Mahasiswa KKN UNS Kembangkan Abon Ikan, Berdayakan Ibu-Ibu Lewat Produk Lokal

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yudhistiro Adhi Permono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dari kelompok 220 menghadirkan inovasi produk lokal berupa abon ikan di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur. Program ini ditujukan untuk memberdayakan ibu-ibu Desa Pasir Panjang agar mampu mengolah potensi hasil laut menjadi produk bernilai jual tinggi.
Pulau Rinca di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di wilayah Taman Nasional Komodo. Selain wisata, masyarakat setempat juga menggantungkan hidup dari laut. Melimpahnya hasil tangkapan ikan menjadi peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Dari sinilah mahasiswa UNS menghadirkan program kerja pelatihan pembuatan abon ikan sebagai solusi inovatif sekaligus langkah nyata mendukung ekonomi keluarga di Pulau Rinca.
Dalam program kerja ini, mahasiswa KKN UNS kelompok 220 tidak hanya memperkenalkan cara mengolah ikan menjadi abon, tetapi juga memberikan pelatihan mengenai pengemasan dan strategi pemasaran. Ibu-ibu yang menjadi peserta diajak mempraktikkan langsung mulai dari tahap pemilihan bahan baku, proses pengolahan, sampai menghasilkan abon yang siap dikemas. Menariknya, beberapa peserta sudah memiliki keterampilan dasar dalam membuat abon. Dengan begitu, ibu-ibu yang sudah memiliki keterampilan dasar tersebut bisa menjadi mentor bagi anggota kelompok lain yang masih belajar maupun bertukar ilmu dengan mahasiswa KKN UNS.
Setelah abon berhasil diproduksi, peserta pelatihan diajarkan keterampilan tambahan berupa teknik pengemasan yang baik agar produk lebih tahan lama dan aman dikonsumsi. Tak berhenti di situ, ibu-ibu juga mendapat materi mengenai pemasaran, termasuk cara menentukan harga pokok penjualan (HPP). Perhitungan HPP ini penting agar mereka bisa menjual produk dengan harga yang wajar, tetap kompetitif di pasar, sekaligus tetap memperoleh keuntungan.
Program inovasi abon ikan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca. Ibu-ibu mengaku terbantu dengan adanya pelatihan karena tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membuka peluang nyata untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Bahkan, beberapa ibu sudah menyatakan keinginan untuk mencoba memasarkan abon ikan ke sejumlah titik wisata di sekitar Pulau Rinca agar bisa langsung menjangkau wisatawan.
Melalui program inovasi abon ikan ini, mahasiswa KKN UNS Kelompok 220 berhasil menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari potensi lokal yang sederhana namun bernilai tinggi. Dengan keterampilan mengolah ikan, kemampuan pengemasan, hingga strategi pemasaran yang kini dimiliki ibu-ibu, Pulau Rinca tidak hanya dikenal sebagai rumah Komodo, tetapi juga berpotensi melahirkan produk kuliner khas yang mampu menarik wisatawan. Program ini menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik dan masyarakat bisa melahirkan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.
