Konten dari Pengguna

Ibu Milenial Harus Paham Mengatur Keuangan Agar Sehat!

Yora Anastasha

Yora Anastasha

Mom & Lifestyle Blogger

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yora Anastasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Moms Minggle : Mom as The Guardian of The Family
zoom-in-whitePerbesar
Moms Minggle : Mom as The Guardian of The Family

Yuk kita mulai.

Banyak banget generasi milenial yang diragukan kemampuannya sama orang tua zaman dulu, ya terbukti sih waktu saya baru lahiran, semua-mua di take over sama orang tua, khawatir katanya saya nggak bisa pegang bayi, tapi enak sih tugas saya cuma nenenin aja & makan enak, karena urusan bayi sampai menu ibu menyusui semua sudah diurus ortu-ortu, hehe

begitu juga dengan urusan keuangan, sepertinya hampir setiap bulan nih ortu saya ngasih pesan supaya saya berhemat, supaya bisa beli rumah, asset, nabung & hidup dengan layak dengan gaji yang kami punya, padahal mah semua juga sudah saya pikirkan yah.

Sebagai "guardian" dalam keluarga kecil saya, saya pun harus selalu sehat secara fisik maupun sehat secara material dan tentunya bijak ya moms dalam mengatur keuangan, supaya di masa depan keluarga saya nggak luntang-lantung *amit-amit*, nah bagaimana sih supaya kita nih para Ibu bisa mengatur keuangan dengan bijak?

kalau saya pribadi, saya benar-benar harus tau sebelum membeli sesuatu, apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan belaka? sebisa mungkin saya pun harus membeli sesuatu yang bener-bener dibutuhkan oleh keluarga saya, sehingga jelas nggak akan berujung ke sia-sia belaka.

Sharing mengenai Financial

Kalau kata mbak Ila Abdulrahman. S.Pt., RIFA, RFC di acara #MomsMinggle pekan lalu, seperti ini : cash flow keuangan sehat itu social 10%, asuransi 5%, living cost 40%, investasi 15% dan hutang produktif 30%. Saat mba Ila menyampaikan porsi seperti itu, saya langsung nepok jidat karena jujur saja, post untuk hutang produktif saya lebih dari 30%!!

Tapiiii, mbak Ila memaparkan bahwa hutang produktif 30% ini adalah hutang kita ke bank seperti KPR & ketika hutang lebih dari 30% maka harus ada living cost yang kita tekan, supaya porsinya tetap seimbang.

Dalam hati saya pun berucap alhamdulillah~ ya karena hutang produktif saya bukan ke bank, melainkan ke ortu, jangka waktu kurang dari 5 tahun & tentu saja akibat hal ini ya saya benar2 menekan living cost saya, jadi ya nggak ada tuh makan mewwah setiap pekan, atau jalan-jalan, benar-benar sebutuhnya banget, hahaha

Mbak Ila juga memaparkan kita harus memiliki pos-pos pengeluaran, jadi kalau pos 1 sudah habis yasudah nggak boleh ada konsumsi lagi di pos tersebut atau bulan depan harus hemat. Terus, mba Ila juga menegaskan bahwa sebisa mungkin kita bener-bener harus punya tabungan minimal untuk dana darurat dan dana tersebut harus liquid, agar jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan bisa segera mencairkan dana tersebut. Kalau saya tipe yang suka beli logam mulia untuk simpanan, karena jujur aja saya kurang suka nyimpen cash baik itu di atm, karena bisa kena biaya adm, sedangkan kalau logam mulia ya nilainya insyaallah akan aman.