Inovasi-Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis Lingkungan

Saya seorang guru di SDN 6 BESOLE yang lokasinya di daerah Pesisir pantai Popoh. Aktif mengikuti beberapa komunitas diantaranya Wong Indonesia Nulis, Stem Holic Comunity.
Tulisan dari Yuli Purnamasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hasil refleksi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep merdeka belajar, menyadarkan para guru untuk menerapkan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Sebagai seorang guru saya tidak boleh memaksakan kehendak kepada siswa, tapi menciptakan strategi agar mereka dapat belajar dengan menyenangkan sesuai karakteristik dan perkembangannya.
Lingkungan merupakan sumber belajar kontekstual yang memudahkan mereka untuk belajar. Siswa dapat mengetahui secara langsung keadaan lingkungan, dengan begitu proses pembelajaran tidak akan membosankan. Pembelajaran dapat dilakukan dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah, serta dapat pula belajar dari fenomena-fenomena yang ada serta permasalahan yang ada di masyarakat.
SDN 6 Besole terletak di kawasan wisata Pantai Popoh dan situs budaya Retjo Sewu, yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Pengolahan hasil laut yang belum optimal, serta permasalahan-permasalahan lingkungan seperti banyaknya sampah di kawasan wisata ini dapat dijadikan tema untuk program pengembangan kompetensi literasi untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Gambar 1 Siswa SDN 6 Besole sedang melakukan aktivitas di kawasan Pantai Popoh
Penyesuaian pembelajaran pasca pandemi juga memunculkan fenomena baru. Tingkat pengetahuan siswa menjadi lebih beragam, perlunya pembiasaan budaya positif termasuk disiplin dan rasa kepedulian, juga tentang upaya pengembangan kompetensi literasi yang mengalami degradasi. Hal ini yang melatar belakangi penulis memilih program Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Mengembangkan Kompetensi Literasi Siswa SDN 6 Besole.
Pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan belajar siswa yang beragam. Strategi diferensiasi yang diterapkan dalam pembelajaran adalah diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi hasil. Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan siswa untuk memilih apa mereka ingin pelajari, bagaimana cara belajar, dan produk belajar apa yang ingin dihasilkan. Tapi, tentu saja ada batasan-batasan yang harus diperhatikan yaitu tetap pada capaian kompetensi yang ditetapkan.
Implementasi Pembelajaran Berdiferesiasi Berbasis Lingkungan ini diterapkan dalam tiga kegiatan berkelanjutan, yaitu:
Outing Class observasi kawasan wisata Pantai Popoh dan situs budaya.
Aksi nyata kepedulian lingkungan sebagai salah satu upaya untuk menanamkan budaya positif kepada siswa.
Pemanfaatan potensi lingkungan agar tepat guna dan bernilai ekonomis.
Dalam setiap kegiatan tersebut siswa menghasilkan produk literasi yang akan didokumentasikan dalam sebuah buku karya bersama. Buku tersebut berisi tulisan refleksi siswa serta hasil diferensiasi karya siswa berupa gambar, poster, poto dan sebagainya.
1. Outing Class “Observasi Kawasan Wisata Popoh”
Kegiatan ini dimulai dengan perencanaan bersama antara guru dan siswa, tentang tahapan kegiatan yang akan dilakukan, juga waktu pelaksanaan. Siswa bersama guru berjalan menuju ke kawasan wisata, lalu mereka diminta untuk melakukan pengamatan sesuai dengan minatnya. Guru memasukkan unsur diferensiasi konten, yaitu obyek pengamatan yang berbeda untuk masing-masing siswa.
Setelah kegiatan pengamatan, siswa diberi tugas untuk membuat sebuah hasil karya berdasarkan obyek yang diamati. Pada kegiatan ini produk yang dihasilkan beragam, yaitu berupa puisi, cerita, gambar maupun poster. Pada tahap ini terjadi diferensiasi produk dan proses.
Berdasarkan hasil karya yang dibuat oleh siswa, guru menentukan topik yang paling banyak menjadi perhatian siswa. Topik tersebut akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan. Permasalahan kebersihan lingkungan banyak menjadi sorotan siswa, dimana pada masa pandemi Covid-19 kawasan wisata tersebut menjadi kurang terurus.
Saya sebagai guru merasa senang melihat antusiasmu siswa ketika kegiatan pembelajaran dilakukan diluar kelas. Suasana pembelajaran menjadi lebih hidup dan bersemangat. Meskipun masih ada yang kesulitan, membutuhkan waktu lebih lama dalam menyelesaikan tugas, namun seluruh siswa dapat menyelesaikan tugasnya. Dari hasil refleksi, mereka ingin mengulang pembelajaran yang serupa di lain waktu.
Gambar 2 Poto Kegiatan Observasi Kawasan Wisata
2. Aksi Nyata Peduli Lingkungan
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari observasi kawasan wisata. Pada tahap awal siswa membuat rencana kegiatan bersama guru, lalu menetapkan waktu kegiatan. Kegiatan yang dilakukan adalah menjawab permasalahan tentang sampah plastik yang menumpuk di kawasan wisata. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat poster tentang peduli lingkungan. Unsur diferensiasi yang dimunculkan adalah diferensiasi proses dan prodek, dimana siswa mendapat kebebasan untuk membuat desain secara manual maupun digital.
Setelah kegiatan membuat poster, siswa bersama guru melakukan aksi pungut sampah plastik di kawasan wisata. Kegiatan ini direncanakan rutin untuk dilaksanakan pada hari tertentu. Siswa membawa kantong dari rumah, lalu berjalan menyusuri kawasan wisata untuk membersihkan plastik-plastik yang dibuang begitu saja. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan budaya positif peduli lingkungan.
Gambar 4 Siswa Memungut Sampah Plastik
3. Pemanfaatan Potensi Lingkungan
Kegiatan ini adalah lanjutan dari aksi peduli lingkungan, siswa diajak untuk berpikir bagaimana sampah-sampah yang bertumpuk tersebut dapat bernilai guna. Mereka menentukan membuat hasil karya dari sampah plastik dan kardus bekas. Kegiatan ini terintegrasi ke dalam tema intrakurikuler. Terdapat dua kegiatan, yaitu terkait dengan materi potensi ekonomi dan kegiatan pengembangan materi bangun ruang.
Pada materi potensi ekonomi, siswa membuat hasil karya dari sampah plastik. Unsur diferensiasi yang dimunculkan adalah diferensiasi proses dan produk. Guru memberi keleluasaan untuk mencari sumber belajar dan produk yang dibuat. Dari hasil pengamatan, siswa terlihat bersemangat dalam menyelesaikan tugasnya. Meskipun hasil karya yang dihasilkan masih sederhana, hal tersebut dapat dikembangkan lagi di lain hari.
Gambar 5 Contoh Hasil Karya Siswa dari Sampah Plastik
Membuat miniatur desain rumah impian adalah kegiatan pengembangan materi bangun ruang pada pelajaran Matematika. Siswa memanfaatkan kardus bekas menjadi rumah-rumah mungil sesuai dengan imajinasi mereka. Pada proses pembuatan miniatur rumah ini, terlihat antusiasme siswa. Unsur diferensiasi yang dimunculkan adalah diferensasi konten dimana mereka membuat desain yang berbeda, juga diferensiasi produk berupa perwujudan dari desain rumah yang dibuat.
Siswa bekerja dalam kelompok yang pembagiannya berdasarkan minat. Mereka mengasah keterampilan berkolaborasi dan saling menghargai pendapat dalam dinamika kelompok. Siswa belajar bagaimana mencari jalan tengah ketika perselisihan pendapat terjadi. Hal ini juga melatih keterampilan sosial emosionalnya. Sebagai pendamping, saya merasa senang karena strategi ini dapat menimbulkan motivasi siswa untuk belajar.
Gambar 6 Hasil Karya Miniatur Rumah dari Kardus Bekas
Sebagai penutup kegiatan akhir tahun, siswa mengumpulkan hasil karya literasinya untuk dicetak menjadi sebuah karya literasi bersama. Meski hasil karya yang dihasilkan masih memerlukan banyak pembenahan, namun hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya gurunya. Usaha untuk menarik minat mereka dalam berkarya, dapat membuahkan hasil. Siswa juga dilibatkan dalam pengetikan dan pengeditan hasil karyanya.
Upaya lain agar kegiatan ini memberikan dampak yang lebih luas adalah dengan adanya pengimbasan Implementasi Berdiferensiasi Berbasis Lingkungan ini kepada rekan sejawat. Kami mengadakan kegiatan diskusi terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada jenjang kelas yang lain. Meski belum semua antusias dengan strategi yang saya terapkan, namun ada beberapa yang mengaku ingin menerapkan di kelasnya.
Gambar 7 Kegiatan Pengimbasan di Sekolah
Seakan semesta mendukung rencana yang saya lakukan, PGRI Kabupaten Tulungagung memberi kesempatan untuk mendiseminasikan praktik baik ini pada lingkup yang lebih luas. Saya mempresentasikan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis Lingkungan ini dalam Parade Inovasi Guru yang digelar oleh SLCC PGRI Jawa Timur. Merupakan sebuah kesempatan emas belajar mengomunikasikan praktik baik saya ini.
Gambar 8 Diseminasi Praktik Baik Melalui Streaming Youtube
Pembelajaran yang dapat saya ambil dalam kegiatan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis Lingkungan ini adalah:
Guru harus menciptakan strategi pembelajaran yang membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.
Biarkan siswa belajar sesuai dengan minatnya dengan tidak memaksakan keinginan guru.
Siswa akan mudah belajar dari lingkungan sekitar (apa yang sudah mereka kenali), oleh karena itu perlunya optimalisasi potensi lingkungan sebagai sumber belajar.
Namun, saya tidak boleh berpuas dengan hasil yang diperoleh saat ini, memerlukan perbaikan diantaranya:
Penentuan alokasi waktu yang lebih terstruktur.
Kerjasama dengan rekan sejawat/ komunitas praktisi agar program yang dilaksanakan memberikan dampak lebih luas.
Memperjelas pemetaan kebutuhan belajar siswa dan menambah unsur diferensiasi konten untuk menjawab kebutuhan tersebut.
