Kompas Kemanusiaan Menolak Kalah

Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yudhi Hertanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia kontemporer, berada di pusaran disrupsi eksistensial yang luar biasa akut. Manusia modern tampak makin makmur secara digital, tetapi kian terasing spiritual dan struktural. Menghadapi patologi sosial kompleks, angka statistik atau analisis ekonomi sering terasa kering serta gagal menangkap situasi kebatinan mendalam dari kondisi kemanusiaan.
Perlu perspektif jernih, untuk merefleksikan diri. Di sinilah jangkar sastra lintas zaman, Victor Hugo, Ernest Hemingway, dan Milan Kundera, hadir menawarkan sebuah kotak panduan darurat bagi jiwa manusia modern yang tersesat.
Perjalanan ini dimulai, dengan konsep Guy Standing mengenai kelas sosial baru yang rentan: prekariat. Kategorinya pekerja industri kreatif, buruh kontrak, dan pekerja platform digital (gig economy), yang hidup tanpa: jaminan kesehatan, kepastian upah, masa depan (Standing, 2011).
Kondisi precariat, adalah wajah modern dari gambaran Victor Hugo dalam Les Misérables, pada abad ke-19. Hugo secara brilian, membongkar bagaimana institusi formal dan hukum yang kaku sering bekerja sama secara sistemik untuk memiskinkan manusia dan merenggut martabatnya.
Ketika hukum ditegakkan secara buta tanpa empati radikal, maka berubah menjadi alat represi yang mendehumanisasi manusia (Williams, 1977). Karakter Javert, sipir hukum yang kaku dalam novel Hugo, mewujud nyata dalam bentuk kebijakan represif penataan kota terhadap pedagang kecil, penggusuran ruang hidup demi akumulasi modal, atau regulasi yang memihak pada korporasi ketimbang hak dasar pekerja (Foucault, 2003).
Tesis Hugo mengingatkan dengan tegas: keadilan sosial dan hukum harus didasarkan pada persaudaraan universal (fraternité) dan perlindungan terhadap kelompok marginal.
Ketabahan Nelayan Tua
Ketika struktur sosial menekan dari luar, sistem budaya kerja modern perlahan meracuni psikis dari dalam. Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai burnout society (Han, 2015). Kita tidak lagi dipaksa bekerja oleh majikan yang membawa cambuk, melainkan sukarela mengeksploitasi diri demi mengejar ilusi produktivitas tanpa batas, metrik pencapaian, dan validasi palsu media sosial. Hasilnya kelelahan mental massal dan kehilangan makna eksistensial (Santoso, 2023).
Dalam lanskap mental yang rapuh, etika kepahlawanan stoik Ernest Hemingway menemukan signifikasi. Sosol nelayan tua Santiago dalam The Old Man and the Sea, menjadi metafora sempurna bagi manusia modern (Hemingway, 1952). Santiago berlayar sendirian di tengah samudera luas yang acuh tak acuh, bertarung sekuat tenaga melawan ikan raksasa dan hiu pemangsa, hanya untuk pulang membawa kerangka ikan yang kosong.
Banyak dari kita yang merasa seperti Santiago: telah mengerahkan seluruh energi dan kesehatan mental dalam sistem kerja kompetitif, namun sering harus pulang dengan tangan hampa. Hemingway menitipkan pesan menolak keputusasaan: "Man is not made for defeat. A man can be destroyed but not defeated".
Melalui prinsip ketabahan dalam tekanan ekstrem (grace under pressure), Hemingway mengajukan format agensi individu radikal (Wibowo, 2021). Kita dituntut untuk membangun benteng batin kokoh (Sartre, 1943). Di era neoliberal, menjaga kewarasan, mempertahankan integritas, dan menghargai diri sendiri di tengah kegagalan sistemik adalah tindakan perlawanan politik yang nyata.
Gimmick Politik
Dimensi ketiga krisis modernitas, adalah pertempuran atas informasi dan kebenaran. Kehidupan era pasca-kebenaran (post-truth), di mana algoritma media sosial sengaja dirancang memanipulasi emosi primitif, mengaburkan fakta objektif, dan menciptakan polarisasi (Hardiman, 2020). Kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) mengontrol perilaku dengan mendikte apa yang harus kita ingat, dan apa yang harus kita lupakan (Zuboff, 2019).
Milan Kundera, melalui The Book of Laughter and Forgetting, memberi peringatan epistemologis: perjuangan manusia melawan kekuasaan, adalah perjuangan memori melawan pelupaan (Kundera, 1979). Penguasa modern, tidak menindas dengan menghapus buku fisik, melainkan membanjiri informasi superfisial, cepat berubah, dan menghibur hingga amnesia sejarah kolektif.
Kondisi diperparah oleh yang disebut Kundera sebagai kitsch politik, sebuah simplifikasi estetis yang menuntut harmoni palsu dan menolak bentuk pemikiran kritis mendalam (Kundera, 1984). Dalam panggung politik kontemporer, kitsch mewujud nyata berbentuk populisme digital (Sudjatmoko, 2024). Para pemimpin politik gemar memproduksi gimmick jenaka dan citra media sosial menggemaskan demi menutupi borok kebijakan ekonomi-politik korup (Wijaya, 2025).
Siapa pun yang mencoba mengajukan kritik substantif, akan diredam pasukan siber (buzzers) atau dikucilkan dalam pusaran budaya pengucilan (cancel culture). Kundera mengingatkan bahwa ketika publik kehilangan kemampuan melihat nuansa dan kedalaman makna, kebebasan berpikir manusia sedang mati perlahan di bawah totalitarianisme mental yang seragam (Said, 1994).
Merajut Segitiga Kemanusiaan Kontemporer
Integrasi konsep menghasilkan rumusan utuh, segitiga kemanusiaan kontemporer. Krisis manusia modern, tidak bisa diselesaikan secara parsial. Gerakan reformasi sosial, yang berfokus pada perombakan struktur hukum dan ekonomi ala Victor Hugo, akan menjadi rapuh dan mudah patah jika individu tidak memiliki ketangguhan mental dan integritas batin stoik seperti Hemingway.
Sebaliknya, memperkuat ketahanan mental individu melalui meditasi atau kelas motivasi (self-help) ala Hemingway, akan menjadi gerakan egois dan menipu jika kita bersikap abai terhadap ketimpangan kelas yang menindas. Terakhir, baik perjuangan struktural maupun ketahanan batin, akan mudah dimanipulasi oligarki jika kehilangan jernihan intelektual dan kesadaran kritis dalam merawat memori sejarah seperti diperingatkan Kundera.
Berhenti menjadi konsumen pasif, dari sistem modern yang mendehumanisasi. Bergerak serentak: mendorong perbaikan sistem hukum dan ekonomi berpihak kelompok marjinal (Hugo), merawat ketangguhan batin dari dikte metrik produktivitas (Hemingway), serta menjaga kewarasan intelektual dengan berani menolak pembodohan berbasis pencitraan digital dangkal (Kundera). Hanya dengan cara demikian, manusia modern dapat memenangkan kembali martabat kemanusiaannya. Jangan terlambat!
