itu tidak mungkin. Tapi di saat genting itu, ibu berbisik lirih di tengah sesaknya, “Jangan takut… Ibu kuat.”
Di malam-malam yang sunyi, aku sering mendekati tempat tidur ibu, mendengarkan detak jantungnya yang melemah. Anehnya, di setiap denyut itu, aku mendengar cinta yang terus tumbuh.
Ibu adalah pejuang. Meski ada tumor di kepalanya, jantungnya lebih besar dari rasa sakit yang ia derita. Ia adalah pahlawan yang mengajarkan bahwa cinta tidak pernah menyerah.
Aku tahu, selama detak itu masih ada, ibu tetap di sini, mencintaiku sepanjang hidupku. Dan aku, anaknya, adalah saksi dari setiap perjuangan itu.
– semangat sembuh, ibu sayang🤍
