Napas yang Terbelah

Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yudhi Hertanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menghirup udara jernih adalah hak biologis paling purba, intim, dan demokratis yang dimiliki manusia. Dimulai sejak tangisan pertama seorang bayi lahir ke dunia, hingga embusan napas terakhir manusia, udara adalah medium penyambung kehidupan tidak mengenal sekat kasta. Di era kontemporer, kemurnian hak tersebut telah retak.
Di bawah kepungan polusi udara pekat, dan pemanasan global kian ekstrem, napas tidak lagi demokratis. Langit abu-abu metropolitan membara, menjadi sebuah monumen visual nyata: udara bersih telah berubah dari hak publik menjadi komoditas mahal.
Krisis lingkungan, tidak bisa dipandang sekadar sebagai anomali cuaca atau kalkulasi angka meteorologi. Fenomena krisis iklim, adalah realitas sistemik yang merusak tubuh manusia secara asimetris, melahirkan ketimpangan sosial, dan menggugat etika relasi dengan alam semesta.
Tubuh sebagai Arena Ketimpangan
Dalam diskursus sosiologi kesehatan, penyakit bukanlah peristiwa biologis acak. Tubuh manusia adalah peta sosial, yang merekam dengan jelas dimana posisi kelasnya berada. Ketika gelombang panas mendera bumi, dampaknya tidak terdistribusi merata. Laporan Lancet Countdown (Romanello dkk., 2024) menunjukkan potret kerentanan lebih tinggi dialami bayi dan lansia.
Sesuai sosiologi, perlu telaah melampaui statistik demografis. Di hari yang membara, kelompok menengah atas menekan tombol pendingin ruangan (air conditioning) dengan filter partikulat udara. Sebaliknya, bagi kelompok marjinal dan informal, menghentikan aktivitas fisik di luar ruangan berarti menghentikan kepulan asap di dapur mereka.
Lebih jauh dari Lancet Countdown, mencatat pada 2023 saja, Indonesia kehilangan potensi 27,4 miliar jam kerja akibat paparan panas ekstrem. Hal tersebut setara dengan nilai pendapatan nasional yang mencapai USD 21,7 miliar, bukan kerugian nominal makro, melainkan bentuk nyata dari structural violence. Karena, kelompok rentan dan marjinal mengabsorbsi dampak perubahan iklim di garis depan, serta menerima penderitaan fisik dan ekonomi paling parah.
Hubris Era Antroposen
Secara filosofis, krisis kesehatan akibat perubahan iklim berakar dari hubris, keangkuhan eksistensial manusia modern. Kita hidup di era Antroposen, epos geologis di mana manusia menobatkan diri sebagai penakluk tunggal alam. Logika kapitalisme industri, mendewakan pertumbuhan ekonomi tanpa batas, mereduksi alam semesta menjadi komoditas eksploitatif.
Tragedi polusi udara Jakarta 2023, yang dipicu oleh akumulasi emisi transportasi darat (44%), sektor industri manufaktur (31%), dan kepungan PLTU batu bara, diperparah secara dramatis kehadiran El Niño. Hal tersebut, bentuk riil dari keserakahan antropogenik berinteraksi dengan anomali alam, menciptakan perangkap ekologis mematikan.
Ketika terjadi kehilangan 29,5 juta hektare tutupan hutan, antara 2001-2022, setara 18% luas hutan nasional, tidak hanya menyoal kehilangan pepohonan. Secara filosofis, telah terdegradasi jaringan kehidupan (web of life), yang mengikat kelangsungan hidup manusia. Kehilangan penyerap karbon alami, mempercepat pemanasan global, memicu kebakaran hutan, melepas partikulat beracun, meningkatkan risiko alergi, dan mempermudah lompatan patogen ke manusia (spillover zoonosis).
Epidemi yang Mengintai
Dampak dari runtuhnya pertahanan ekologis, terlihat pada organ pernapasan. Dinas Kesehatan Jakarta mencatat, beban morbiditas pneumonia atau radang paru pada balita sangat signifikan, dengan puluhan ribu kasus dilaporkan. Balita memiliki kerentanan patofisiologis khas, karena laju pernapasan yang lebih cepat dan sistem imun yang belum sempurna.
Ketika polusi udara ekstrem dari El Niño, berpadu dengan tingginya kelembapan musiman yang merangsang pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae, paru-paru balita menjadi benteng pertahanan yang rapuh. Di sisi lain, perubahan iklim secara sistematis mengubah peta epidemiologi penyakit menular. Kesesuaian iklim untuk transmisi virus Dengue (DBD) nyamuk Aedes aegypti meningkat 13%. Alam sedang sakit, melahirkan populasi rentan terhadap penyakit.
Transformasi global, meninggalkan luka pada kesehatan jiwa kolektif. Berdasarkan Milva dkk. (2021), terdapat korelasi psikologis antara kerusakan lingkungan dan kesehatan mental: 60% responden melaporkan gejala kecemasan, atau depresi pasca-bencana iklim. Disebut eco-anxiety, dan kesedihan lingkungan (ecological grief). Bentuk cemas dan duka eksistensial mendalam, ketika ruang hidup perlahan rusak. Kehilangan rasa aman, dan identitas kultural lintas generasi.
Menuju Eco-Justice
Menghadapi krisis multidimensional, pendekatan medis-klinis konvensional tidak cukup. Penyembuhan pasien ISPA, tidak bisa dengan resep obat atau masker, lalu membiarkan kembali menghirup polusi udara beracun yang sama. Dibutuhkan obat struktural, yang menyasar langsung kekuatan penggerak (driving force).
Perlu reformasi kebijakan progresif. Subsidi energi kotor fosil, yang dinikmati industri ekstraktif, harus dialihkan untuk membiayai program adaptasi kesehatan masyarakat. Anggaran tersebut, dapat digunakan memperkuat fasyankes primer, menyubsidi teknologi penyaringan udara fasilitas umum, serta mendanai program transisi energi bersih.
Dibutuhkan integrasi sistem informasi lintas sektoral. Sinergi data meteorologi BMKG dan data epidemiologi Kementerian Kesehatan, membangun platform peringatan dini berbasis kecerdasan buatan. Deteksi dini, memungkinkan langkah antisipasi di hulu, sebelum krisis kesehatan di hilir.
Penguatan perspektif filosofis, yang menyadari bahwa kesehatan manusia tidak terpisahkan dari kelestarian ekosistem. Harus diakhiri keangkuhan era Antroposen, dan belajar kembali hidup berdampingan secara harmonis, dengan batasan ekologis bumi.
Jika setiap hembusan napas adalah pinjaman dari atmosfer, maka menjaga kesehatan bumi bukanlah pilihan moral sukarela. Melainkan opsi tunggal, untuk mempertahankan eksistensi kemanusiaan itu sendiri.
