Konten dari Pengguna

Saat Budaya Populer Global dan Budaya Lokal Saling Bertemu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayatul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melihat bagaimana tren global dan budaya Indonesia saling memengaruhi lewat media dan gaya hidup

Langsung saja kita tarik ke FYP, kira kira hampir segala hal tentang informasi semuanya ada di beranda internet masing masing. Kemungkinan besar ada potongan film dari berbagai negara, lagu internasional yang dipakai ribuan orang untuk konten, atau tutorial makeup yang sedang tren masa kini dengan cara kita menekan tombol putar, menyimpan lalu membagikannya dengan senang hati. Menariknya, di sela-sela itu kadang muncul juga konten dari Indonesia sendiri yang ditonton orang di belahan dunia lain. Inilah wajah globalisasi budaya, yakni ketika budaya dari berbagai tempat saling bertemu dan saling mengenalkan secara tak sadar membawa identitas negara menjadi lebih dikenal.

Apa Itu Globalisasi Budaya?

Dalam studi Hubungan Internasional, globalisasi budaya dipahami sebagai proses ketika gagasan, hiburan, gaya hidup, dan kebiasaan menyebar lintas negara, terutama berkat media dan teknologi. Prosesnya tidak selalu satu arah. Sosiolog Roland Robertson (1995) memperkenalkan istilah glokalisasi untuk menjelaskan bahwa budaya global biasanya tidak diterima begitu saja, melainkan disesuaikan dengan selera dan konteks setempat. Dengan kata lain, kita bukan sekadar penonton, tetapi juga ikut memilih, mengolah, dan menambahkan warna sendiri.

Hiburan dan Gaya Hidup

Dunia film adalah contoh yang paling mudah. Film superhero dari Hollywood seperti MCU ditonton mulai dari anak-anak hingga orang tua, tetapi daftar tontonan kita juga dapat diisi drama Korea, anime Jepang hingga film Indonesia sendiri. Di dunia musik, lagu pop internasional sering dipakai untuk konten dan terkadang melahirkan kosakata baru di kalangan Gen Z untuk menggambarkan situasi yang mereka alami sehari-hari. Di dunia fashion dan kecantikan, tren seperti gaya makeup baddie juga ikut diadaptasi lalu dipadukan dengan selera masing-masing misalnya dengan busana atau aksesori lokal.

Platform seperti Netflix, YouTube, dan Disney+ membuat semua ini makin mudah diakses. Dulu kita harus menunggu tayangan di televisi, sekarang cukup dengan membuka ponsel. Akses yang luas ini memberi kita banyak pilihan tontonan dari berbagai negara dan latar budaya.

Bahasa dan Pendidikan

Bahasa Inggris banyak dipakai sebagai bahasa pergaulan, penelitian, dan pendidikan antarnegara. Karena itu, banyak sekolah dan perguruan tinggi menyediakan kelas internasional atau program yang memakai bahasa asing dalam kegiatan belajar. Meski begitu, tetap menarik untuk menjaga kebiasaan berbahasa Indonesia supaya kemampuan bahasa asing dan bahasa sendiri bisa sama sama tercapai.

Arus Balik Budaya

Arus budaya ternyata bisa berbalik. Pada 2025, video seorang anak menari di ujung perahu dalam lomba tradisional Pacu Jalur di Riau menyebar luas di TikTok dan memicu tren "aura farming" yang ditiru banyak orang di berbagai negara, termasuk tokoh olahraga dunia (CNA Indonesia, 2025).

Di balik semua itu ada kebiasaan kita sendiri. Pada umumnya, algoritma media sosial menampilkan konten yang sering kita tonton, simpan, dan bagikan, sehingga apa yang muncul di FYP sebagian dibentuk oleh pilihan kita. Artinya, setiap penonton sebenarnya punya andil dalam menentukan tren apa yang berkembang.

Peluang dan Tantangan bagi Budaya Lokal

Terbuka nya pintu budaya global juga memberi peluang bagi budaya lokal untuk dikenal lebih luas. Seorang pengrajin cukup merekam proses kerjanya lalu videonya bisa ditonton orang dari kota lain, bahkan dari negara lain. Banyak daerah pun mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan festival, kerajinan, dan makanan khasnya, sehingga rasa penasaran orang terhadap budaya Indonesia ikut tumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa layar ponsel bisa menjadi jembatan bagi budaya. Di sisi lain, anak muda yang tumbuh dengan beragam referensi biasanya lebih terbuka untuk mencoba hal baru sehingga muncul karya yang memadukan unsur tradisi dan gaya masa kini. Perpaduan seperti ini membuat budaya lokal terasa lebih segar dan dekat dengan keseharian.

Tentu semua ini tidak berarti tanpa tantangan. Tren yang bergerak sangat cepat ini membuat sesuatu yang populer sekarang dapat saja terlupakan di minggu depan. Karena itulah budaya lokal perlu dirawat lewat kebiasaan sehari-hari. Bertemunya berbagai budaya di layar kita adalah hal yang wajar di zaman sekarang. Kita bisa menikmati film, lagu, dan tren dari mana saja sambil tetap mengenal dan membanggakan budaya sendiri.

Ilustrasi globalisasi dapat mempengaruhi segala aspek. Foto: Freepik

Referensi

CNA Indonesia. (2025, 3 Juli). Saat Travis Kelce ikut tren Aura Farming, viral berkat penari cilik Pacu Jalur Riau. https: //www.cna.id/lifestyle/viral-travis-kelce-ikut-tren-aura -farming-riau-tiktok-pacu-jalur-lomba-dayung-perahu -34946

Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-space and homogeneity-heterogeneity. Dalam M. Featherstone, S. Lash, & R. Robertson (Ed.), Global modernities (hlm. 25-44). SAGE Publications.