Konten dari Pengguna

Customer Story Nanni dari Mesopotamia Tahun 1750 SM

Yulia Andini
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Diponegoro, Fakultas Ilmu Budaya
10 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Customer Story Nanni dari Mesopotamia Tahun 1750 SM
Customer story tertua ternyata ditulis tahun 1750 SM lho! Kenali kisah Nanni dan Ea-Nasir, customer story dari zaman Mesopotamia.
Yulia Andini
Tulisan dari Yulia Andini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi customer story (From Freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi customer story (From Freepik.com)
ADVERTISEMENT
Customer story adalah kisah nyata dari pelanggan yang menceritakan bagaimana mereka menggunakan suatu produk atau layanan dan dampak yang mereka rasakan.
ADVERTISEMENT
Biasanya permintaan untuk menuliskan customer story muncul setelah beli barang atau menggunakan layanan ojek online.
Bintang-bintang dan ulasan yang kita berikan memang penting banget untuk menilai kualitas pelayanan atau produk. Di era digital seperti sekarang, review pelanggan bahkan bisa menentukan reputasi sebuah bisnis.
Tapi tahukah kamu, tradisi memberi review ternyata sudah ada sejak 4.000 tahun lalu?

Siapa Nanni dan Ea-Nasir?

Kenalan dulu dengan Nanni, seorang pelanggan asal Mesopotamia (sekarang wilayah Irak) yang berani speak up soal kualitas tembaga yang ia beli dari seorang pedagang bernama Ea-Nasir asal Tilmun.
Kisah Nanni ini begitu terkenal hingga Guinness World of Records menetapkannya sebagai keluhan pelanggan tertua di dunia yang pernah ditemukan.

Customer Journey Nanni untuk Ea-Nasir

Kisah komplain legendaris ini ditemukan oleh arkeolog Sir Leonard Woolley di kota Ur, dalam proses ekskavasi antara tahun 1922–1934.
ADVERTISEMENT
Ia menemukan sebuah tablet tanah liat (clay tablet) berisi tulisan dalam Bahasa Akkadia yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1750 SM. Menariknya, tablet tersebut ditemukan di halaman rumah Ea-Nasir sendiri, bersama beberapa dokumen bisnis dan bahkan beberapa komplain pelanggan lainnya.
Dalam tablet tersebut, Nanni mengungkapkan kekecewaannya terhadap kualitas tembaga buruk yang diberikan Ea-Nasir dan perlakuan tidak adil terhadap karyawannya.
Menurut National Geographic, Nanni menulis bahwa Ea-Nasir telah berjanji akan memberikan tembaga berkualitas tinggi, tapi yang diterima justru sebaliknya. Ia bahkan menulis kalimat yang kini terkenal:

Kisah Nanni yang Tetap Abadi

Sayangnya, keluhan Nanni tidak pernah digubris. Dalam suratnya, ia juga menulis bahwa ketika mencoba menyampaikan komplain secara langsung, Ea-Nasir justru marah dan mengusirnya.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, keluhan Nanni tetap hidup hingga ribuan tahun kemudian. Tablet berisi protesnya kini disimpan di British Museum dan bahkan menginspirasi banyak meme serta diskusi lucu di internet tentang “customer service zaman dulu.”

Jujur Kepada Pelanggan Itu Perlu by Nanni

Kalau dipikir-pikir, alasan e-commerce, ojek online, dan UMKM sekarang getol meminta review sebenarnya sama, mereka membutuhkan umpan balik untuk memperbaiki layanan dan meningkatkan kualitas produk.
Baik ulasan positif maupun negatif, keduanya penting bagi pertumbuhan bisnis.
Pelanggan yang merasa didengar cenderung lebih loyal dibanding pelanggan yang diabaikan. Karena itu, customer story yang baik dapat mencerminkan kualitas suatu brand sekaligus memperkuat reputasinya di mata masyarakat.
Dari Ea-Nasir kita belajar, menolak kritik berakibat kehilangan kepercayaan, dan terbukti menjadi bahan candaan ribuan tahun setelahnya.
ADVERTISEMENT
Berkat Nanni, kisahnya kini menjadi pengingat abadi bahwa mendengarkan pelanggan adalah kunci keberlanjutan bisnis.