Perang Dagang AS-Tiongkok: Konteks dan Perkembangan

Auditor dan founder media belajar temanujian.com.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yudha Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara keseluruhan, perang dagang menciptakan ketidakpastian ekonomi global yang signifikan dan mengganggu rantai pasok yang sudah mapan, dengan dampak yang meluas melampaui AS dan Tiongkok ke negara-negara lain yang terintegrasi dalam jaringan perdagangan global.
Periode awal tahun 2025 ditandai oleh eskalasi dramatis dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang secara signifikan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Kronologi dan Sifat Eskalasi Perang Tarif
Setelah periode tarif yang relatif stabil di bawah pemerintahan Biden, pemerintahan baru Trump dengan cepat mengimplementasikan kebijakan tarif yang lebih agresif. Eskalasi terjadi dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya:
Awal Februari: Pemerintahan Trump menaikkan tarif atas barang-barang Tiongkok sebesar 10%. Tiongkok membalas dengan tarif 15% pada impor LNG dan batu bara AS.
Awal Maret: AS kembali menaikkan tarif Tiongkok sebesar 10%. Tiongkok merespons dengan menangguhkan impor kayu gelondongan AS dan memberlakukan tarif 15% pada produk pertanian AS pada 10 Maret.
Pertengahan Maret: AS memberlakukan tarif global 25% untuk impor baja dan aluminium, menghapus pengecualian sebelumnya.
Akhir Maret - Awal April: AS memberlakukan tarif 25% pada impor mobil rakitan (awalnya menunda tarif suku cadang). Kebijakan yang lebih luas diumumkan: tarif dasar 10% untuk hampir semua negara mitra dagang (efektif 5 April) dan tarif "resiprokal" tambahan yang spesifik per negara (efektif 9 April), menggunakan dasar hukum International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Total tarif efektif AS terhadap Tiongkok dinaikkan menjadi 54% atau lebih tinggi, tergantung interpretasi sumber. Penghentian fasilitas de minimis (pembebasan bea masuk untuk barang bernilai rendah) dari Tiongkok juga diumumkan, efektif Mei 2025.
Rentetan Balasan Cepat (April): Tiongkok membalas dengan tarif 34% pada 4 April. AS melakukan kontra-retaliasi dengan menambah tarif 50% atas Tiongkok pada 8 April. Kanada menerapkan tarif balasan pada 9 April. Pada 9-10 April, AS menangguhkan tarif resiprokal spesifik negara (kecuali Tiongkok) selama 90 hari untuk negosiasi, menyisakan tarif dasar 10% untuk sebagian besar negara. Namun, pada saat yang sama, AS menaikkan tarif Tiongkok hingga 125%. Tiongkok merespons dengan menaikkan tarif balasannya hingga menyamai level AS, mencapai 125% pada 11-12 April. CBP AS kemudian mengecualikan beberapa produk elektronik dari tarif resiprokal.
Pertengahan April: Laporan menyebutkan tarif AS atas barang Tiongkok mencapai 145%. Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa kenaikan tarif AS lebih lanjut akan diabaikan karena level saat ini sudah membuat impor dari AS menjadi tidak mungkin bagi pasar Tiongkok.
Eskalasi ini ditandai oleh penggunaan retorika "resiprokal" dan justifikasi keamanan nasional (IEEPA, Section 232). Meskipun awalnya berdampak luas, fokus pengetatan tarif kemudian terkonsentrasi pada Tiongkok, Kanada, Meksiko, dan barang-barang spesifik seperti baja, aluminium, dan otomotif.
Dampak terhadap Perdagangan Global dan Ekonomi Utama
Perang dagang ini menimbulkan guncangan signifikan pada sistem perdagangan global dan ekonomi negara-negara utama. Diperkirakan terjadi penurunan volume perdagangan barang global sekitar 0,2%. Gangguan nyata terjadi pada sektor-sektor spesifik:
ekspor LNG AS ke Tiongkok anjlok 70% pada Q1 2025 dan berhenti total pada Maret;
penjualan industri produk promosi menurun;
produsen ponsel pintar mempercepat produksi dan pengiriman untuk mengantisipasi tarif;
sektor otomotif menghadapi ketidakpastian; dan
Biaya pengiriman meningkat dan rute pelayaran global berubah.
Di AS, muncul kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap perusahaan domestik, kesulitan perencanaan bisnis akibat ketidakpastian tarif, dan potensi inflasi yang dibebankan kepada konsumen.
Ekonomi Tiongkok menunjukkan ketahanan di Q1 2025 dengan pertumbuhan PDB 5,4%, melampaui ekspektasi. Kinerja ini kemungkinan didukung oleh lonjakan ekspor sebelum tarif berlaku penuh dan stimulus pemerintah, termasuk subsidi untuk produk seperti ponsel pintar. Namun, prospek ke depan dinilai suram. Analis memperkirakan perlambatan signifikan akibat tarif tinggi, dengan UBS memangkas proyeksi pertumbuhan Tiongkok 2025 menjadi 3,4%. Masalah struktural seperti krisis properti dan lemahnya harga konsumen juga masih membayangi. Kinerja kuat PDB Tiongkok pada Q1, yang terjadi sebelum dampak penuh tarif 145% terasa, mungkin bersifat sementara karena adanya fenomena front-loading ekspor. Dampak sebenarnya dari kebijakan tarif yang sangat tinggi ini kemungkinan baru akan terlihat jelas pada kuartal-kuartal berikutnya di tahun 2025.
Secara keseluruhan, perang dagang menciptakan ketidakpastian ekonomi global yang signifikan dan mengganggu rantai pasok yang sudah mapan, dengan dampak yang meluas melampaui AS dan Tiongkok ke negara-negara lain yang terintegrasi dalam jaringan perdagangan global.
