Ayah dan Seribu Luka di Tubuhnya

Yuhaenida Meilani
Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Memiliki ketertarikan dalam menulis berita, feature, artikel, serta mampu membuat narasi yang menarik.
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 18:53 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yuhaenida Meilani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Ayah dan anak perempuannya (Ilustrasi: Yuhaenida Meilani)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ayah dan anak perempuannya (Ilustrasi: Yuhaenida Meilani)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Apakah sosok ayah selalu menyimpan lukanya sendiri? Atau memang aku yang tidak terlalu dekat dengan sosoknya itu?
ADVERTISEMENT
Terkadang sosok Ayah memang kurang dekat dengan putrinya. Aku sendiri sulit mengingat kenangan apa yang paling berkesan saat bersama Ayah. Aku lebih sering bersama dengan Ibu, karena Ayah sibuk bekerja. Tapi ternyata, cinta ayah sama besarnya. Walau tidak terucap lewat kata.
Aku tidak pernah melihat Ayah mengeluh. Bahkan saat terluka pun, Ayah seperti tidak merasa kesakitan. Aku kira sosok Ayah memang sekuat itu, tapi ternyata dia adalah manusia dengan seribu luka di tubuhnya. Luar biasanya Ayah selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sedangkan di balik semua itu, ada banyak sekali beban dan pekerjaan yang harus dipikul dan diselesaikan.
Peran Ayah begitu besar dalam keluarga. Dan Ayah adalah super hero hebat yang bisa melakukan semua hal. Dia akan menjadi mekanik andal, bisa juga jadi juru masak profesional, atau jadi alarm paling berisik setiap paginya.
ADVERTISEMENT
Ayah menampung semua keluhan keluarga, dan mencoba mencari jalan keluarnya. Bahkan pada masa-masa tersulit pun, Ayah tidak pernah mengeluh bahwa dirinya lelah. Raganya selalu kuat, seperti tidak pernah tergores sedikit pun. Padahal lukanya banyak sekali.
Ayah memang tidak pernah mengucapkan kata-kata manis. Ayah bukan orang yang pandai mengungkapkan rasa sayang. Bahkan Ayah selalu lupa kapan hari ulang tahunku. Tapi bukan berarti ia tidak peduli.
Sosoknya menjadi menakutkan saat sedang marah. Ayah akan menatapku dengan tatapan tajamnya. Bukan bentakan, tapi sedikit ucapan yang bahkan bisa membuatku ketakutan.
Dari dulu, Ayah selalu khawatir saat aku pergi. ayah akan menelepon berkali-kali, menanyakan keberadaanku pada teman-teman, dan menunggu kehadiranku di depan pintu. Aku sangat takut jika Ayah marah. Tapi saat pulang, yang aku lihat bukanlah sorot mata tajam, tapi ekspresi penuh kekhawatiran.
ADVERTISEMENT
Di balik sikap tegas dan disiplin, ia menyembunyikan banyak hal. Ayah selalu takut kebutuhanku tidak terpenuhi, takut aku pergi tanpa diawasi, dan takut aku disakiti. Karena itu Ayah selalu berjuang lebih keras lagi.
Padahal tanpa berjuang pun, aku selalu menganggap bahwa Ayah adalah sosok yang paling hebat. Walau aku tidak pernah tahu apa yang ada dipikirannya. Bagaimana Ayah menjalani harinya sebagai manusia yang selalu dipaksa kuat. Karena keluarga, bergantung penuh pada sosoknya.
Ayah bekerja sebagai buruh bangunan. Pekerjaan melelahkan yang bersahabat dengan teriknya matahari. Aku melihat Ayah selalu semangat bekerja, mengangkat bahan-bahan berat sana-sini. Tidak jarang Ayah pulang dengan badan yang pegal, luka-luka, dan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Ayah pernah beberapa lama tidak mendapat tawaran bekerja. Biasanya di pagi hari, Ayah sudah berangkat ke tempat kerjanya. Tapi saat itu, aku melihat Ayah merenung. Dari mimik wajahnya, ia terlihat khawatir. Ayah bukan orang yang betah berdiam diri, saat tidak memiliki pekerjaan, Ayah merasa takut tidak bisa membiayai kebutuhan keluarga.
ADVERTISEMENT
Namun semangatnya tak pernah pudar. Hari-hari ayah diisi dengan banyak kegiatan. Ayah melakukan apapun bentuk pekerjaan dari pagi hingga malam. Sorot matanya yang tajam, tak pernah terlihat kelelahan.
Padahal, aku yakin Ayah juga butuh istirahat. Menjadi sosok yang selalu kuat pasti melelahkan. Ayah selalu melakukan apapun sekuat tenaga. Ayah selalu berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Ia rela mengorbankan segalanya demi melihat senyum di wajah kita. Ternyata, setiap tetes keringat yang jatuh adalah bukti cinta dan pengorbanannya.
Ayah adalah manusia yang menunjukkan cinta tanpa kata. Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Karena itu ia ingin terlihat kuat, menjadi garda terdepan untuk selalu melindungi putri kecilnya.
Ayah mungkin tidak sehebat Ibu dalam mengingat. Kadang Ayah lupa makanan kesukaan anaknya, Ayah juga tidak hafal jadwal sekolah, dan jarang menanyakan kabar anaknya. Tapi bukan berarti Ayah tidak peduli. Aku paham, bahwa rasa sayangnya tidak perlu diragukan lagi.
ADVERTISEMENT
Aku ingat saat aku SMA, Ayah pulang bekerja dari kota dan membelikanku mainan baru, sebuah gelembung sabun. Karena saat kecil dulu, aku sangat senang memainkannya. Ayah baru menyadari bahwa putrinya sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Tapi perhatiannya membuat aku sadar, bahwa Ayah selalu punya cara untuk mengungkapkan rasa cinta.
Cinta dan tanggung jawab terhadap keluarga menjadi sumber kekuatan yang tak tergoyahkan. Ayah membuktikan bahwa meski hidup penuh dengan cobaan, kasih sayang dan semangat pantang menyerah selalu mampu mengatasi segalanya. Dalam setiap luka yang ada di tubuhnya, terdapat cerita tentang perjuangan yang tulus untuk orang-orang yang dicintainya.
Didikan Ayah mengajarkanku untuk menjadi anak yang berani. Karena di luar sana, akan ada banyak hal yang harus dilewati. Sekarang aku sadar, bahwa dunia begitu keras dalam menghakimi. Jika tidak ada Ayah, mungkin aku tidak akan sekuat sekarang.
ADVERTISEMENT
Tidak banyak yang aku harapkan. Aku hanya ingin Ayah hidup lebih lama lagi, dan bisa menemani perjalananku yang tak mudah ini. Aku ingin menepati janjiku untuk membuat Ayah bangga. Aku ingin membuktikan bahwa anakmu adalah perempuan kuat, seperti ayahnya.
Aku butuh cinta kasih Ayah, butuh peluk hangatnya. Jadi aku harap, agar Ayah bisa hidup lebih lama lagi. Aku ingin berterima kasih karena Ayah adalah super hero yang nyata. Di kehidupan yang hanya satu kali ini, aku ingin Ayah tahu bahwa aku cinta Ayah, dan semoga Ayah juga merasakan cintaku itu.