Konten dari Pengguna

FoMO dan Pengaruh Teman Sebaya: Tantangan Mengelola Keuangan di Lingkungan Mahasiswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yosua Nikolas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: IIlustrasi diolah AI (2026).
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: IIlustrasi diolah AI (2026).

Keputusan Keuangan Tidak Selalu Berangkat dari Kebutuhan

Kehidupan mahasiswa tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sosial. Selain mempertimbangkan harga dan manfaat barang, mahasiswa sering kali mengambil keputusan konsumsi berdasarkan pengalaman teman, tren di media sosial, atau keinginan untuk mengikuti aktivitas yang sedang populer. Ajakan mencoba tempat makan baru, membeli barang yang sedang ramai digunakan, atau mengikuti kegiatan tertentu dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial kampus. Dalam batas yang wajar, pengalaman tersebut dapat memperluas pergaulan. Namun, pengeluaran yang mengikuti tekanan sosial tanpa mempertimbangkan anggaran berpotensi menimbulkan persoalan finansial.

Salah satu konsep yang relevan untuk memahami fenomena ini adalah Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang dianggap menyenangkan dan penting oleh orang lain. Dalam lingkungan digital, perasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang terus-menerus melihat unggahan tentang barang baru, perjalanan, tempat populer, atau pengalaman sosial teman-temannya. Paparan seperti ini dapat mendorong seseorang ingin mengikuti pengalaman serupa, meskipun kondisi keuangannya tidak selalu memungkinkan.

FoMO tidak berarti setiap tindakan mengikuti tren pasti bermasalah. Mahasiswa dapat membeli barang karena memang membutuhkannya, menikmati kegiatan sosial, atau mencoba pengalaman baru berdasarkan pertimbangan yang matang. Persoalan muncul ketika kekhawatiran tertinggal dari kelompok lebih dominan dibandingkan pertimbangan manfaat, kemampuan membayar, dan prioritas kebutuhan. Dalam situasi seperti itu, keputusan konsumsi berisiko menjadi respons terhadap dorongan sesaat, bukan hasil perencanaan keuangan.

Media Sosial dan Tekanan untuk Mengikuti Tren

Media sosial memungkinkan mahasiswa melihat berbagai pengalaman orang lain dalam waktu singkat. Konten yang memperlihatkan barang baru, tempat nongkrong, atau aktivitas rekreasi dapat membentuk gambaran mengenai gaya hidup yang dianggap menarik. Namun, konten digital tidak selalu menunjukkan kondisi keuangan seseorang secara utuh. Apa yang ditampilkan mungkin hanya sebagian kecil dari kehidupan sehari-hari, sementara biaya, keterbatasan, atau konsekuensi di balik pengalaman tersebut tidak terlihat.

Perbandingan sosial dapat menjadi persoalan ketika mahasiswa menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupannya sendiri. Misalnya, seseorang mungkin merasa perlu membeli barang tertentu agar tidak dianggap ketinggalan, atau memaksakan diri mengikuti kegiatan yang membutuhkan pengeluaran besar karena teman-temannya melakukan hal serupa. Apabila keputusan tersebut tidak sesuai dengan anggaran, kebutuhan lain dapat terabaikan. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat muncul ketika uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rutin mulai berkurang.

Pengeluaran impulsif juga dapat berkembang melalui pola tersebut. Ketika melihat promosi yang terbatas waktunya atau unggahan tentang produk populer, mahasiswa mungkin merasa harus segera membeli sebelum kesempatan berakhir. Keputusan cepat seperti ini membuat seseorang memiliki lebih sedikit waktu untuk memeriksa kebutuhan dan kemampuan membayar. Salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut adalah memberi jeda sebelum melakukan pembelian, membandingkan pilihan, dan memeriksa kembali anggaran. Langkah sederhana ini membantu memisahkan keinginan sesaat dari keputusan yang benar-benar direncanakan.

Apa Kata Penelitian tentang FoMO dan Perilaku Keuangan?

Penelitian yang diterbitkan pada Juli 2026 dalam Trending: Jurnal Manajemen dan Ekonomi mengkaji hubungan FoMO, pengendalian diri, dan literasi keuangan digital dengan perilaku keuangan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini melibatkan 244 mahasiswa angkatan 2022 melalui survei kuantitatif. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, sementara pengendalian diri dan literasi keuangan digital berpengaruh positif dan signifikan.

Meskipun demikian, penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak sepenuhnya sama. Studi yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Akuntansi pada Agustus 2026 meneliti 100 mahasiswa Akuntansi Universitas Tanjungpura. Hasilnya menunjukkan bahwa literasi keuangan dan pengendalian diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan, sedangkan FoMO tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara individual dalam model penelitian tersebut.

Perbedaan hasil ini penting karena memperlihatkan bahwa perilaku keuangan mahasiswa tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Pengaruh FoMO mungkin bergantung pada karakteristik responden, kebiasaan konsumsi, kondisi keuangan, cara variabel diukur, atau aspek lingkungan sosial lainnya. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa FoMO selalu menyebabkan masalah keuangan pada setiap mahasiswa. Lebih tepat apabila FoMO dipahami sebagai salah satu faktor potensial yang perlu ditinjau bersama kemampuan mengendalikan diri, tingkat literasi keuangan, dan situasi individu.

Dari perspektif akademik, perbedaan temuan tersebut membuka peluang penelitian lebih lanjut. Penelitian berikutnya dapat membandingkan mahasiswa dari berbagai program studi, tingkat semester, atau karakteristik penggunaan layanan keuangan digital. Peneliti juga dapat melihat apakah pengaruh FoMO berbeda ketika mahasiswa menggunakan uang saku tetap, memiliki pendapatan sendiri, atau menghadapi tanggungan finansial tertentu. Dengan pendekatan tersebut, kajian mengenai perilaku keuangan dapat menghasilkan gambaran yang lebih terperinci daripada sekadar menyatakan bahwa media sosial membuat mahasiswa konsumtif.

Pengendalian Diri sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

Pengendalian diri membantu seseorang menimbang keinginan saat ini dengan kebutuhan dan tujuan yang lebih panjang. Dalam konteks keuangan mahasiswa, kemampuan ini dapat diterapkan dengan menetapkan batas pengeluaran untuk hiburan, menunda pembelian yang tidak mendesak, serta menilai kembali keputusan sebelum membayar. Pengendalian diri bukan berarti menghindari seluruh kesenangan, melainkan memastikan bahwa keputusan konsumsi tidak merusak kemampuan memenuhi kebutuhan yang lebih penting.

Salah satu langkah praktis adalah menyusun anggaran yang mencakup kebutuhan pokok, biaya akademik, transportasi, tabungan sesuai kemampuan, dan pengeluaran sosial. Pembagian tersebut membantu mahasiswa mengetahui batas yang dapat digunakan untuk kegiatan rekreatif. Jika anggaran untuk kategori tertentu telah habis, mahasiswa dapat mempertimbangkan alternatif yang lebih terjangkau atau menunda kegiatan sampai keuangan kembali memungkinkan. Dengan cara ini, batas anggaran menjadi pedoman pengambilan keputusan, bukan sekadar angka yang dibuat di awal bulan.

Kebiasaan mengevaluasi alasan pembelian juga dapat membantu. Sebelum melakukan transaksi, mahasiswa dapat bertanya apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah ada pilihan dengan biaya lebih rendah, dan apakah pembelian akan mengganggu rencana pengeluaran lainnya. Pertanyaan tersebut tidak perlu membuat setiap keputusan menjadi rumit. Tujuannya adalah membangun jeda berpikir, terutama ketika keinginan membeli muncul karena promosi, perbandingan dengan teman, atau perasaan takut tertinggal dari tren.

Literasi Keuangan Digital di Tengah Kemudahan Transaksi

Kemajuan teknologi memudahkan mahasiswa melakukan pembayaran, membeli barang, dan mengakses layanan keuangan melalui ponsel. Namun, kemudahan tersebut perlu disertai pemahaman mengenai biaya layanan, keamanan akun, perlindungan data, ketentuan produk, dan risiko transaksi. Mahasiswa yang mampu menggunakan aplikasi secara teknis belum tentu memiliki pemahaman yang memadai untuk menilai seluruh konsekuensi keuangan dari layanan tersebut.

Karena itu, literasi keuangan digital perlu mencakup kemampuan memeriksa informasi dari sumber yang dapat dipercaya. Promosi, ulasan pengguna, dan rekomendasi di media sosial dapat menjadi bahan pertimbangan awal, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar keputusan. Mahasiswa perlu memeriksa ketentuan, memahami biaya yang mungkin timbul, dan memastikan bahwa suatu layanan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan finansial. Ketelitian tersebut penting terutama ketika keputusan melibatkan komitmen pembayaran yang berulang.

Pencatatan digital dapat membantu mengimbangi kemudahan transaksi. Mahasiswa bisa memeriksa riwayat pembayaran secara berkala, mengelompokkan pengeluaran berdasarkan kategori, dan membandingkannya dengan anggaran yang telah dibuat. Apabila suatu kategori menunjukkan kenaikan yang berulang, mahasiswa dapat mencari penyebabnya dan mempertimbangkan penyesuaian. Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk membeli barang atau memudahkan pembayaran, tetapi juga sebagai sarana mengawasi pola pengeluaran.

Membangun Lingkungan Pertemanan yang Lebih Sehat secara Finansial

Pengaruh teman sebaya tidak selalu berdampak negatif. Teman juga dapat mendorong perilaku keuangan yang lebih baik, misalnya dengan berbagi informasi tentang beasiswa, menyusun kegiatan dengan biaya terjangkau, atau saling mengingatkan agar tidak mengeluarkan uang melebihi kemampuan. Lingkungan pertemanan yang terbuka terhadap perbedaan kondisi finansial dapat membuat mahasiswa merasa lebih nyaman menyampaikan batas anggaran tanpa harus merasa tertinggal atau malu.

Dalam kegiatan sosial, mahasiswa dapat mengusulkan pilihan yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas kebersamaan. Berkumpul di area kampus, membawa makanan sendiri, memilih tempat sesuai anggaran, atau menyepakati batas biaya sebelum kegiatan merupakan beberapa cara yang dapat dipertimbangkan. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial tidak harus selalu dibangun melalui konsumsi yang mahal. Kualitas interaksi dan tujuan kegiatan dapat lebih penting daripada besarnya pengeluaran.

Perguruan tinggi dan organisasi mahasiswa juga dapat mendukung lingkungan yang lebih inklusif dengan mempertimbangkan keragaman kemampuan finansial. Kegiatan kampus yang secara tidak langsung menuntut pengeluaran tinggi dapat membatasi partisipasi sebagian mahasiswa. Sebaliknya, perencanaan kegiatan yang transparan dan menyediakan alternatif biaya dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk ikut serta. Pendekatan ini bukan hanya mendukung pengelolaan keuangan, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan kampus yang lebih terbuka.

Mengarahkan Perilaku Konsumsi pada Tujuan Keuangan

Mengelola FoMO tidak berarti mahasiswa harus menghindari media sosial atau menolak setiap tren yang muncul. Hal yang lebih penting adalah membangun kemampuan membedakan antara keinginan mengikuti pengalaman orang lain dan keputusan yang sesuai dengan kondisi pribadi. Mahasiswa dapat tetap menikmati aktivitas sosial dengan terlebih dahulu memahami anggaran, menetapkan prioritas, dan mempertimbangkan konsekuensi pengeluaran terhadap rencana lainnya.

Tujuan keuangan setiap mahasiswa pun tidak harus sama. Ada yang perlu menyiapkan biaya transportasi, membeli perangkat untuk menunjang pembelajaran, membayar kebutuhan tempat tinggal, atau mengumpulkan dana untuk mengikuti pelatihan. Ketika tujuan tersebut jelas, keputusan konsumsi dapat dinilai berdasarkan apakah pengeluaran mendukung atau justru menghambat prioritas yang telah ditetapkan. Perbandingan dengan kemampuan orang lain menjadi kurang relevan karena kondisi dan tanggung jawab finansial setiap individu berbeda.

Pada akhirnya, FoMO dan pengaruh teman sebaya memperlihatkan bahwa keputusan keuangan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang uang, tetapi juga dengan psikologi, kebiasaan digital, dan dinamika sosial. Temuan penelitian yang beragam mengingatkan bahwa setiap faktor perlu dianalisis secara hati-hati. Pengendalian diri, literasi keuangan digital, kebiasaan menyusun anggaran, dan dukungan lingkungan dapat menjadi bagian dari upaya membantu mahasiswa mengambil keputusan yang lebih sadar.

Perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk memperkuat pendidikan finansial dengan menggunakan kasus yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, termasuk tekanan mengikuti tren, penggunaan pembayaran digital, dan pengelolaan pengeluaran sosial. Pembelajaran yang praktis dapat membantu mahasiswa memahami konsekuensi keputusan serta mengembangkan kebiasaan yang sesuai dengan kondisi mereka. Dengan demikian, kehidupan sosial dan pengelolaan keuangan tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Mahasiswa tetap dapat membangun relasi, menikmati pengalaman kampus, dan menjaga tanggung jawab finansial melalui keputusan yang lebih terencana.

Referensi:

1. Nurinsani, A. S., Takidah, E., & Indriani, S. (2026). Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO), Self-Control, dan Digital Financial Literacy terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa FEB Universitas Negeri Jakarta. Trending: Jurnal Manajemen dan Ekonomi. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/6799733

2. Yusril, A., Haryono, & Kurniawan, R. (2026). Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO), Financial Literacy, dan Self-Control terhadap Financial Management Behavior Mahasiswa Akuntansi Universitas Tanjungpura. Jurnal Pendidikan Akuntansi. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/6680279