Konten dari Pengguna

PHK Massal: Janji Palsu dan Kapal Ekonomi yang Karam

Arif Raha

Arif Raha

Penulis, Alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Raha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar seorang pekerja yang stress, Sumber : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar seorang pekerja yang stress, Sumber : Pexels.com

Di tengah gema takbir kemenangan dan sorak sorai Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2025 di Monas, sebuah janji besar melambung dari podium: pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh Presiden. "Kita tidak akan membiarkan rakyat kita, kita tidak akan membiarkan pekerja-pekerja di-PHK seenaknya," tegasnya. Janji itu laksana biduk penolong di tengah samudra yang bergelora. Namun, apa gunanya biduk penyelamat, jika bahtera besar ekonomi kita sendiri tengah karam, dihantam ombak ujian yang tak kunjung reda? Ini bukan sekadar percikan badai PHK biasa, melainkan cerminan sakitnya ekonomi bangsa kita.

Ketika Angka Berbisik, Ribuan Nyawa Menjerit

Alarm PHK massal tahun 2025 ini tak hanya berdering di satu dua sudut negeri, melainkan nyaring di berbagai persimpangan kehidupan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 26.455 kasus PHK per 20 Mei 2025, sebuah angka yang sesungguhnya telah melampaui sepertiga dari total PHK tahun sebelumnya. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, mengisyaratkan bahwa angka di lapangan jauh melampaui data resmi. Mengapa? Karena, kerap kali, perusahaan memilih membungkam duka pekerjanya demi menjaga citra bisnis dan kepercayaan para bankir serta pembeli. Sebuah tabir tipis yang menyembunyikan realitas pahit di balik dinding-dinding pabrik.

Terkisah derita pilu para pekerja PDAM Makassar, yang diberhentikan mendadak, tanpa peringatan, tanpa evaluasi. Syahrul, salah satu di antara mereka, harus bergulat dengan bayangan cicilan rumah dan biaya sekolah anak-anaknya. Di ranah tekstil, Sritex yang pernah menjadi kebanggaan, kini terpaksa merumahkan 11.025 buruh akibat pailit. Badai ini juga merambah hingga ke meja redaksi media-media besar seperti Kompas TV, CNN Indonesia, dan MNC Group. Bahkan sektor e-commerce yang digadang sebagai masa depan, seperti TikTok Shop, turut memangkas ratusan karyawannya demi efisiensi pasca merger. Ini semua adalah gambaran nyata, bahwa PHK bukan lagi sekadar angka, melainkan air mata dan keringat ribuan jiwa yang tengah diuji.

Penyakit dalam Tubuh Industri: Sebelah Sayap yang Patah

Mengapa badai PHK massal ini terus melanda? Jawabannya bukan sekadar gejolak sesaat, melainkan pertanda penyakit kronis di dalam tubuh ekonomi kita: industri kita sedang melemah sebelum waktunya tiba.

Dulu, industri manufaktur (pabrik-pabrik yang mengubah bahan mentah menjadi barang jadi) adalah jantung dan otot penggerak sebuah bangsa menuju kemakmuran. Dialah lokomotif yang menarik gerbong-gerbong kemajuan, menciptakan lapangan kerja, dan menopang jutaan keluarga. Negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang membangun fondasi kemakmuran mereka di atas kokohnya pilar ini. Namun, di Indonesia, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus merosot tajam. Dari puncaknya 25,6% di era 90-an, kini tinggal sekitar 18-19%. Pertumbuhan sektor ini seringkali terkesan tertatih-tatih, kalah cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Ini adalah alarm keras: mesin utama yang semestinya membawa kita melaju, kini berjalan pincang sebelum benar-benar kuat. Penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur pun kian menipis, seolah sungai yang mengering dan memaksa aliran kehidupan bergeser ke anak sungai yang lebih kecil, yaitu sektor jasa yang gajinya kerap tak seberapa.

Suara Kritik: Jangan Biarkan Negeri Ini Jadi Lapangan Janji

Pemerintah sesungguhnya telah melihat badai ini, namun responnya terkesan datar, seolah hanya sebuah riak kecil. Janji Satgas PHK, meski niatnya mulia, tak lebih dari upaya memadamkan api yang sudah membara tanpa mencari tahu sumbernya. Ini sama saja memberi obat penenang sementara, padahal pasiennya menderita penyakit kronis yang butuh operasi besar. Pemerintahan juga masih lemah dalam mengumpulkan data PHK yang akurat, sehingga keputusan yang diambil seringkali tak tepat sasaran, seperti berjalan tanpa peta yang akurat.

Pemerintah seolah belum berhasil menciptakan ladang subur bagi industri kita, yang stabil dan bisa ditebak. Kebiasaan pebisnis yang begitu mudah melakukan PHK demi menjaga laba juga belum bisa digeser, karena mungkin serikat pekerja kita belum punya kekuatan penuh, dan jaring pengaman sosial yang berkelanjutan masih sebatas wacana.

Menuju Titian Baru: Merajut Masa Depan Industri dan Pekerja

Untuk melewati ujian berat PHK massal ini, kita butuh lebih dari sekadar janji-janji manis. Kita butuh keberanian untuk menempuh jalan yang lebih sulit namun pasti:

  1. Mengolah Kekayaan Alam Sampai Tuntas (Hilirisasi Total): Jangan hanya jadi pengekspor bahan mentah. Kita harus jadi bangsa pengolah, yang mengubah nikel jadi baterai, sawit jadi aneka produk hilir. Ini akan membuka gerbang pabrik-pabrik baru, menyerap jutaan tenaga kerja, dan melipatgandakan nilai ekonomi.

  2. Basmi Biaya Siluman dan Korupsi: Ciptakan lahan bisnis yang bersih dan transparan. Singkirkan pungutan liar dan birokrasi yang membelit. Hanya dengan begitu, industri kita bisa bernapas lega dan bersaing di panggung dunia.

  3. Lindungi Pasar dalam Negeri: Pemerintah harus lebih tegas mengendalikan masuknya barang impor. Beri ruang bagi produk lokal untuk tumbuh dan berkembang, dengan mendukung penggunaan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang lebih tinggi.

  4. Perkuat Suara Pekerja dan Jaminan Hidup: Pemerintah harus mendukung serikat pekerja agar memiliki kekuatan setara, menjadi mitra yang adil dalam hubungan industrial. Serta, harus ada jaring pengaman sosial yang kuat dan berkelanjutan bagi mereka yang terkena PHK, bukan hanya bantuan sesaat.

  5. Geser Cara Pandang Pebisnis: Kita harus duduk bersama pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk mengubah logika bisnis. Keuntungan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Pebisnis harus diajak untuk berbagi beban di masa sulit, mengurangi margin atau gaji manajemen, sebelum memangkas pekerja.

Sebagai penutup, PHK bukan sekedar soal angka. Sejatinya ini tentang para tulang punggung keluarga yang menyebabkan keputusasaan di setiap rumah atau barangkali kontrakan petak yang tak layak huni. tentang besok makan apa? biaya sekolah anak bagaimana? pemerintah seringkali sibuk dengan urusan-urusan langit. yang di tanah? biar korban PHK yang menilai. tentu perasaan ini hanya dipahami oleh orang yang mengalaminya, seperti saya pada akhir tahun 2022. jika tulisan ini sampai ke para pembaca, semoga bisa menjadi mantra yang menggerakkan kaki dan tangan yang memiliki wewenang untuk menghapus awan mendung serta memecah badai para pencari nafkah.