Konten dari Pengguna

Membangun SDM Tangguh di Era Digital: Refleksi Hari Telekomunikasi Sedunia

Yuchi Syahriani Putri

Yuchi Syahriani Putri

Penulis, penyiar, dan mahasiswa S2 Komunikasi Pembangunan di Universitas Andalas. Suka mengulik isu-isu sosial, komunikasi partisipatif, dan kekuatan media dalam mengubah cara kita memandang dunia.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuchi Syahriani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Telekomunikasi Sedunia yang diperingati setiap 17 Mei mestinya tak hanya menjadi perayaan kemajuan teknologi komunikasi global, melainkan juga momentum untuk mengevaluasi sejauh mana akses dan pemanfaatan teknologi informasi telah berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sebab di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, tantangan klasik seperti kesenjangan digital dan ketimpangan literasi masih menjadi penghambat dalam proses pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan infrastruktur telekomunikasi memang menjanjikan. Namun, tanpa desain pelatihan yang kolaboratif dan partisipatif, teknologi bisa berakhir sebagai instrumen eksklusif yang hanya menguntungkan segelintir kelompok. Maka, perlu ada pendekatan komunikasi pembangunan yang memandang telekomunikasi tidak hanya sebagai alat untuk menyebarkan informasi, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang memungkinkan masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan membangun kapasitas bersama.

Telekomunikasi dan Komunikasi Pembangunan: Dari Akses ke Partisipasi

Sumber Gambar Ilustrasi Pribadi Hari Telekomunikasi Sedunia menggunakan AI

Komunikasi pembangunan menekankan pentingnya peran komunikasi dalam mempercepat proses pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Everett M. Rogers (1976) menggarisbawahi bahwa pembangunan tak hanya soal ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku, cara berpikir, dan relasi sosial yang terbentuk melalui komunikasi yang efektif.

Pada era digital, komunikasi pembangunan mengalami pergeseran. Dari pendekatan top-down menjadi model partisipatif berbasis media digital yang memungkinkan interaksi dua arah. Teknologi telekomunikasi membuka ruang baru untuk transfer pengetahuan, seperti platform e-learning, podcast edukatif, media sosial komunitas, dan forum virtual. Namun seperti ditegaskan Servaes (1999) dalam Communication for Development, komunikasi yang efektif menuntut bukan hanya akses, tapi juga kontrol dan keterlibatan aktif masyarakat.

Inilah mengapa pemanfaatan telekomunikasi untuk pelatihan SDM harus berbasis kolaborasi, bukan instruksi sepihak. SDM tidak cukup hanya dilatih secara daring, mereka perlu dilibatkan dalam proses desain pelatihan, penyusunan kurikulum, hingga evaluasi dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Pelatihan Kolaboratif dan SDM Inklusif

Pelatihan kolaboratif mengacu pada proses belajar yang mengedepankan interaksi antarindividu, kerja sama lintas sektor, dan pengambilan keputusan secara partisipatif. Dalam konteks komunikasi pembangunan, pelatihan ini menjadi jembatan antara teknologi dan transformasi sosial. Ia tak hanya mengembangkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat kepekaan sosial dan kesadaran kritis peserta terhadap lingkungannya.

Pendekatan ini sejalan dengan teori Constructivism Learning oleh Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk melalui interaksi sosial dan konteks budaya. Maka pelatihan berbasis teknologi pun harus memperhatikan karakter lokal, bahasa, dan struktur sosial yang membentuk pola pikir peserta. Misalnya, dalam pelatihan pertanian digital di desa, pemanfaatan video pendek atau WhatsApp group bisa lebih efektif daripada platform daring formal yang belum familiar di daerah tersebut.

Bahkan UNESCO (2021) menekankan pentingnya inclusive digital learning environments yang tidak hanya fokus pada materi, tetapi juga pada relasi sosial, aksesibilitas, dan relevansi konteks lokal. Artinya, pelatihan yang berhasil bukan hanya yang berbasis daring, tetapi yang mampu membangun ruang dialog antara fasilitator, peserta, dan teknologi.

Infrastruktur Telekomunikasi sebagai Infrastruktur Sosial

Selama ini, pembicaraan tentang telekomunikasi cenderung terjebak pada dimensi teknis: seberapa cepat jaringan internet, seberapa luas cakupan sinyal, atau seberapa mutakhir perangkat. Padahal, dalam pendekatan pembangunan manusia, telekomunikasi seharusnya diposisikan sebagai infrastruktur sosial yang membentuk ekosistem pengetahuan, interaksi, dan pengambilan keputusan masyarakat.

Ketersediaan infrastruktur ini berimplikasi besar terhadap efektivitas pelatihan SDM. Tanpa koneksi yang stabil dan terjangkau, pelatihan daring hanya akan menjangkau segelintir peserta. Tanpa pelibatan masyarakat dalam produksi konten, teknologi hanya akan menjadi saluran penghafalan, bukan penguatan kapasitas kritis.

Itulah mengapa pemerintah, lembaga pelatihan, dan penyuluh harus berpikir ulang soal strategi pelatihan berbasis teknologi. Kita memerlukan desain pelatihan yang adaptif, menjangkau, dan memberi ruang bagi komunitas untuk turut memproduksi, menyebarkan, dan mengevaluasi pengetahuan.

Sinergi Penyuluhan dan Teknologi: Peran Strategis Penyuluh di Era Digital

Dalam kerangka komunikasi pembangunan, penyuluh memiliki posisi sentral sebagai fasilitator perubahan. Namun, di era telekomunikasi modern, peran ini mengalami transformasi. Penyuluh tak lagi cukup hanya menyampaikan informasi secara lisan atau konvensional, melainkan perlu bertransformasi menjadi pengelola pengetahuan digital yang peka terhadap perubahan teknologi dan sosial.

Penyuluh masa kini dituntut menguasai media sosial, aplikasi pelatihan daring, serta metode komunikasi interaktif berbasis komunitas digital. Dengan begitu, mereka mampu menjangkau lebih banyak peserta, merespons kebutuhan lebih cepat, dan menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih demokratis.

Lebih jauh, penyuluh juga berperan sebagai jembatan antara masyarakat dengan institusi pelatihan, lembaga pemerintah, maupun pelaku industri. Dalam konteks ini, mereka berfungsi sebagai penghubung antara dunia kebijakan dengan realitas masyarakat. Sinergi antara telekomunikasi dan penyuluhan inilah yang dapat mempercepat pembangunan SDM secara berkelanjutan.

Menjadikan Telekomunikasi sebagai Pilar Pembangunan Manusia

Peringatan Hari Telekomunikasi Sedunia seharusnya mendorong kita untuk melihat teknologi komunikasi bukan hanya sebagai alat, melainkan sebagai pilar pembangunan manusia. Di era digital, pengembangan SDM memerlukan sinergi antara pelatihan kolaboratif, komunikasi partisipatif, dan teknologi yang berpihak pada masyarakat.

Dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, relevansi lokal, dan partisipasi aktif, pelatihan berbasis teknologi dapat menjadi alat transformasi sosial yang nyata. Namun untuk itu, negara dan masyarakat harus memastikan bahwa setiap warga memiliki hak dan kesempatan yang setara dalam mengakses, memahami, dan menggunakan teknologi komunikasi untuk belajar dan berkembang.

Karena pada akhirnya, teknologi yang paling canggih sekalipun tak akan berarti banyak jika tak mampu memperkuat martabat dan daya hidup manusia.

Referensi

Rogers, E. M. (1976). Communication and Development: The Passing of the Dominant Paradigm. New York: Sage Publications.

Servaes, J. (1999). Communication for Development: One World, Multiple Cultures. Hampton Press.

Schultz, T. W. (1961). Investment in Human Capital. The American Economic Review, 51(1), 1–17.

UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. Paris: UNESCO.

DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia

Sumber Gambar Ilustrasi Pribadi Hari Telekomunikasi Sedunia menggunakan bantuan AI