Di Dalam Kesendirian

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yuda Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang pernah mampir ke dalam pikiranku di suatu malam yang sunyi: apakah aku kesepian? Pertanyaan itu datang begitu saja. Bukan karena aku merasa kehilangan seseorang. Bukan pula karena hidup sedang sepi dari aktivitas. Tapi karena aku menyadari, aku memang sering sendiri. Dan aku mulai bertanya, apa itu artinya aku kesepian? Ternyata, jawabannya tidak. Aku tidak merasa kesepian. Malah, aku merasa sangat damai. Kesendirian, buatku, adalah ruang yang luas. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa gangguan, tanpa penilaian, tanpa perlu menjelaskan siapa aku atau kenapa aku memilih diam. Di dalam kesendirian itu, aku merasa bebas. Bebas untuk melakukan apa pun, dan bebas untuk tidak melakukan apa pun juga. Saat sendiri, aku bisa bermain musik tanpa harus didengar siapa-siapa. Bisa membaca buku sampai lupa waktu. Bisa duduk diam sambil memperhatikan detak jam dan suara angin dari jendela yang sedikit terbuka. Hal-hal sederhana yang, entah mengapa, terasa begitu hidup. Aku suka bilang pada teman-teman kalau aku ini sibuk. Tapi kesibukanku sering kali hanya sibuk menikmati waktu kosong. Sibuk tidak menjawab pesan. Sibuk menenangkan pikiran. Sibuk melihat langit berubah warna. Sibuk mendengarkan diriku sendiri. Dan di saat-saat itu, aku merasa sedang menjalani hidup dengan cara yang paling jujur. Banyak orang takut dengan kesendirian. Takut merasa sepi, takut merasa tidak berarti. Karena dalam diam, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri, dengan suara-suara di kepala, dengan perasaan yang selama ini kita coba hindari. Maka tidak heran jika banyak yang lari ke keramaian. Mengisi waktu dengan pertemuan demi pertemuan. Obrolan yang tak pernah benar-benar dalam, tawa yang tak selalu lahir dari hati. Padahal, kesepian bisa datang justru saat kita dikelilingi orang. Kita bisa merasa sangat sendiri di tengah banyak suara. Aku belajar bahwa kesepian sebenarnya bukan karena kita tidak punya teman, pasangan, atau keluarga. Kesepian muncul ketika kita kehilangan koneksi dengan kenyataan. Ketika kita tidak benar-benar hadir di dalam hidup kita sendiri. Ketika kita terlalu sibuk berada di masa lalu, menyesali, atau terlalu jauh berada di masa depan, mencemaskan. Kita jadi terputus dari saat ini, dari detik ini. Dan dalam keterputusan itu, lahirlah rasa sepi yang sesungguhnya. Kadang, kita terlalu terikat pada identitas. Sebagai siapa, dari mana, apa pekerjaan kita, bagaimana kita dilihat orang. Dan ketika semua itu terguncang, kita merasa kehilangan arah. Padahal, jauh di dalam diri, ada sesuatu yang tetap. Sesuatu yang tidak berubah walau dunia di luar berubah. Itulah diri sejati yang kadang hanya bisa kita temui ketika kita sendiri. Kesepian juga tumbuh dari pikiran yang menciptakan jarak. Seolah kita ini terpisah dari dunia, dari orang lain, dari semesta. Tapi jika kita duduk diam dan memperhatikan, perlahan kita sadar bahwa semuanya saling terhubung. Tidak ada yang benar-benar terpisah. Kita adalah bagian dari kehidupan, sama seperti angin, pohon, awan, dan cahaya pagi. Tapi untuk bisa menyadari itu, kita perlu hening. Perlu diam. Perlu berani tinggal di dalam sunyi. Ada orang yang karena terluka atau kecewa, lalu memilih menjauh dari dunia. Menarik diri. Menutup pintu. Tapi ketika itu berubah jadi isolasi yang terus-menerus, rasa sepi bisa berubah jadi beban yang berat. Lalu kita mulai mencari jalan keluar. Kita mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan itu. Dengan belanja, makanan, rokok, hiburan, atau apa pun yang bisa membuat kita lupa. Tapi semua itu hanya menenangkan sementara. Karena yang sebenarnya kita cari bukan hiburan, melainkan kedamaian. Dan kedamaian itu tidak datang dari luar. Ia datang saat kita berhenti melarikan diri. Saat kita mulai berdamai dengan diam. Saat kita hadir sepenuhnya di sini dan sekarang. Ketika aku benar-benar hadir, saat itulah kesendirian berhenti menjadi beban. Ia berubah jadi pelukan yang lembut. Sunyi tidak lagi terasa menakutkan. Ia menjadi rumah. Rumah yang tidak ramai, tapi hangat. Tidak penuh suara, tapi penuh makna. Aku merasa cukup. Tidak karena semuanya sempurna, tapi karena aku bisa melihat dan merasakan kehidupan sebagaimana adanya. Aku merasa berada di tempat yang tepat, di waktu yang tepat. Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu mencapai apa-apa. Hanya menjadi, dan itu sudah cukup. Jadi, jika kamu sedang merasa sepi, mungkin ini saatnya untuk tidak buru-buru mencari pengalih perhatian. Coba duduk sebentar. Dengarkan sunyi yang ada. Mungkin, di sana ada sesuatu yang ingin kau dengar. Sesuatu dari dalam dirimu sendiri. Dan mungkin, dari sana, kamu bisa mulai pulang. Pulang ke dirimu. Pulang ke hidup yang tak pernah benar-benar pergi.
