Peningkatan Literasi Keuangan Siswa SMA dalam Mengelola Keuangan Sehari-hari

Seorang Mahasiswa Program studi Manajemen Universitas Pamulang.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Yosua Nikolas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKARTA - Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMAS Kharismawita Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Peningkatan Literasi Keuangan Siswa SMA dalam Mengelola Keuangan Sehari-hari”. Program tersebut diarahkan untuk memperkenalkan cara mengelola uang secara bijak melalui kebiasaan yang dekat dengan kehidupan pelajar.
Kegiatan diikuti oleh 16 siswa SMAS Kharismawita Jakarta. Materi disampaikan dengan menggunakan contoh penggunaan uang saku, pembelian makanan dan minuman, kebutuhan sekolah, biaya transportasi, serta kebiasaan menyisihkan uang. Pendekatan tersebut menempatkan literasi keuangan sebagai keterampilan praktis: siswa diajak mengenali pilihan yang mereka hadapi setiap hari dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pengeluaran.
PKM ini beranggotakan sembilan mahasiswa, yaitu Anastashia Junita, Cheisya Nasrul, Herma Yanti, Muhammad Sofyan Aqil, Nayla Maulidia, Nimatul Ilahiyah, Siti Sapinati Nazariah, Yosua Nikolas, dan Yupita Putri Amelia. Kegiatan didampingi oleh dosen pembimbing Fahmi Susanti, S.Km., M.M. dan Dr. Suwanto, S.E., M.M. Tim mengemas materi melalui sosialisasi, contoh perhitungan sederhana, serta pengenalan celengan target sebagai media untuk mendorong kebiasaan menabung.
Literasi Keuangan Dekat dengan Kehidupan Pelajar
Pembahasan diawali dengan situasi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu uang saku yang cepat habis meskipun pengeluaran dilakukan sedikit demi sedikit. Pembelian kecil yang berulang, seperti jajanan atau minuman tambahan, dapat mengurangi uang yang tersedia tanpa terasa. Dari contoh tersebut, siswa diperkenalkan pada pentingnya mengetahui ke mana uang digunakan dan membiasakan diri berpikir sebelum membelanjakannya.
Literasi keuangan dalam materi dijelaskan melalui tiga kebiasaan utama, yaitu mengenali uang yang dimiliki, mengatur penggunaannya, dan menyimpan sebagian untuk mencapai tujuan. Dengan pemahaman tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar mengetahui jumlah uang saku, tetapi juga mampu mempertimbangkan prioritas, memperkirakan pengeluaran, serta memahami bahwa keputusan keuangan perlu disesuaikan dengan kemampuan.
Pengelolaan keuangan tidak harus dimulai dari perhitungan yang rumit. Pelajar dapat memulainya dengan membuat rencana sederhana sebelum berangkat sekolah, menentukan pengeluaran yang memang diperlukan, membatasi pembelian tambahan, dan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Langkah kecil ini dapat membantu membangun pola pikir bahwa uang perlu dikelola, bukan hanya digunakan sampai habis.
Memahami Kebutuhan, Keinginan, dan Pengaruh Tren
Salah satu materi penting adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang diperlukan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan pendidikan. Sementara itu, keinginan berkaitan dengan kesenangan atau kepuasan, misalnya membeli telepon genggam terbaru atau mencoba makanan yang sedang populer. Materi menekankan agar kebutuhan didahulukan, sedangkan keinginan dipenuhi dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan.
Siswa juga diperkenalkan pada jenis kebutuhan berdasarkan intensitasnya, yakni primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan pokok yang perlu dipenuhi. Kebutuhan sekunder berfungsi sebagai pelengkap setelah kebutuhan utama terpenuhi, sedangkan kebutuhan tersier berkaitan dengan barang atau fasilitas mewah. Pengelompokan ini membantu siswa memahami bahwa tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren atau aktivitas orang lain. Dalam kebiasaan berbelanja, FOMO dapat mendorong seseorang membeli barang karena sedang populer atau karena teman-temannya memilikinya. Siswa diajak untuk tidak langsung mengikuti dorongan tersebut, melainkan menilai apakah barang yang diinginkan benar-benar diperlukan.
Sebelum mengeluarkan uang, siswa dapat mengajukan tiga pertanyaan sederhana: apakah barang itu benar-benar dibutuhkan, apakah keputusan membeli hanya karena mengikuti teman atau tren, dan apakah uang yang tersedia masih cukup untuk kebutuhan lain. Kebiasaan berhenti sejenak untuk mempertimbangkan pilihan dapat membantu mengurangi pembelian spontan dan menjaga agar pengeluaran tetap sesuai rencana.
Menyusun Anggaran Uang Saku secara Realistis
Agar keputusan keuangan lebih terarah, materi memperkenalkan lima langkah mengatur uang saku, yaitu menghitung uang yang diterima, mendahulukan kebutuhan, membatasi jajan tambahan, menyisihkan uang untuk tabungan, serta menyiapkan dana cadangan. Langkah-langkah tersebut merupakan panduan yang dapat disesuaikan dengan keadaan setiap siswa, bukan aturan pembagian uang yang harus sama bagi semua orang.
Salah satu contoh dalam materi menggunakan uang saku Rp30.000 per hari. Ilustrasi pembagiannya adalah Rp12.000 untuk makan dan minum, Rp8.000 untuk transportasi, Rp3.000 untuk kebutuhan sekolah, Rp5.000 untuk tabungan, dan Rp2.000 untuk dana cadangan. Contoh ini memperlihatkan bahwa tabungan dapat dimasukkan ke dalam rencana sejak awal, setelah kebutuhan utama diperhitungkan.
Materi juga menyajikan simulasi dengan uang saku Rp50.000 dan beberapa pilihan pengeluaran, antara lain ongkos pulang-pergi, makan siang, alat tulis, minuman kekinian, serta aksesori yang sedang tren. Melalui simulasi ini, siswa diajak menilai pilihan berdasarkan manfaat dan tingkat kepentingannya. Ketika dana terbatas, kebutuhan yang lebih penting dan target tabungan perlu dipertimbangkan sebelum pengeluaran tambahan dilakukan.
Contoh anggaran tidak dimaksudkan untuk membatasi seluruh keinginan siswa. Tujuannya adalah membantu mereka melihat batas kemampuan keuangan dan membuat pilihan secara sadar. Apabila terdapat kebutuhan yang berubah, anggaran dapat disesuaikan kembali. Hal yang perlu dijaga adalah agar pengeluaran utama tetap terpenuhi dan rencana menabung tidak mengganggu kebutuhan yang lebih mendesak.
Mencatat Pemasukan dan Pengeluaran untuk Evaluasi
Materi kemudian membahas pentingnya mengenali pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan dapat berasal dari uang saku, hadiah, atau sumber lain yang diterima, sedangkan pengeluaran meliputi biaya makan, transportasi, alat tulis, uang kas, camilan, dan hiburan. Siswa diperkenalkan pada rumus sederhana untuk mengetahui sisa uang, yaitu pemasukan dikurangi pengeluaran.
Pencatatan dapat dilakukan menggunakan buku kecil maupun spreadsheet sederhana. Kolom yang diperlukan meliputi tanggal, keterangan transaksi, pemasukan, dan pengeluaran. Cara ini tidak membutuhkan aplikasi khusus atau perangkat yang rumit. Hal terpenting adalah mencatat secara konsisten agar siswa dapat melihat penggunaan uang secara lebih jelas.
Sebagai contoh pembelajaran, materi menampilkan catatan keuangan mingguan dari uang saku Rp200.000. Pengeluaran untuk alat tulis, camilan, transportasi, uang kas, dan belanja berjumlah Rp120.000, sehingga sisa uang menjadi Rp80.000. Angka tersebut merupakan simulasi dalam materi, bukan hasil pengukuran transaksi peserta. Contoh ini menunjukkan bagaimana catatan dapat membantu seseorang mengevaluasi kebiasaan pengeluaran.
Menabung dengan Target dan Celengan Target
Setelah memahami cara mengatur uang saku, siswa diperkenalkan pada tantangan menabung selama 28 hari. Mereka dapat menentukan target yang realistis, kemudian memberi tanda pada hari ketika berhasil menyisihkan uang. Nominal tabungan tidak harus selalu sama. Siswa dapat menyesuaikannya dengan uang saku dan kebutuhan masing-masing, sehingga kebiasaan menabung dapat dilakukan secara wajar dan tidak memberatkan.
Materi memberikan ilustrasi apabila seseorang menabung Rp5.000 pada 20 hari sekolah dalam satu bulan. Dengan perhitungan tersebut, tabungan dapat mencapai Rp100.000 dalam satu bulan. Jika dilakukan secara konsisten selama enam bulan, jumlahnya dapat menjadi Rp600.000. Simulasi ini membantu menunjukkan bahwa nominal kecil dapat berkembang ketika dilakukan secara teratur.
Sebagai dukungan praktik, tim menyosialisasikan cara menabung menggunakan celengan target dan memberikan media tersebut kepada siswa. Celengan target dilengkapi angka atau kotak penanda untuk memantau perkembangan tabungan. Dengan demikian, siswa tidak hanya memiliki tempat menyimpan uang, tetapi juga alat sederhana untuk melihat sejauh mana target yang telah ditetapkan mulai tercapai.
Penggunaan celengan target dapat dimulai dengan menentukan tujuan, misalnya membeli perlengkapan sekolah yang diperlukan atau menyiapkan dana untuk kebutuhan tertentu. Setelah tujuan ditetapkan, siswa memilih target nominal yang sesuai kemampuan, menyisihkan uang secara berkala, lalu menandai perkembangan pada celengan. Setiap tanda menjadi pengingat atas usaha yang sudah dilakukan dan langkah berikutnya yang perlu dijalankan.
Pemantauan target juga dapat menjadi bahan evaluasi. Jika tabungan belum berkembang sesuai rencana, siswa dapat meninjau kembali kebiasaan pengeluaran atau menyesuaikan nominal setoran. Sebaliknya, ketika target tercapai, siswa dapat mengevaluasi proses yang berhasil dilakukan sebelum menentukan tujuan baru. Dengan cara ini, celengan target menjadi media pembiasaan yang menghubungkan perencanaan, tindakan, dan evaluasi.
Manfaat Edukasi dan Keberlanjutan Kebiasaan Baik
Rangkaian materi dalam kegiatan ini saling berkaitan. Mengenali kebutuhan membantu siswa menentukan prioritas, penyusunan anggaran memberi batas dan arah penggunaan uang, pencatatan membuat pengeluaran dapat ditinjau kembali, sedangkan tabungan dan celengan target membantu membangun kebiasaan menyisihkan uang. Keterkaitan tersebut memperlihatkan bahwa literasi keuangan merupakan proses yang dapat dilatih melalui rutinitas sederhana.
Bagi siswa, pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang lebih terencana, mengurangi pengeluaran spontan, dan lebih menghargai proses mencapai tujuan. Celengan target juga memberi bentuk visual pada proses menabung, sehingga perkembangan dapat dipantau. Manfaat tersebut merupakan tujuan dan dampak yang diharapkan dari program, keberlanjutannya tetap bergantung pada penerapan kebiasaan oleh masing-masing siswa.
Kegiatan PKM juga menjadi ruang berbagi pengetahuan antara perguruan tinggi dan lingkungan sekolah. Materi yang disampaikan dengan contoh sehari-hari dapat menjadi bahan diskusi lanjutan di rumah maupun di sekolah. Dengan adanya media praktik, siswa memiliki pengingat untuk menerapkan pengetahuan setelah kegiatan selesai, sementara pesan tentang pengelolaan uang dapat terus diperkuat melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Kesimpulan
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang di SMAS Kharismawita Jakarta menjadi upaya edukatif untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai pengelolaan keuangan sehari-hari. Melalui materi tentang kebutuhan dan keinginan, pengaruh FOMO, penyusunan anggaran, serta pencatatan pemasukan dan pengeluaran, siswa diperkenalkan pada dasar-dasar pengambilan keputusan keuangan yang lebih bijak. Pembahasan yang dekat dengan pengalaman pelajar membuat literasi keuangan dapat dipahami sebagai keterampilan yang dapat diterapkan sejak sekarang.
Sosialisasi menabung dan pemberian celengan target melengkapi kegiatan dengan sarana praktik yang sederhana. Siswa diperkenalkan pada cara menentukan tujuan, memilih nominal yang realistis, menyisihkan uang secara berkala, dan menandai perkembangan tabungan. Pendekatan ini diharapkan memberi dampak positif berupa tumbuhnya disiplin, kesabaran, tanggung jawab, serta kesadaran untuk tidak menggunakan uang tanpa perencanaan. Celengan target juga dapat membantu siswa melihat bahwa tujuan keuangan dapat dicapai melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Keberhasilan pembiasaan tersebut memerlukan kesinambungan setelah kegiatan PKM berakhir. Siswa diharapkan dapat melanjutkan pencatatan pengeluaran dan penggunaan celengan target di rumah, sementara dukungan lingkungan sekolah dan keluarga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan dalam satu pertemuan, tetapi menjadi langkah awal yang bermanfaat dalam membentuk generasi muda yang lebih cermat, mandiri, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan.
