Konten dari Pengguna

Air Bisa Jadi Alasan Konflik? India–Pakistan Kasih Contohnya

Yudhistiro Adhi Permono

Yudhistiro Adhi Permono

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudhistiro Adhi Permono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sungai Indus, menjadi titik krusial dalam hubungan India dan Pakistan. Gambar dibuat oleh AI.
zoom-in-whitePerbesar
Sungai Indus, menjadi titik krusial dalam hubungan India dan Pakistan. Gambar dibuat oleh AI.

Air sering dianggap sebagai sumber kehidupan. Namun, di beberapa bagian dunia, air justru bisa menjadi alasan konflik. Hubungan antara India dan Pakistan menunjukkan bagaimana aliran sungai tidak hanya membawa kehidupan, tetapi juga ketegangan di antara kedua negara.

Titik krusial dari hubungan kedua negara ini terletak pada Sungai Indus, sumber air utama yang menopang kehidupan jutaan orang. Sungai ini mengalir dari wilayah India menuju Pakistan, menciptakan ketergantungan yang tidak seimbang: satu negara berada di hulu, sementara yang lain bergantung di hilir. Pada kondisi seperti ini, air tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan berubah menjadi instrumen strategis.

Di sinilah konsep water security menjadi relevan. Secara sederhana, water security merujuk pada kemampuan suatu negara untuk memastikan ketersediaan air yang cukup, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakatnya. Ketika akses terhadap air terancam, baik karena faktor alam, pembangunan, maupun keputusan politik negara lain, maka stabilitas nasional ikut dipertaruhkan.

Bagi Pakistan, aliran Sungai Indus adalah tulang punggung pertanian dan sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduknya. Sementara bagi India, pemanfaatan air di wilayah hulu merupakan bagian dari kebutuhan pembangunan, termasuk untuk energi dan irigasi. Ketegangan muncul ketika kepentingan domestik satu negara berpotensi mengurangi rasa aman negara lain terhadap akses airnya.

India dan Pakistan memiliki mekanisme kerja sama melalui Indus Water Treaty yang ditandatangani pad atahun 1960. Secara sederhana, perjanjian ini membagi enam sungai utama di kawasan Indus menjadi dua bagian. India diberikan hak atas tiga sungai di bagian timur, sementara Pakistan mengelola tiga sungai di bagian barat yang menjadi sumber utama bagi pertanian dan kebutuhan domestiknya. Pembagian ini dirancang agar masing-masing negara memiliki kepastian akses terhadap air, sehingga risiko konflik bisa ditekan.

Yang menarik, perjanjian ini tidak hanya mengatur pembagian air, tetapi juga menyediakan mekanisme komunikasi dan penyelesaian sengketa. Bahkan ketika India dan Pakistan terlibat perang di masa lalu, kerja sama teknis terkait air tetap berjalan. Hal ini membuat Indus Waters Treaty sering dianggap sebagai salah satu contoh paling berhasil dari diplomasi sumber daya alam.

Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut mulai menghadapi tantangan baru. India, sebagai negara di hulu, memiliki ruang untuk membangun proyek-proyek seperti bendungan dan pembangkit listrik tenaga air. Meskipun secara formal masih dalam koridor perjanjian, langkah ini kerap menimbulkan kekhawatiran di Pakistan.

Bagi Pakistan, setiap perubahan aliran air bisa berdampak besar terhadap pertanian, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi. Di sinilah konsep water security kembali terasa nyata: bukan hanya soal siapa yang punya air, tetapi siapa yang merasa aman terhadap akses air tersebut.

Kasus India–Pakistan menunjukkan bahwa konflik di masa depan tidak selalu dipicu oleh perebutan wilayah atau sumber energi seperti minyak. Air yang selama ini dianggap melimpah dan “netral” ternyata memiliki potensi yang sama besar untuk memicu persaingan, bahkan konflik.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi bagaimana negara-negara mampu mengelolanya secara adil dan berkelanjutan. Sebab tanpa itu, air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru bisa berubah menjadi sumber ketegangan yang tak terhindarkan.