Malioboro Tidak Hanya Manis dalam Kuliner, tapi Juga Suasananya

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yulaika Nurmayasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menggunakan ojek atau kendaraan pribadi roda dua saat perjalanan ke Malioboro adalah kegiatan yang menyenangkan. Ditambah dengan udara Jogja pada pagi atau sore hari menjelang malam yang cukup sejuk. Penggunaan kendaraan roda empat kalau bisa dihindari, mengingat jalanan Jogja yang ramai dan padat, terutama jika akhir pekan. Jika menggunakan roda dua, pengunjung dapat memarkirkan kendaraannya di Parkiran Abu Bakar Ali, yang terletak di sebelah utara Malioboro. Tarif parkir yang dipatok cukup terjangkau, hanya Rp3.000.
"Bayarnya nanti atau sekarang, ya, Pak?"
"Monggo, Mbak, nanti saja. Dibawa dulu karcis parkirnya," ucap penjaga parkir sambil memberikan karcis parkir kepada penulis.
Parkiran kendaraan roda dua disediakan di lantai dua dan tiga, untuk lantai pertama disediakan untuk kendaraan beroda empat atau lebih, seperti bus pariwisata, truk pengangkut sampah, dan kendaraan besar lainnya. Setelah memarkirkan kendaraan, pengunjung dapat berjalan kaki atau menggunakan jasa becak atau delman untuk menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Selama masa pandemi, beberapa perubahan tampak menghiasi wisata Malioboro, seperti ditambahkannya mesin keran air untuk mencuci tangan dan petugas yang mengimbau seluruh warga di Malioboro untuk selalu menggunakan masker.
"Pemisi, Pak, saya izin untuk mendokumentasikan Bapak berdua, nggih,"
Silakan silakan, Mbak, foto bersama juga tidak apa-apa. Hitung-hitung sebagai kenangan pas main ke Malioboro,"
Bagi penulis, ramahnya respons yang disampaikan petugas tersebut menambah kehangatan suasana Malioboro pada sore hari. Diketahui bahwa imbauan untuk selalu menggunakan masker di Malioboro baru diadakan saat masa pandemi ini.
Pandemi yang terjadi ternyata tidak mengurangi daya tarik Malioboro sebagai salah satu ikon wisata Yogyakarta. Apabila dicermati, secara tidak langsung terdapat pembagian pengelompokan pedagang di sepanjang Malioboro. Di sebelah barat jalan lebih banyak digunakan untuk pedagang yang menjual barang-barang yang berasal dari kain, seperti daster, kaus, celana, tas, dan kain batik. Sedangkan di sebelah timur jalan lebih banyak digunakan untuk tempat kuliner, di antaranya adalah angkringan dan tempat makan lesehan yang menggunakan tenda. Meskipun begitu, kedua daerah sama-sama diramaikan oleh pedagang kaki lima yang berjalan kaki keliling untuk menawarkan dan menjual dagangannya kepada para pengunjung.
Walaupun sempat tutup sementara pada awal pandemi, Malioboro perlahan kembali menjadi tempat wisata dan pusat perbelanjaan, baik untuk turis maupun penduduk sekitar. Beberapa mata pencaharian penduduk, seperti pedagang, penarik becak, kusir delman, termasuk tukang parkir, bergantung pada keramaian pengunjung Malioboro.
"Mari, Mbak, becaknya Rp5.000 saja sampai di pusat pabrik bakpia," tawaran beberapa penarik becak kepada penulis selama menyusuri Malioboro.
Satu hal yang cukup mengejutkan bagi penulis adalah tarif yang dipatok oleh beberapa penarik becak. Setelah mengobrol dengan salah satu penarik becak, ternyata masa pandemi menyebabkan pendapatan penarik becak turun drastis. Hal itu menyebabkan beberapa penarik becak harus berlapang dada untuk menurunkan tarif becak, bahkan ada yang menyerahkan jumlah tarif sesuai dengan keikhlasan penumpang.
Menjelang adzan Maghrib, suasana di Malioboro perlahan menjadi lebih sepi. Salah satu penyebabnya adalah aturan pelarangan kendaraan pribadi dan bermotor untuk melintasi jalanan Malioboro. Sehingga, mulai pukul 17.00 jalanan Malioboro diramaikan oleh pengunjung yang berjalan kaki ataupun bersepeda.
Dari banyaknya tempat wisata di Yogyakarta, Malioboro merupakan satu yang paling menarik untuk dikunjungi. Keramahan setiap orang yang ada di Malioboro, baik sesama pengunjung, pedagang, kusir delman, penarik becak, maupun petugas yang berjaga menambah kemanisan Malioboro sebagai tempat berwisata, berbelanja, atau sekadar menghibur diri dari kesibukan sehari-hari. Sedikit tips untuk berwisata di Malioboro adalah berkunjung pada sekitar pukul 15.30 hingga menjelang malam, karena jalanan Jogja yang belum begitu ramai dan cuaca panas yang sudah mulai meredup. Apabila ingin berbelanja atau sekadar membeli barang atau makanan ringan dengan jumlah yang banyak ataupun sedikit, pembeli tidak perlu ragu untuk melakukan negosiasi harga dengan pedagang atau penyedia jasa. Para pedagang dan penyedia jasa di Malioboro tidak sedikit yang sering memberikan potongan harga kepada pembeli.
Selama berwisata di Malioboro atau pun di tempat lain, usahakan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, terutama selama masa pandemi untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
