Konten dari Pengguna

Bukan Malas, 'Slow Living' adalah Cara Anak Muda Menolak Lelah

Yuli Susanti

Yuli Susanti

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memilih tren 'slow living': Duduk santai menikmati hari bukan berarti malas atau menyerah pada keadaan. (Foto: gettyimages)
zoom-in-whitePerbesar
Memilih tren 'slow living': Duduk santai menikmati hari bukan berarti malas atau menyerah pada keadaan. (Foto: gettyimages)

Sudah jadi rahasia umum kalau anak muda generasi sekarang sering banget kena cap sebagai angkatan yang lembek, gampang mengeluh, dan ogah kerja keras. Cukup intip media sosial seperti TikTok atau X (Twitter), kita bakal sering nemu sindiran dari orang-orang tua atau para senior tentang betapa "manjanya" generasi hari ini. Sedikit-sedikit minta liburan, sedikit-sedikit bahas kesehatan mental, sedikit-sedikit mengeluhkan beban kerja, dan dinilai kurang punya daya juang dibanding generasi terdahulu yang dianggap lebih tahan banting.

Narasi penyesalan dan penghakiman ini seolah punya pola yang sama di setiap diskusi publik. Anak muda dianggap terlalu cepat menuntut kenyamanan (work-life balance) sebelum mereka benar-benar memberikan kontribusi yang nyata atau keringat yang cukup bagi lingkungan tempat mereka berkarya. Fenomena dompet tipis di akhir bulan pun sering kali dituduhkan pada gaya hidup yang dianggap terlalu santai atau gemar memanjakan diri secara berlebihan.

Tapi, apakah fenomena mengerem ambisi atau tren yang sering disebut slow living ini murni karena malas dan kehilangan arah hidup? Kalau kita mau menurunkan ego sebentar dan bersedia melihat sedikit lebih dalam melampaui permukaan, keputusan anak muda untuk tidak lagi ngoyo mengejar karier mentereng atau kekayaan instan sebenarnya adalah bentuk respons psikologis yang sangat masuk akal terhadap kondisi dunia hari ini. Menyalahkan mereka secara sepihak tanpa membedah realitas yang ada adalah sebuah kekeliruan besar yang mengabaikan rasa lelah kolektif yang sedang terjadi di masyarakat.

Ketika Kerja Keras Bagai Kuda Tak Lagi Menjamin Masa Depan

Untuk memahami mengapa terjadi pergeseran cara pandang ini, kita harus melihat bagaimana anak muda hari ini mengalkulasi masa depan mereka. Harus diakui, tatanan dunia saat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak ramah bagi mereka yang baru memulai langkah. Harga barang kebutuhan pokok terus melesat naik akibat inflasi, biaya pendidikan meroket, sementara standar gaji untuk pekerja baru (fresh graduates) jalannya mirip siput—stagnan, cenderung pas-pasan, dan sering kali tidak seimbang dengan beban tuntutan hidup sehari-hari.

Namun, faktor paling krusial yang mengunci pintu harapan mereka adalah urusan papan atau tempat tinggal. Harga aset properti dan rumah saat ini sudah melambung tinggi ke angka yang berada di luar jangkauan logika dompet pekerja muda. Ketika sebuah impian dasar seperti memiliki rumah sendiri sudah menjelma menjadi fiksi yang mustahil digapai meski sudah memeras keringat setiap hari, struktur psikologis seseorang otomatis akan berubah.

Logika berpikir mereka bergeser menjadi lebih pragmatis dan sederhana. Muncul sebuah pertanyaan mendasar yang sulit dibantah: "Untuk apa aku mati-matian menahan diri, mengorbankan waktu tidur, kesehatan fisik, dan kehidupan sosial demi menabung, kalau pada akhirnya uang tabungan itu tetap tidak akan pernah cukup untuk membayar uang muka rumah yang harganya sudah menembus angka miliaran?"

Akibat dari kepasrahan yang logis ini, pilihan untuk menurunkan tempo hidup atau mengerem ambisi bukan lagi bentuk menyerah sebelum bertarung. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang paling masuk akal agar mereka tidak habis terbakar oleh ekspektasi lingkungan yang tidak ada habisnya. Ketika masa depan terasa terlalu mahal untuk dibeli, maka menikmati masa kini dengan sewajarnya menjadi pilihan terbaik yang tersisa.

Jebakan Romantisasi "Harus Selalu Sibuk" di Era Digital

Kondisi ini makin runyam karena lingkungan sosial kita, terutama yang diamplifikasi oleh algoritma media sosial, sangat pandai melakukan romantisasi terhadap kesibukan. Ada narasi tersembunyi yang terus-menerus mendikte kita bahwa tidak sibuk berarti tidak produktif, dan kalau tidak punya pencapaian besar di usia dua puluhan berarti kita adalah produk gagal dari lingkungan. Jargon-jargon seperti "hustle culture" atau bekerja keras tanpa henti selagi muda sering kali disalahgunakan untuk membuat orang merasa bersalah saat mereka ingin mengambil jeda sejenak untuk beristirahat.

Kehadiran teknologi komunikasi yang super cepat juga ikut memperkeruh suasana. Bukannya mempermudah hidup, teknologi sering kali memperluas jam kerja ke dalam ruang-ruang privat kita. Pesan singkat terkait pekerjaan yang masuk lewat WhatsApp di tengah malam atau email yang harus dibalas saat akhir pekan seolah menjadi normal baru yang tidak tertulis. Batasan antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi kabur secara perlahan.

Tanpa sadar, banyak anak muda yang terjebak dalam rasa bersalah yang diciptakan oleh sistem ini. Mereka merasa dipaksa untuk terus berlari di atas mesin cetak target yang tidak pernah ada ujungnya, hanya demi mendapatkan validasi dari orang lain atau pengakuan di media sosial.

Ketika mereka akhirnya menyadari bahwa energi emosional mereka terkuras habis hanya untuk mengejar fatamorgana produktivitas, tren slow living atau mengerem ambisi muncul sebagai bentuk perlawanan yang sadar. Anak muda mulai paham bahwa menghargai diri sendiri tidak harus selalu diukur dari seberapa panjang daftar kesibukan mereka dalam sehari.

Membuka Ruang untuk Menata Ulang Batasan Diri

Penting untuk digarisbawahi bahwa memilih hidup dengan tempo yang lebih lambat atau mempraktikkan slow living sama sekali bukan berarti kita boleh menjadi orang yang apatis, tidak bertanggung jawab, atau sengaja berkinerja buruk. Menjadikan alasan "lelah" atau "menjaga kesehatan mental" sebagai tameng untuk bekerja asal-asalan justru bakal merugikan integritas dan nilai tawar personal diri kita sendiri di masa depan. Kuncinya bukan berhenti total dari aktivitas, melainkan tahu kapan harus menekan pedal rem sebelum mesin diri kita mengalami kerusakan total.

Langkah paling realistis dan dewasa yang bisa kita ambil adalah dengan mulai membagi porsi perhatian dan energi kita secara adil dan tegas. Kita harus memperlakukan kapasitas diri kita mirip seperti baterai ponsel—punya batas maksimal dan mutlak membutuhkan waktu untuk diisi ulang tanpa gangguan.

  1. Porsi Kerja Profesional: Saat jam kerja sedang berlangsung, berikan performa terbaik, fokus penuh, dan selesaikan seluruh tugas yang memang sudah menjadi kewajiban kita secara jujur serta bertanggung jawab. Ini adalah bentuk profesionalisme yang tidak boleh ditawar.

  2. Porsi Ruang Privat: Lindungi porsi ruang privat setelah kewajiban tersebut selesai. Begitu jarum jam menunjukkan waktu pulang, tutup laptop, matikan notifikasi grup kerjaan, dan kembalilah ke kehidupan nyata. Gunakan sisa hari untuk melakukan aktivitas yang benar-benar bisa mengembalikan energi positif kita—entah itu menekuni hobi lama yang sempat ditinggalkan, berkumpul bersama keluarga, mengobrol dengan teman, atau sekadar tidur tepat waktu tanpa gangguan gawai.

Menetapkan batasan yang tegas seperti ini sangat penting untuk menjaga agar diri kita tetap utuh, sehat, dan waras dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Pada akhirnya, fenomena anak muda yang memilih untuk mengerem ambisi dan menjalani hidup dengan lebih santai bukanlah sebuah potret buram dari generasi yang malas atau kehilangan masa depan. Ini adalah tanda bahwa sebuah generasi sedang berupaya berpikir lebih rasional dan kritis tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup di tengah dunia yang makin tidak pasti. Mereka hanya ingin menikmati proses hidup dengan langkah kaki yang nyata, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan fisik demi standar kesuksesan semu orang lain.

Sudah saatnya masyarakat, media, dan lingkungan sekitar berhenti menghakimi pilihan batasan diri anak muda dengan menggunakan kacamata moralitas atau standar masa lalu yang sudah kurang relevan dengan tantangan zaman sekarang. Alih-alih melabeli mereka sebagai angkatan yang tidak berkomitmen, kita perlu bersama-sama menciptakan ekosistem sosial dan dunia kerja yang lebih sehat, seimbang, dan memanusiakan manusia. Karier, materi, dan pencapaian memang penting, tetapi memiliki tubuh yang sehat dan jiwa yang tenang untuk bisa menikmati hasil kerja keras itu jauh lebih berharga dari segalanya.