Literasi Digital: Tetap Kritis Dalam Pusaran 'Ahli Dadakan' Medsos

Penulis, Alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Arif Raha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial (medsos) saat ini, kita memang tak lagi kesulitan mendapatkan kabar setiap hari. Namun, ada satu ironi yang sering luput dari perhatian: informasi yang tersaji di berbagai platform itu seringkali tak tersaring dengan baik oleh netizen. Kondisi inilah yang memicu popularitas di medsos mengalahkan kredibilitas, bahkan menjadikannya pengakuan publik. Tak heran, influencer atau konten kreator digital kini lebih sering diundang mengisi talkshow, podcast, atau seminar dibandingkan para ahli di bidangnya. Lantas, apa sebenarnya inti masalah dari fenomena ini?
Jumlah video yang menampilkan konten kreator atau influencer bicara isu-isu hangat di negara kita kian hari kian melonjak. Kita bisa menjumpai mereka di TikTok, Instagram, Facebook, hingga yang paling masif di YouTube. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih abai menelusuri latar belakang para influencer ini.
Padahal, sangat penting bagi kita untuk memastikan apakah mereka benar-benar punya kompetensi atau disiplin ilmu yang relevan dengan topik yang dibahas. Ini krusial, sebab jika kita menelan mentah-mentah informasi dari para konten kreator tersebut, kita bisa terseret pada misinformasi. Lebih celaka lagi, jika kita terpancing hanya karena menyukai tema atau figur kreatornya. Tanpa saringan, konten semacam itu mudah saja tersebar, memicu perdebatan sengit, bahkan pertengkaran, terutama jika informasi yang termuat ternyata hoax atau sekadar sentimen pribadi tanpa data valid.
Memang, tak semua konten kreator di medsos tanpa kompetensi. Faktanya, ada banyak influencer yang berbekal ilmu dan etika saat menyampaikan materi. Namun, tak sedikit pula influencer di jagat maya yang tidak punya latar pendidikan memadai untuk topik yang kerap mereka angkat. Hanya berbekal follower ribuan bahkan jutaan, mereka dengan percaya diri berbicara apa saja.
Lantas, apakah ini keliru? Tentu tidak. Setiap individu punya hak yang sama untuk bersuara di ranah publik, selama tidak menista atau mengandung unsur SARA. Baik pakar, akademisi, maupun influencer memiliki hak setara dalam menyampaikan pendapat dan argumennya di ruang publik. Apalagi negara kita menjamin hak berpendapat warganya sebagai bagian dari demokrasi. Hal ini bisa kita lihat pada era sebelum media sosial merebak. Dulu, para pakar, akademisi, hingga warga sipil bisa menulis opini di koran. Bedanya, setiap opini yang akan diterbitkan di surat kabar, baik nasional maupun lokal, akan melalui kurasi dan pemeriksaan ketat oleh redaktur untuk memastikan isinya dapat dipertanggungjawabkan.
Alur ketat inilah yang membuat masyarakat lebih terfilter dalam menerima berita atau informasi. Memang, dulu tulisan yang dimuat umumnya berasal dari para ahli, tokoh masyarakat, atau akademisi yang sumber referensi dan datanya jelas. Namun, tak sedikit pula tulisan dari kalangan biasa yang berhasil dimuat jika memang isinya berkualitas.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena ini? Kemajuan internet tak dapat dibendung, dan kita juga tak bisa melarang orang yang tidak berkompeten untuk berbicara di media sosial. Namun, ada langkah-langkah yang bisa kita lakukan bersama untuk mencegah dampak negatif dari kebebasan informasi ini agar tidak menjadi masalah besar bagi bangsa.
Peran Bersama untuk Informasi yang Lebih Baik
Sebagai Konsumen Informasi, kita harus terus mengasah literasi media dan kemampuan berpikir kritis. Jangan mudah percaya. Biasakan mengecek latar belakang konten kreator, mencari bukti pendukung, dan membandingkan informasi dari berbagai sumber kredibel. Yang paling penting, bedakan antara fakta dan opini.
Sebagai Kreator Konten (terutama jika berbicara isu serius), ada tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi secara akurat dan jujur. Jika tidak memiliki latar belakang ahli, sampaikanlah sebagai sudut pandang pribadi atau hasil riset dengan sumber yang jelas, bukan sebagai kebenaran mutlak. Hindari semata-mata mengejar viralitas, utamakan validitas.
Dengan kesadaran dua arah, baik dari netizen maupun konten kreator, yang sama-sama bertekad memajukan bangsa dan meningkatkan kualitas informasi, kita akan membangun masyarakat yang lebih sehat dalam berpikir dan bernarasi, serta meningkatkan nalar kritis secara kolektif.***
Arif Raha, Penulis dan Pegiat Literasi.
