Anak Bungsu dan Rasa Sepi

Yuhaenida Meilani
Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Memiliki ketertarikan dalam menulis berita, feature, artikel, serta mampu membuat narasi yang menarik.
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 6:28 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yuhaenida Meilani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kenangan bersama kakak saat masih kecil (Foto: Yuhaenida Meilani)
zoom-in-whitePerbesar
Kenangan bersama kakak saat masih kecil (Foto: Yuhaenida Meilani)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Aku merasakan suasana rumah menjadi sangat sepi. Yang ada hanya diriku, dan sisa dari masa kejayaan orang tua.
ADVERTISEMENT
Aku berdiam diri di kamar, menatap jendela yang berhadapan langsung dengan jalan. Melihat ramainya lalu lalang orang di luar. Tapi di dalam rumah, semuanya sepi. Hanya ruangan-ruangan kosong yang penuh kenangan. Dan bayangan tentang kebersamaan bersama kakak-kakakku.
Orang-orang dewasa mulai menjalani kehidupan masing-masing. Meninggalkan rumah berpetak persegi itu. Yang tersisa hanya aku, dan orang tuaku. Kakak sudah memiliki keluarga kecil yang baru, dan aku mendapat tugas untuk bisa menjaga Ayah dan Ibu.
Si bungsu dan kesepian adalah teman akrab. Aku sudah terbiasa mendengarkan, tapi sedikit ruang untuk berbicara. Bibirku terkunci rapat, sebab suaraku kurang punya presisi yang banyak untuk didengar.
Hidup penuh impian di kepala, tapi impian itu hanya tersimpan rapat di laci meja. Pada akhirnya, hidupku dibebankan banyak harapan. Barangkali, kakakku dulu tidak bisa mewujudkan hal itu. Sehingga ekspektasinya berpindah pada si bungsu.
ADVERTISEMENT
Aku adalah manusia yang dipandang sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi juga diharapkan bijaksana. Bahuku terlihat lebih kuat, dan diharapkan lebih hebat. Padahal, aku hanya tidak mendapat ruang untuk mengeluh. Aku tidak punya tempat untuk menangis.
Aku akan selalu dilihat sebagai anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Padahal aku yang menjadi saksi bagaimana Ayah dan Ibu menghabiskan waktu di masa tua. Aku melihat Ayah dengan keringat bercucuran, mencari kerja untuk mendapatkan uang, dan membiayai kebutuhan keluarga.
Aku melihat Ibu menangis, karena persediaan beras sudah habis. Tapi aku tidak bisa membantu. Ibu tidak pernah berani bercerita tentang kesulitan yang dihadapi, karena berpikir bahwa aku tidak akan mengerti.
Hari-hari berlalu, dan semuanya semakin sepi. Seolah di rumah itu, hanya aku yang tak pernah tumbuh dewasa. Aku dikejar dengan umur orang tua yang semakin bertambah tiap tahunnya. Jika aku bergerak lambat, tidak ada jaminan bahwa aku bisa bersama Ayah dan Ibu setiap saat.
ADVERTISEMENT
Aku adalah pengamat hidup yang mengetahui seluk beluk penghuni rumah. Aku belajar banyak hal dari apa yang diamati, karena tidak ada tempat bertanya lagi. Aku menjalani kehidupan dengan sunyi, yang tersisa hanya aku di rumah ini.
Terkesan sederhana, tapi nyatanya aku rindu waktu kumpul bersama keluarga. Menghabiskan waktu bersama kakak, walau diselingi pertengkaran kecil. Aku mudah sekali menangis, dan kakak akan dimarahi. Tapi pertengkaran itu tidak berlangsung lama, kita akan kembali bermain lbersama.
Kakak akan menemaniku bermain, mengajakku ke tempat-tempat indah yang belum pernah aku kunjungi. Membelaku dari kesalahan yang tidak sengaja dilakukan. Kita memiliki banyak rahasia yang kita simpan bersama.
Aku kira, kebersamaan akan menjadi hal yang permanen. tapi ternyata, kakak mulai sibuk dengan dunianya, dan aku kembali pada kesunyian di rumah. Ayah dan Ibu sesekali menelepon kakak, berharap kebersamaan bisa dirasakan walau tidak bertatap muka.
ADVERTISEMENT
Jauh dari rumah memang tidak mudah. Kakak berjuang untuk dirinya, mencari pendamping untuk hidupnya. Membangun rumah baru, jauh dari Ayah dan Ibu. Sering sekali kakak bertanya bagaimana keadaan di rumah. kita semua sama-sama rindu, tapi kehidupan memang tidak bisa seperti dulu.
Orang-orang berkata bahwa si bungsu paling menyenangkan. Paling banyak mendapat kasih sayang, paling dekat dengan orang tua, paling dimanja, dan paling diperhatikan keluarga. Padahal di balik itu, si bungsu sedang dikejar dengan harapan dan umur orang tua yang tak lagi muda.
Aku berusaha untuk tidak mengecewakan keluarga. Aku paham bahwa diriku adalah harapan terakhir, dari banyaknya bintang-bintang yang harus digapai. Hingga akhirnya, anak kecil ini tumbuh dewasa.
Aku mulai memahami sulitnya menghadapi problematika. Lingkungan yang baru, dan tekanan membuatku ingin bercerita. Namun anak bungsu, yang keluhnya hanya terdengar sebagai rengekan anak manja. Rumahnya ke mana saat ingin berkeluh kesah?
ADVERTISEMENT
Kakak selalu percaya bahwa aku bisa menghadapinya. Dan aku belajar dari tangguhnya pundak kakak-kakakku. Walau terkadang, aku ingin dipeluk juga, dan berkata bahwa aku tidak sekuat itu. Tapi keluh itu tidak pernah sampai keluar, aku takut malah mengecewakan.
Si bungsu selalu takut mengutarakan tentang apa yang sedang dihadapinya. Teringat tangisan Ibu yang mengusahakan banyak hal, Ayah yang bekerja keras, kakak yang memberikan semangat bahwa aku tidak boleh mudah menyerah. Perjuangan orang-orang terdekat, membuat aku tidak bisa bersuara.
Tangisku hanya terlihat seperti anak kecil yang cengeng. Karena sekuat apapun teriakanku, malah terdengar seperti rengekan. Jadi biarkan semua sedih itu tertutup dinding kamar. Kesunyian akan menemani, dan pilu akan aku simpan sendiri.
ADVERTISEMENT
Rumah akan ramai saat hari raya. Kakak pulang ke rumah dengan suami dan anak-anaknya. Suasana rumah ramai sekali, aku melihat Ayah dan Ibu sangat bahagia dengan kehadirannya. Dulu, rumah memang seramai itu.
Kehangatannya masih belum berubah dari dulu. Ruang tamu yang penuh gelak tawa, cerita-cerita tentang masa kecil kita. Yang berbeda hanya tentang waktu, kita tidak bisa setiap saat merasakan kebersamaan seperti dulu.
Pada akhirnya, si bungsu akan kembali sendirian dalam sepi. Kembali menjalani hari-hari dan mengamati apa yang terjadi. Sampai satu waktu, aku juga akan pergi untuk memulai hidupku. Meninggalkan Ayah dan Ibu dalam rasa sepi. Sunyi itu, kini senyap.
Tapi begitulah adanya. Ayah, Ibu, kakak, dan aku, akhirnya akan menjalani hidup baru. Kita akan sibuk pada dunia masing-masing, namun pada satu waktu akan bertemu. Berkumpul di rumah yang penuh kenangan itu, melihat binar kebahagiaan dari mata Ayah dan Ibu. Walau tidak saling berucap kata rindu.
ADVERTISEMENT