Konten dari Pengguna

Aman Menyusui Saat Minum Antibiotik: Fakta dan Tips untuk Ibu

Yori Yuliandra

Yori Yuliandra

Associate Professor, Dosen dan Peneliti pada Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Penerima beasiswa Australia Awards dalam bidang Farmasi, khususnya penemuan dan pengembangan obat dan antibakteri

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yori Yuliandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu menyusui (Sumber: Pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menyusui (Sumber: Pexels.com)

Bagi ibu menyusui, kesehatan bayi adalah prioritas utama. Ketika ibu mengalami infeksi dan memerlukan antibiotik, sering kali muncul kekhawatiran tentang apakah obat tersebut aman untuk bayi. Banyak ibu bertanya-tanya apakah mereka harus berhenti menyusui sementara waktu atau apakah ada risiko antibiotik mempengaruhi kualitas ASI.

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk melawan infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri atau membunuhnya secara langsung. Setiap jenis antibiotik dirancang untuk melawan kelompok bakteri tertentu, dan penggunaannya sangat penting untuk memastikan infeksi tidak menyebar atau menjadi lebih serius.

Jika ibu menyusui meminum antibiotik, obat tersebut akan masuk ke dalam aliran darah dan sebagian kecil dapat masuk ke dalam ASI dan terkonsumsi oleh anak. Tidak hanya antibiotik, obat dari kelas terapi lain juga dapat terdistribusi ke ASI. Hal yang dikhawatirkan adalah apakah hal ini aman untuk bayi.

Apakah antibiotik aman digunakan selama menyusui?

Salah satu kekhawatiran terbesar para ibu menyusui saat harus menggunakan antibiotik adalah apakah obat tersebut aman untuk bayi. Berita baiknya, sebagian besar antibiotik aman digunakan selama menyusui. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sejumlah kecil antibiotik yang masuk ke dalam ASI, dan dalam kadar tersebut, biasanya tidak berbahaya bagi bayi.

Ilustrasi ibu dan bayi (sumber: Pexels.com)

Beberapa jenis antibiotik seperti golongan penisilin, sefalosporin, atau makrolida dikenal sebagai obat yang aman digunakan saat menyusui, dengan risiko efek samping yang kecil untuk bayi, khususnya jika ibu dan bayi tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat tersebut.

Beberapa dampak yang mungkin muncul pada bayi mencakup diare atau gangguan pencernaan lainnya. Efek ini pada umumnya disebabkan oleh gangguan keseimbangan flora pada saluran cerna. Untungnya, efek ini biasanya berlangsung sementara dan tidak mengharuskan penghentian menyusui.

Meskipun demikian, ibu diminta menyampaikan kepada tenaga kesehatan tentang kondisinya yang sedang menyusui bayi. Informasi ini akan menjadi dasar bagi profesional kesehatan dalam terapi, termasuk juga faktor-faktor lain seperti usia bayi, apakah bayi lahir prematur, serta aspek kesehatan ibu.

Apakah perlu berhenti menyusui sementara?

Secara umum, ibu tetap disarankan untuk tetap menyusui bayinya meskipun sedang mengkonsumsi antibiotik. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya keutamaan ASI bagi bayi, termasuk juga manfaatnya dalam meningkatkan imunitas tubuh dari penularan infeksi.

Namun, tidak semua antibiotik sama, termasuk dalam hal keamanannya. Ada beberapa kelas antibiotik yang sudah diketahui dapat menyebabkan efek buruk terhadap bayi yang disusui jika obat tersebut dikonsumsi oleh sang ibu. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian secara global. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Antibiotik dari kelompok aminoglikosida, seperti gentamisin, sering kali dianggap berisiko tinggi. Gentamisin dapat menyebabkan efek samping serius, termasuk kerusakan ginjal dan gangguan pendengaran pada bayi

  2. Antibiotik kelas tetrasiklin juga perlu diwaspadai. Tetrasiklin dapat menumpuk dalam jaringan tulang dan gigi bayi, yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi dan masalah perkembangan tulang.

  3. Antibiotik dari kelompok sulfonamid, seperti trimetoprim-sulfametoksazol, juga dapat berisiko. Obat ini perlu dihindari oleh sang ibu, khususnya ketika bayi masih berumur di bawah 2 bulan, terkait dengan risiko peningkatan kadar bilirubin

Ilustrasi berbagai macam obat antibiotik yang memiliki aspek keamanan yang berbeda terhadap ibu menyusui dan bayi (sumber: Pexels.com)

Apakah ibu menyusui perlu menghafal golongan antibiotik berbahaya ini?

Terkait pengobatan, pasien tidak perlu memahami secara mendalam mengenai kelas obat atau jenis terapi yang mereka terima. Hal ini karena dokter atau apoteker biasanya dituntut untuk memberikan segala informasi yang diperlukan pasien untuk pengobatan yang aman dan efektif. Hal ini juga berlaku untuk pasien yang sedang menyusui.

Umumnya, dokter sudah mengetahui bahwa obat-obat ini tidak disarankan terhadap ibu menyusui sehingga tidak diresepkan. Ibu juga diminta untuk dapat berkonsultasi dengan apoteker untuk memastikan keamanan penggunaan obat, misalnya menanyakan secara khusus apakah obat-obatan yang diterima aman untuk dikonsumsi saat menyusui.

Tips untuk ibu menyusui

Berikut adalah beberapa tips yang bisa membantu ibu tetap menyusui dengan aman saat harus mengonsumsi antibiotik:

  1. Konsultasikan dengan dokter: Pastikan dokter mengetahui bahwa Anda sedang menyusui, sehingga mereka bisa meresepkan antibiotik yang paling aman untuk Anda dan bayi.

  2. Minum obat setelah menyusui: Salah satu cara untuk meminimalkan jumlah antibiotik yang masuk ke dalam ASI adalah dengan mengonsumsi obat segera setelah menyusui. Ini memberi tubuh waktu untuk mengurangi kadar obat sebelum sesi menyusui berikutnya.

  3. Perhatikan bayi Anda: Amati apakah bayi menunjukkan tanda-tanda seperti diare, ruam, atau gelisah setelah Anda memulai pengobatan. Jika ada gejala yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk menghubungi profesional kesehatan.

  4. Jangan berhenti menyusui tiba-tiba: Jika Anda merasa khawatir, jangan langsung berhenti menyusui tanpa berkonsultasi. Penghentian tiba-tiba, apalagi dalam durasi yang lama, bisa berdampak pada produksi ASI dan kesehatan bayi.

  5. Jangan konsumsi antibiotik dan obat keras lainnya tanpa resep: Selalu berkonsultasi dengan dokter jika Anda khawatir mengalami infeksi. Antibiotik dan obat keras hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter. Obat keras ini ditandai dengan logo huruf K di dalam lingkaran berwarna merah.

Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sangat diperlukan terkait keberhasilan dan keamanan pengobatan bagi ibu menyusui dan bayi (gambar: Pexels.com)

Dengan mengikuti tips ini, ibu dapat merawat kesehatannya sendiri tanpa harus khawatir terhadap dampak buruk terhadap bayi yang disusui.