Closrec: Bentuk Perjuangan Merekrut Anggota Organisasi Mahasiswa

Yulia Minarti Arafat
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Aktif di kegiatan kemahasiswaan bidang legislatif kampus serta pers mahasiswa Pena Budaya FIB Unpad.
Konten dari Pengguna
19 Februari 2024 7:40 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yulia Minarti Arafat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Organisasi mahasiswa (ormawa) semakin menurun tiap tahunnya. Hal ini sesuai dengan data yang ada di lapangan, yaitu eksistensi BEM kurang vokal tiap pergantian kepengurusan. Tentunya ini diakibatkan oleh kurangnya sumber daya di organisasi tersebut sehingga memengaruhi pembagian SDM yang kurang merata, dan akhirnya harus mengefisienkan SDM yang seadanya. Kasus ini menjadi bukti bahwa organisasi menjadi kurang diminati oleh mahasiswa.
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/black-lives-matter-protest-5251408/
Pengaruh ini sebenarnya disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang yaitu adanya program kampus merdeka belajar yang sangat bermanfaat dan memberi profit yang menjanjikan. Otomatis hal itu menjadi pertimbangan bagi mahasiswa, apakah harus mengikuti program resmi dengan berbagai keuntungan atau menjadi pengurus organisasi yang non-profit. Pertimbangan ini yang membuat organisasi menjadi rencana kesekian para mahasiswa untuk mencari pengalaman.
ADVERTISEMENT
Fenomena tersebut membuat masa regenerasi yang acapkali terhambat. Contohnya di Himpunan-himpunan yang lingkupnya satu jurusan saja. Himpunan yang lumayan kecil kurang bisa menggaet mahasiswa untuk menjadi pengurus karena lingkupnya kecil dan kurang diminati. Banyak alasan mahasiswa menolak untuk tidak bergabung menjadi pengurus himpunan di jurusannya. Seperti mau fokus kuliah, fokus kerja, mau MBKM, atau tidak tertarik sama sekali.
Siapakah Penerus Ormawa: Ilustrasi Diambil dari Pixabay https://pixabay.com/photos/books-question-mark-college-student-4136388/
Kejadian ini yang membuat pengurus tahun sebelumnya sulit untuk mencari penerus. Segala cara telah dilakukan dan mungkin terdapat bantuan program studi dengan kebijakan adanya konversi sks. Namun tetap saja tidak tertarik, mengapa demikian? Jawaba tersebut tidak dapat dijabarkan secara jelas karena pasti akan banyak alasan-alasan mengapa tidak mau menjadi penerus himpunan. Sungguh menyedihkan.
ADVERTISEMENT
Hingga tibalah pada perekrutran anggota yang harus diiming-imingi banyak hal dan banyaknya janji manis yang seharusnya dapat menggaet banyak orang. Namun kenyataannya 50:50 karena sangat susah. Perekrutan dimulai dari open recruitment secara resmi di media sosial organisasinya, namun selama oprec masih kosong belum ada yang daftar. Bahkan ketika telah melakukan perpanjangan waktu juga tetap sedikit pendaftaran ormawa. Akhirnya cara yang dilakukan ada close recruitment yaitu penarikan anggota melalui orang dalam. Orang dalam di sini bermaksud, pengurus baru menarik teman-teman dekat untuk gabung dengan organisasinya.
Sebenarnya saya kurang setuju dengan adanya closrec, karena hal ini tentu akan menurunkan standar kualifikasi SDM yang dicari. Namun karena susah, closrec ini menjadi jalan terakhir dan tentunya harus ada pembinaan lebih jelas. Walaupun anggota yang ditarik mungkin kurang sesuai, namun jika dibimbing bersama, maka akan menimbulkan proses bersama yang lebih baik.
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/beauty-campus-youth-portrait-happy-718825/
Lagipula organisasi adalah tempat untuk upgrade manajemen setiap individu dalam meningkatkan skill dan menjalin sosialisasi dengan banyak orang. Jadi sudah seharusnya ormawa tidak terlalu kaku, jadikan ormawa adalah organisasi yang bermanfaat dan membawa manfaat bagi banyak orang. Tujuannya adalah untuk menarik banyak peminat dan terus mengembangkan organisasi tersebut, walaupun kadang ada pasang surut.
ADVERTISEMENT
Kepada para pengurus ormawa, semangat!