Sebuah Pengalaman, Speech itu Tidak Menyebalkan

Yulia Minarti Arafat
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Aktif di kegiatan kemahasiswaan bidang legislatif kampus serta pers mahasiswa Pena Budaya FIB Unpad.
Konten dari Pengguna
4 April 2024 22:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yulia Minarti Arafat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/speaker-public-speaking-message-4610564/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/speaker-public-speaking-message-4610564/
ADVERTISEMENT
Speech atau pidato merupakan salah satu skill yang harus dimiliki seseorang dalam melangsungkan kehidupan. Adanya pidato ini membuat seseorang berani mengemukakan pendapat dan argumentasi. Pidato juga dinilai sebagai poin plus seseorang, karena dengan adanya pidato dapat mempengaruhi banyak orang melalui perkataan yang disampaikan. Namun sebagian orang merasa kurang nyaman untuk mengungkapkan pendapatnya, karena tidak percaya diri, apalagi jika harus berbicara di depan umum. Maka hal itu paling dihindari.
ADVERTISEMENT
Pada nyatanya di lapangan, pidato dianggap sebagai hal yang formal, yaitu untuk menyampaikan poin tertentu. Padahal pada kenyataannya tidak semua pidato harus panjang dan bersifat formal. Pidato sendiri merupakan bentuk dari tuturan yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Namun yang membedakan pidato dengan yang lain, bahwa pidato memiliki tujuannya tersendiri. Dengan kita mengungkapkan pendapat mengenai apa yang kita pikirkan, maka terjadilah tuturan. Tuturan tersebut disampaikan dengan baik atau tidak. Jika kita dapat mengemas tuturan tersebut maka tuturan yang disampaikan termasuk ke dalam pidato.
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/encounter-administration-chief-3288133/
Pidato yang terjadi dapat mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu pidato termasuk ke dalam peristiwa tutur yang melibatkan pembicara dan pendengar. Pembicara adalah orang yang melakukan tuturan, sedangkan pendengar merupakan audiens atau penyimak tuturan yang disampaikan. Pidato dapat dikatakan sukses ketika pendengar dapat memahami maksud dari pembicara dan terjalinlah peristiwa tutur yang sejalan.
ADVERTISEMENT
Saya memiliki pengalaman yang lumayan dalam berpidato, pun saya menganggap bahwa pidato merupakan sesi sharing yang dapat dilakukan secara santai atau serius. Yang dapat saya bagikan tentu berkaitan dengan bidang yang saya kuasai. Contohnya di keorganisasian. Pernah sekali ketika saya menyampaikan sharing dan diskusi di suatu kumpulan, salah satu audiens kajian saya lumayan aktif. Aktif di sini berkonotasi negatif, karena beliau setiap saya berbicara akan mengeluarkan celetukan yang tidak disaring, saya awalnya merasa biasa saja. Namun lama kelamaan agak jengkel. Tetapi hal tersebut tidaklah menjadi penghambat saya untuk meneruskan diskusi, saya menganggap bahwa individu tersebut adalah tantangan bagi saya untuk memberikan pengertian secara halus. Kemudian saya jadikan pengalaman yang tidak terlupakan, karena dengan itu saya merasa harus memperbaiki penguasaan audiens agar dapat fokus ketika sesi sharing.
Ilustrasi Diambil dari Pixabay: https://pixabay.com/photos/team-feedback-report-back-office-2894828/
Dengan adanya contoh peristiwa tersebut, membuat saya yakin bahwa speech itu tidak menyebalkan. Tapi suatu momen penuh keseruan. Kita jadi lebih berani, dan menghargai pendapat seseorang, pun melatih kesabaran dan cara tanggap dalam menghadapi pertanyaan dan peristiwa lainnya. Saya percaya bahwa lisan itu yang utama dalam menjalankan komunikasi dengan sesama manusia sosial.
ADVERTISEMENT