Konten dari Pengguna

Ruminating, Kebiasaan yang Perlu Dihindari Saat Banyak Pikiran!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudha Putra Duanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak remaja stres dimarahi orang tua. Foto: Anatta_Tan/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak remaja stres dimarahi orang tua. Foto: Anatta_Tan/Shutterstock

Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi kebersamaan, namun ternyata dibalik kepedulian yang dirasakan, banyak dari kita yang membawa beban pikiran setelah melakukan suatu hal atau menerima suatu pendapat. Misalnya, masalah pekerjaan, dimarahi atasan, tugas kuliah, dibanding-bandingkan, atau bahkan berasal dari komentar keluarga sendiri. Hal-hal yang dicontohkan tersebut akhirnya berdampak pada pikiran kita, sehingga terus-menerus memikirkan untuk mencari solusinya.

Dalam kesehatan mental, kebiasaan memikirkan suatu emosi negatif secara terus-menerus disebut dengan 'ruminating'. Dengan itu kita terjebak dalam siklus overthinking yang tidak berujung, memikirkan salah yang dilakukan pada masa lampau tanpa ada solusi yang muncul. Ruminating dapat memicu rusaknya mental hingga menjadi pemicu stres, kecemasan, hingga depresi. Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang menimbulkan kebiasaan ini, sehingga kita perlu memperhatikan bagian yang layak untuk dipikirkan dan seharusnya tidak dihiraukan.

Beberapa budaya yang berkembang di masyarakat dapat berkontribusi dalam munculnya ruminating ini. Di Indonesia sendiri, kita biasa melihat fenomena dimana opini keluarga sangat penting untuk dipertimbangkan, adanya tekanan sosial, tuntutan harapan yang tinggi, dan keputusan pribadi untuk kedepannya sering bergantung pada penilaian orang lain. Sehingga kita seringkali terikat pada apa yang menjadi harapan orang lain.

Ruminating dapat kita hindari dengan mengubah perspektif terhadap suatu masalah, salah satunya dengan melihat apakah hal tersebut memang memiliki pengaruh yang besar atau tidak kepada kita. Kita juga bisa tidak merespon hal-hal yang dirasa tidak perlu, atau bahkan tidak berdampak sama sekali dengan kelangsungan hidup. Selain itu menulis juga jadih salah satu alternatif buat menumpahkan semua isi pikiran, dengan begitu setidaknya mengurangi beban pikiran yang terus-menerus dipikirkan.

Sebagai manusia yang pada dasarnya adalah makhluk sosial, menjaga hubungan dengan manusia lainnya adalah hal yang penting. Namun, kita juga harus memperhatikan hubungan dengan diri sendiri. Dengan cara tidak menyiksa diri melalui beban pikiran yang berlebihan. Sehingga dengan itu, kesehatan mental yang dibutuhkan oleh diri kita akan dapat tumbuh dengan lebih baik.