Konten dari Pengguna

Kecemasan Sosial Manusia Modern

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudhi Hertanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock

Berdebar! Rasa cemas akan situasi masa depan yang tidak terbayangkan, menjadi santapan harian manusia modern. Volatilitas ekonomi, teknologi dan kehidupan sosial, mengalir dari dunia nyata hingga ke jagat maya. Hari esok dipandang bak ancaman, ketimbang janji yang membahagiakan.

Reaksi umum dari kecemasan, adalah dengan mencari jawaban instan. Termasuk menemukan ruang pelarian diri, dengan tenggelam dalam pekerjaan melelahkan, bahkan memburu stimulasi hiburan tanpa henti, sisanya mengambil kesimpulan mengenai malafungsi mental.

Budaya populer memperlakukan kegelisahan, sebagai anomali medis atau defisit biologis, yang perlu diredam melalui intervensi psikofarmakologi (Yalom, 1980). Padahal, ketika kecemasan melanda serempak pada lokus populasi, maka persoalan tersebut bukan sekadar urusan klinis personal, melainkan tanda krisis eksistensial dan problem sosial yang lebih luas.

Dengan begitu, diperlukan perspektif alternatif, bila kecemasan bukanlah musuh yang patut disingkirkan, melainkan kompas kejujuran yang menyingkap ringkihnya manusia di dunia.

Beban Kebebasan

Søren Kierkegaard (1980) membedah kecemasan pada akar hakikatnya, berasal dari kesadaran akan kebebasan. Berbeda dengan makhluk lain yang dipandu determinisme naluriah, manusia terberkahi sekaligus dibebani dengan ruang kemungkinan.

Kierkegaard mengibaratkan kecemasan, bagaikan rasa pusing yang melanda saat berdiri di pinggir jurang: perasaan kepala berputar, hadir bukan karena ada pemicu, melainkan karena sadar memiliki kebebasan mutlak untuk melangkah maju ataupun mundur.

Dalam dinamika sosial, pusaran kebebasan terbentuk dalam wujud dunia kerja yang rapuh (gig economy). Situasi tersebut selaras konsep keterlemparan (geworfenheit) Martin Heidegger (1962): manusia mendapati dirinya terlempar ke dalam pusaran ekonomi pasar dengan fleksibilitas tak terbatas, tanpa memberi kepastian atau jaminan stabilitas hidup.

Generasi sekarang, menjadi arsitek tunggal atas nasibnya berdoktrin prestasi (Han, 2015). Ironisnya, ketika sistem tidak menyediakan ruang aman, kegagalan diinternalisasi sebagai aib atau ketidakmampuan personal. Kebebasan memilih akhirnya tidak membebaskan, melainkan memicu paralisis kerja, kelelahan kronis (burnout), dan rasa bersalah berkepanjangan.

Topeng Digital

Ketika rasa pusing akibat ketidakpastian kian berat, dorongan alamiahnya dengan mencari persembunyian. Heidegger (1962) menyebut sebagai das Man -kerumunan massa publik yang anonim. Agar terhindar dari rasa cemas, individu memilih mengikuti yang dilakukan orang banyak: mengejar trend atas standar kemapanan, serta larut dalam obrolan hampa (gerede).

Di era digital, jebakan ini disempurnakan melalui arsitektur media sosial. Demi mengamankan pengakuan publik dan meredam ketakutan ketertinggalan (fear of missing out), individu memoles topeng sosial (persona) secara berlebihan. Keberhasilan finansial, keharmonisan, dan gaya hidup ideal dipamerkan di etalase virtual.

Konsekuensinya, relasi antarmanusia terdegradasi menjadi arena perbandingan: saling mengkurasi citra, sembari diam-diam merasa kian kerdil dan cemas akan nilai diri sendiri.

Bayangan Kolektif

Kecemasan sosial yang selalu dipendam, di balik topeng performatif tidak pernah lenyap. Analisis Carl Gustav Jung (1969), setiap aspek ketakutan, kerapuhan, kegagalan, dan ketidakpastian yang ditekan oleh kesadaran, akan menumpuk di wilayah bawah sadar, membentuk entitas psikis yang disebut shadow (bayang-bayang).

Ketika ketidakpastian zaman menghimpit, dan individu tidak sanggup menanggungnya, energi shadow meletus keluar melalui mekanisme proyeksi psikologis ke ranah sosial. Mekanisme pertahanan ini, menjelaskan mengapa ruang publik dipenuhi kemarahan yang mudah tersulut.

Saat masyarakat mencemaskan masa depan, ego komunal secara defensif mengalihkan rasa takut dengan mencari kambing hitam: kelompok etnis minoritas, kubu politik berlawanan, atau generasi berbeda pandangan. Maraknya perundungan massal (cancel culture) dan polarisasi, agresi verbal menjadi katarsis palsu untuk melampiaskan ketidakberdayaan batin.

Dalam perspektif Zygmunt Bauman (2000) kondisi itu diperparah modernitas cair (liquid modernity). Hubungan personal menjadi rapuh, transaksional, dan mudah diputuskan. Getasnya ikatan sosial melahirkan epidemi kesepian (loneliness epidemic), dimana individu merasa terisolasi di keramaian digital, enggan mengambil risiko emosional dalam komitmen.

Merajut Keberadaan

Dengan melihat dampak destruktif pelarian dari ketidakpastian, lalu apa jalan keluar yang masih tersisa? Rollo May (1996) menyebut langkah awal penyelamatan diri, adalah dengan membedakan secara jujur antara kecemasan normal dan kecemasan neurotik.

Kecemasan normal adalah kegelisahan proporsional, tatkala nilai inti yang menyusun keberadaan kita ditantang perubahan zaman. Respons ini sehat, karena berfungsi sebagai alarm kesadaran yang menuntut kepekaan moral. Kemudian, kecemasan bermutasi menjadi racun (neurotik), tatkala menyangkalnya lewat konformisme buta atau kepasrahan fatalistik.

Jawaban atas ketidakpastian masa depan, bukanlah ilusi kontrol teknokratis yang terprediksi matematis (Beck, 1992), melainkan melalui rumusan May (1975) dan Paul Tillich (1952) sebagai keberanian untuk mengada (the courage to be). Keberanian sejati bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan tekad untuk terus melangkah maju, menegakkan komitmen etis, mencipta makna di tengah hidup yang fana dan sarat risiko.

Secara praksis, dibutuhkan langkah pemulihan, (i) kejujuran batin untuk mengakui batas kemampuan diri, (ii) emansipasi agensi dengan mengubah sikap dan respon tindakan pada berbagai realitas, (iii) membuka ruang dialogis dalam interaksi tulus tanpa topeng citra.

Hari esok memang tidak pernah menjanjikan garansi kemudahan. Kecemasan bukanlah aib, melainkan bukti bahwa nurani masih berfungsi. Dibanding menempatkan kegelisahan menjadi sarana permusuhan sosial, maka dapat dilatih untuk membangun sifat kerendahan hati.

Pada akhirnya, perlu disadari bahwa semua orang memikul ketakutan yang serupa di hadapan masa depan, sehingga kecemasan tidak lagi mengasingkan diri dalam kesendirian, melainkan bertransformasi sebagai jembatan empati untuk saling menguatkan. Bersahabatlah!