News
·
31 Oktober 2020 6:18

Sumatera Barat, Daerah Paling Banyak Memiliki Warga Bermata Biru di Indonesia

Konten ini diproduksi oleh Yos
Sumatera Barat, Daerah Paling Banyak Memiliki Warga Bermata Biru di Indonesia (166653)
Mila, gadis Minang bermata heterochromia
Banyak yang menyangka jika orang Indonesia memiliki mata berwarna biru mereka adalah keturunan bangsa Eropa. Sebenarnya tidak demikian adanya, mereka adalah orang Indonesia asli. Di beberapa daerah bahkan dibuat cerita bahwa mereka adalah keturunan Eropa. Cerita itu sengaja dibuat untuk menjawab ketidaktahuan atas apa yang terjadi. Tidak ada satupun bukti otentik yang menunjukkan mereka adalah keturunan Eropa.
ADVERTISEMENT
Penulis sudah memotret dan mewawancarai 26 orang bermata biru dari berbagai daerah di Indonesia. Buton, Jakarta dan Sumatera Barat. Bahkan 2 orang dari Vietnam penulis foto tahun lalu dan salah satu fotonya memenangkan kontes foto internasional (HIPA) tahun ini sebagai pemenang ke-2 di kategori General-Colour.
Penulis berusaha mencari tahu apakah di Indonesia juga ada orang bermata biru seperti yang penulis temukan di Vietnam. Akhirnya penulis menemukan keberadaan mereka di Buton, Sulawesi Tenggara. Karena Indonesia sedang dilanda pandemi Covid, baru pada akhir Agustus penulis baru bisa datang ke Buton untuk memotret mereka.
Selanjutnya penulis mencari tahu apakah di daerah lain di Indonesia juga ada. Sebelumnya penulis mengira hanya di Butonlah mereka ada. Tetapi ternyata di Sumatera Baratlah paling banyak orang Indonesia bermata biru. Mereka berasal dari suku Minangkabau asli. Hingga saat ini, di Sumatera Barat saja penulis sudah memotret 18 orang, sementara yang tercatat berdasarkan informasi yang penulis terima lebih dari 50 orang. Dugaan penulis jumlah mereka jauh lebih banyak, namun berapa pastinya masih sulit dihitung karena belum adanya catatan resmi.
ADVERTISEMENT
Kenapa Mata Mereka Berwarna Biru?
Seperti penulis katakan di awal, pada mulanya mereka disangka sebagai keturunan bangsa Eropa. Ini sebenarnya wajar karena Indonesia lama dijajah oleh Belanda, bahkan sebelumnya bangsa Portugis juga mondar-mandir di Indonesia. Bahwa cerita itu dibuat hanyalah karena mereka sendiri tidak memahami apa yang terjadi.
Berdasarkan literatur yang ada, sebenarnya mereka mengalami kelainan berupa penyimpangan genetika. Pertama kali diformulasikan oleh ophthalmologist/geneticist Jerman Petrus Johannes Waardenburg. Penyimpangan genetika ini juga dialami oleh orang Eropa. Lebih lengkapnya bisa dilihat di https://en.wikipedia.org/wiki/Waardenburg_syndrome
Adapun ciri-ciri mereka adalah: Kedua mata berwarna biru, sebelah mata berwarna biru dan sebelah berwarna coklat (heterochromia iridis), raut wajah mirip dengan alis umumnya tebal, kulit bercak-bercak, sebagian rambut memutih seperti uban. Tetapi satu hal yang mungkin dialami adalah gangguan pendengaran sehingga. Dalam temuan penulis memang sebagian dari mereka menjadi tuna rungu. Tidak satupun yang mengalami gangguan pada penglihatan karena warna mata mereka.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan setelah melahirkan, mereka memeriksakan kondisi anak mereka ke dokter umum atau mata. Dokter mengatakan normal, karena memang penglihatan tidak terganggu selain warna mata yang berbeda. Tidak satupun yang menyadari bahwa fungsi pendengaranlah yang harus diwaspadai, sehingga luput dari perhatian mereka. Ketika anak mereka sudah agak besar, mereka baru memeriksakan ke dokter THT dan di sanalah baru ketahuan bahwa alat pendengaran yang terganggu. Sebenarnya hal itu masih bisa ditolong dengan operasi, namun karena sebagian besar adalah masyarakat kurang mampu maka mereka hanya bisa pasrah. Setidaknya ini penulis temukan di 2 keluarga di Sumatera Barat.
Gambar di bawah ini adalah 3 generasi penderita Waardenburg Syndrome dari Tanah Datar. Mereka semua normal, bahkan salah satu anak matanya berwarna biru separuh seperti bulan sabit di kedua matanya.
ADVERTISEMENT
Seorang ibu dan 2 anaknya yang menderita Waardenburg Syndrome. Kedua anaknya bermata biru dan coklat, dikenal sebagai heterochromia iridis.
Seorang ayah dan anak bayinya dari 50 Kota. Anak ini beserta ibu dan neneknya serta banyak saudara lainnya di perantauan adalah juga penderita Waardenburg Syndrome 3 generasi.
Mila, gadis manis normal berusia 14 tahun dari Tanah Datar ini memiliki mata heterochromia iridis bersama dengan kakak dari ibunya. Sedangkan ibunya bermata biru. Kebetulan gadis ini berbakat menjadi model, sehingga penulis jadikan dia sebagai model untuk beberapa sesi pemotretan.
Anak lelaki dari Sijunjung bernama Zaki ini memiliki mata heterochromia iridis, sedangkan ibu dan adik perempuannya bermata biru. Zaki juga berbakat menjadi model seperti Mila.
ADVERTISEMENT
Penulis masih akan terus memotret yang lainnya untuk menerbitkan sebuah buku fotografi tentang orang Indonesia bermata biru. Harapan penulis tentunya buku tersebut akan sangat berguna untuk bahan penelitian bagi para dokter agar bisa mengatasi kelemahan utama yaitu kehilangan fungsi pendengaran. Jumlah penderita Waardenburg Syndrome ini akan segera melonjak drastis, walau saat ini diperkirakan ditemukan 1 di antara 42.000. Satu hal lagi yang perlu diketahui, bahwa kelainan genetika ini sifatnya menurun.
Pembaca bisa melihat foto-foto indah mereka di akun Instagram penulis https://www.instagram.com/ig.yos/.