Konten dari Pengguna

Gosip Hidup di Kepala Kosong

Yuda Saputra

Yuda Saputra

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuda Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gosip (Sammy-Sander/Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Gosip (Sammy-Sander/Pixabay)

Gosip itu tidak pernah muncul tiba-tiba. Ia selalu punya akar—biasanya dari rasa iri, benci, atau keinginan untuk terlihat lebih baik dari orang lain. Dan dari sanalah ia tumbuh: perlahan, diam-diam, lalu menyebar jadi cerita yang dibisikkan di sudut-sudut ruangan, grup WhatsApp, atau kolom komentar media sosial.

Yang sering terlupa, gosip bukan cuma soal cerita. Ia adalah cara sebagian orang merasa punya kuasa: dengan menyebar kabar yang belum tentu benar, mereka bisa “mengendalikan” citra orang lain. Di tempat-tempat yang miskin budaya berpikir, gosip bahkan jadi hiburan murah meriah—pengganti logika, pengalih dari fakta.

Sayangnya, gosip bisa berkembang cepat karena satu alasan: ada banyak kepala yang malas berpikir. Orang tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” tapi langsung ikut menyebarkan. Mereka lupa, setiap cerita yang kita teruskan tanpa tahu kebenarannya bisa jadi menyakiti hidup seseorang. Dan lebih dari itu—kita pun sedang jadi bagian dari kebohongan bersama.

Tapi, gosip punya batas umur. Ia langsung mati ketika bertemu orang yang tahu cara menyaring. Bukan karena mereka tidak dengar, tapi karena mereka tahu: tidak semua yang terdengar perlu diteruskan. Orang bijak tidak mudah diperalat oleh emosi sesaat atau omongan yang setengah jadi. Mereka tahu, dalam dunia yang bising seperti sekarang, diam kadang lebih bijak daripada ikut menyuarakan yang salah.

Di zaman media sosial seperti hari ini, di mana gosip bisa viral dalam hitungan detik, kemampuan untuk berpikir jernih jadi semakin penting. Menolak menyebarkan kabar burung bukan cuma soal etika—itu soal kewarasan. Kita butuh lebih banyak orang yang berani bilang, “Tunggu dulu, ini sudah dicek belum?”

Karena kalau kita terus biarkan gosip beranak-pinak, cepat atau lambat kita semua akan jadi korbannya. Tapi kalau kita mulai berhenti jadi penyambung lidah gosip, maka satu demi satu rantainya akan putus. Dan pelan-pelan, gosip akan kehilangan tempat tinggalnya.

Ia mati bukan karena tak terdengar, tapi karena tak diberi ruang untuk hidup.