Konten dari Pengguna

Anak SD dan Era Digital: Mengapa Membaca dan Berhitung Masih Menjadi Tantangan?

YOYOH R SPd

YOYOH R SPd

GURU SDN DURI UTARA 01

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari YOYOH R SPd tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, anak-anak sekolah dasar hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Telepon pintar, internet, media sosial, dan berbagai aplikasi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak dapat memperoleh informasi hanya dengan beberapa sentuhan pada layar. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting: mengapa kemampuan membaca dan berhitung anak SD masih menjadi tantangan?

Penulis sedang memberi pengarahan kepada siswa. Sumber : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Penulis sedang memberi pengarahan kepada siswa. Sumber : Dokumen Pribadi

Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis membuat kemampuan dasar anak meningkat. Berdasarkan data yang dipublikasikan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen, capaian kompetensi minimum literasi jenjang SD/MI turun dari 59,04 persen pada 2024 menjadi 55,7 persen pada 2025. Pada numerasi, capaian juga mengalami penurunan dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan dasar membaca dan berhitung masih membutuhkan perhatian serius.

Menurut saya, salah satu persoalannya adalah penggunaan teknologi yang belum selalu diarahkan untuk mendukung proses belajar. Anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan gawai untuk bermain gim atau menonton video, tetapi belum tentu terbiasa membaca buku atau menyelesaikan persoalan matematika. Gawai sebenarnya bukan musuh pendidikan. Masalahnya terletak pada bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana orang dewasa mendampingi anak.

Literasi juga tidak boleh dipahami hanya sebagai kemampuan membaca tulisan. Anak perlu mampu memahami isi bacaan, menemukan informasi penting, menarik kesimpulan, serta menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang dibacanya. Demikian pula numerasi bukan sekadar kemampuan menghafal perkalian atau melakukan penjumlahan. Numerasi berarti mampu menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pengarahan kepada siswa trtang pentingnya literasi, Sumber: Dokumen Pribadi

Dalam kondisi seperti ini, guru memiliki peran yang sangat penting. Pembelajaran membaca dan berhitung perlu dibuat lebih dekat dengan kehidupan anak. Misalnya, guru dapat mengajak siswa membaca cerita yang berkaitan dengan lingkungan sekitar, kemudian meminta mereka menemukan informasi penting dari cerita tersebut. Dalam pembelajaran matematika, siswa dapat diajak menghitung uang belanja, membandingkan harga barang, menghitung jarak, atau membuat perencanaan sederhana. Dengan cara tersebut, anak tidak hanya menghafal, tetapi memahami manfaat dari apa yang dipelajari.

Peran orang tua juga tidak kalah penting. Pendampingan tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Orang tua dapat membiasakan anak membaca beberapa halaman buku setiap hari, mengajak anak berdiskusi mengenai isi bacaan, atau melibatkan mereka dalam kegiatan sederhana seperti menghitung uang dan mengukur bahan ketika memasak. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membangun kemampuan dasar anak.

Oleh karena itu, solusi terhadap persoalan literasi dan numerasi bukanlah menjauhkan anak dari teknologi. Justru anak perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Teknologi dapat menjadi sumber belajar yang menarik apabila digunakan dengan tujuan yang tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan di era digital tidak seharusnya diukur dari seberapa mahir anak menggunakan gawai. Yang lebih penting adalah apakah anak mampu memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi kemampuan membaca dan berhitung tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab, anak yang mampu membaca dengan pemahaman dan berhitung dengan baik akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi dunia yang terus berubah.