Konten dari Pengguna

Kenapa Anak Ilkom Jago Bicara Tapi Gagal Dalam Komunikasi Pasangan?

Yubahri

Yubahri

Mahasiswa ilmu komunikasi di universitas pamulang (unpam)

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yubahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang sedang belajar dan merenungkan tentang komunikasi dalam hubungan. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang sedang belajar dan merenungkan tentang komunikasi dalam hubungan. (Foto: Dok. Pribadi)

Ironisnya, sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, kami diajarkan cara berkomunikasi yang baik, tapi justru sering gagal saat praktik komunikasi pasangan dengan orang terdekat sendiri.

Kami paham betul teori komunikasi interpersonal. Tapi teori itu seakan lenyap ketika kami harus berhadapan dengan pasangan yang sedang marah atau butuh ditemani. Inilah ironi terbesar dalam komunikasi pasangan yang kami alami.

Penyebab Gagalnya Komunikasi Pasangan Pada Anak Ilkom

Saat pasangan curhat, otak kami otomatis membedah pesannya. Kami sibuk menganalisis cara penyampaiannya, bukan merasakan apa yang dia rasakan. Akibatnya, pasangan merasa tidak didengarkan.

Kami bisa berbicara lantang di depan 100 orang. Tapi saat harus mengungkapkan perasaan pribadi atau meminta maaf dengan tulus kepada pasangan, kami kicep. Kami takut salah diksi.

Berekspektasi Komunikasi Harus Selalu Mulus

Karena merasa belajar komunikasi, kami punya ekspektasi bahwa hubungan kami harus bebas konflik. Padahal konflik adalah bagian wajar dari komunikasi pasangan.

Pada akhirnya, kami belajar bahwa gelar Ilmu Komunikasi tidak membuat kami otomatis jago dalam komunikasi pasangan. Komunikasi pasangan bukan tentang siapa yang paling jago bicara, tapi siapa yang paling mau bertahan untuk saling memahami.

Yubahri, mahasiswa unpam, ilmu komunikasi.