Terjebak 'Resenteeism': Ketika Raga di Kantor, tapi Hati Udah 'Resign'

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah gak sih kamu terbangun di hari Senin pagi dengan perasaan mendongkol yang luar biasa? Bukan cuma malas karena weekend baru aja lewat, tapi ada rasa kesal yang tertahan pas lagi siap-siap berangkat kerja atau kuliah. Kamu merasa udah gak betah, capek sama lingkungannya, tapi di saat yang sama kamu sadar betul kalau gak bisa langsung resign gitu aja. Kenapa? Ya karena realitas hidup: ada kosan yang harus dibayar, tagihan bulanan yang jalan terus, dan jajan harian yang gak bisa stop.
Kalau kamu atau teman terdekatmu lagi ngerasain fase ini, kemungkinan besar kamu lagi terjebak dalam fenomena yang namanya resenteeism. Istilah ini sebenarnya gabungan dari kata resentment (rasa benci atau dongkol) dan presenteeism (kondisi di mana kamu tetap memaksakan diri hadir kerja padahal mental atau fisikmu lagi gak karuan).
Bisa dibilang, ini adalah "kakak" dari tren quiet quitting yang sempat viral kemarin-kemarin. Kalau quiet quitting itu bikin orang kerja secukupnya aja sesuai deskripsi pekerjaan, resenteeism ini levelnya udah agak ekstrem. Kamu tetap datang ke kantor, raga kamu duduk di meja kerja, tapi hati dan pikiran kamu udah dipenuhi rasa sinis, frustrasi, dan energi negatif yang kelihatan jelas di wajah.
Mau Pergi tapi Gak Bisa Ke Mana-mana
Pertanyaannya, kenapa sih tren kayak begini bisa makin banyak dialami anak muda sekarang? Jawabannya simpel: nyari kerjaan baru sekarang susahnya setengah mati. Berita tentang PHK massal di mana-mana bikin kita sadar kalau pasar tenaga kerja lagi gak baik-baik saja. Mau nekat resign tanpa ada cadangan kerjaan baru rasanya kayak bunuh diri finansial.
Akhirnya, banyak dari kita yang bertahan di posisi sekarang bukan lagi karena loyal, suka sama visi perusahaan, atau semangat ngejar karier. Kita bertahan murni karena butuh duit buat menyambung hidup. Begitu kebutuhan finansial mendesak tapi pintu buat pindah kerjaan ketutup rapat, rasa gak berdaya itu lama-lama berubah jadi rasa benci. Setiap buka laptop, bawaannya pengen mengeluh. Liat notifikasi dari atasan sedikit aja, langsung bikin mood berantakan seharian.
Efek Domino yang Bikin Satu Tim Ikut Stres
Menariknya, kondisi ini tuh gak cuma menyiksa diri sendiri, tapi juga bisa jadi bom waktu buat lingkungan sekitar. Orang yang lagi di fase resenteeism biasanya gak bakal ragu buat nunjukkin rasa gak sukanya. Mulai dari curhat colongan pas jam istirahat, bikin status sindiran halus di media sosial, sampai bersikap super pasif pas lagi rapat koordinasi.
Nah, energi negatif kayak gini tuh sifatnya menular banget. Bayangin aja, dalam satu tim yang isinya lima orang, ada satu orang yang tiap hari kerjanya mengeluh dan menunjukkan muka masem. Pasti motivasi teman-teman yang lain yang awalnya aman-aman aja bakal ikut merosot. Atmosfer kerja jadi terasa berat dan toxic.
Di sinilah letak bahayanya buat sebuah organisasi. Bahkan, kalau kata pakar manajemen kayak Stephen P. Robbins, pas karyawan udah ngerasa gak puas tapi mereka gak punya pilihan buat keluar, respons mereka bakalan berubah jadi neglect alias masa bodoh. Mereka bakal membiarkan kondisi kerja memburuk lewat cara nurunin usaha kerja, sering absen, sampai sering bikin salah yang disengaja. Kasarnya: "Ya udahlah ya, yang penting gua absen, kerja asal jalan, akhir bulan dapat gaji." Kualitas hasil kerja udah gak jadi prioritas lagi.
Siksaan Mental yang Menguras Energi
Tapi jujur aja, selain merugikan tempat kerja, yang paling kasihan itu ya diri kita sendiri. Menghabiskan waktu minimal 8 jam sehari, 5 hari seminggu, di tempat yang bener-bener kita benci itu rasanya kayak siksaan mental jangka panjang. Capeknya gak cuma di fisik, tapi merembet ke pikiran.
Kondisi stres yang dipendam kayak gini lambat laun bakal bikin kita kehilangan yang namanya sense of purpose atau arti dari apa yang kita lakukan. Kita merasa terjebak dalam rutinitas robotik yang membosankan. Begitu pulang ke rumah atau kosan, energi kita udah habis bis buat menahan rasa kesal seharian, sampai gak punya sisa energi lagi buat menikmati kehidupan personal. Akhirnya, waktu muda kita habis cuma buat meratapi nasib di kubikel kantor atau meja belajar.
Mencari Jalan Keluar Demi Menjaga Kewarasan
Terus, kalau udah terlanjur terjebak di lingkaran setan ini, kita harus gimana? Langkah paling awal yang bisa kita lakukan adalah dengan bikin batasan emosional yang tegas sama pekerjaan. Kalau memang mengundurkan diri belum jadi opsi yang aman buat dompet kamu saat ini, coba ubah cara pandangmu. Tempatkan pekerjaan murni sebagai "mesin pencari uang" saja, gak perlu dimasukkan ke dalam hati terlalu dalam.
Mulailah cari kebahagiaan dan validasi diri di luar jam kerja. Kamu bisa fokus ke hobi lama yang sempat ditinggal, ikutan komunitas baru, atau sesederhana jalan-jalan sore tanpa menyentuh HP kantor. Pisahkan dengan jelas kapan waktunya kamu jadi profesional yang profesional, dan kapan waktunya kamu jadi manusia seutuhnya.
Situasi kerja yang gak ideal memang bikin capek, tapi membiarkan rasa benci itu mengontrol seluruh sisa hidup dan kesehatan mentalmu jelas bukan pilihan yang bijak. Pekerjaan atau perusahaan akan selalu bisa nyari pengganti kamu dalam hitungan minggu kalau kamu tumbang, tapi kesehatan dan kewarasanmu gak bakal ada yang bisa ganti. Jadi, yuk mulai lebih bijak ngatur emosi biar gak gampang habis energinya!
________________________________________________
Ditulis oleh:
Yuli Susanti
Meisia Kurniasih
Rahmatulloh Hidayat
