Konten dari Pengguna

Laboratorium di Era Modern: Lebih dari Sekadar Menguji Sampel

yuliakaryana

yuliakaryana

Pharmaceutical and Food Safety Specialist

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari yuliakaryana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menuju Integrated Risk-Based Laboratory untuk Pengawasan yang Lebih Cerdas"

Dok: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Dok: istimewa

"Selama puluhan tahun laboratorium diukur dari jumlah sampel yang diuji. Namun di tengah ledakan jumlah produk dan semakin kompleksnya risiko kesehatan masyarakat, ukuran keberhasilan itu tidak lagi cukup. Laboratorium saatnya berubah dari sekadar menghasilkan data menjadi penghasil intelijen ilmiah yang mendukung keputusan berbasis risiko."

Setiap kali seseorang menelan obat, menyeduh susu untuk anak, membeli makanan dalam kemasan, menggunakan kosmetika atau mengkonsumsi suplemen kesehatan, sesungguhnya ada satu pihak yang bekerja diam-diam dibalik rasa aman tersebut: laboratorium pengujian. Fakta yang ada saat ini, laboratorium hampir selalu berada di belakang layar. Ketika sebuah produk dinyatakan aman, hampir tidak ada yang bertanya bagaimana proses ilmiah dibalik keputusan tersebut. Sebaliknya, ketika terjadi kasus obat tercemar, pangan mengandung bahan berbahaya, atau suplemen tidak memenuhi standar mutu, laboratorium menjadi institusi pertama yang dicari.

Variasi produk obat dan makanan olahan yang beredar terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, inovasi industri berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan regulator menambah kapasitas laboratorium uji.

Hampir setiap hari, laboratorium menerima berbagai jenis sampel dengan karakteristik risiko yang sangat berbeda, pun dengan jumlah mulai dari satuan hingga ratusan. Ada produk berisiko rendah yang secara hasil uji memiliki rekam jejak kepatuhan sangat baik, ada pula produk baru termasuk juga produk impor atau mungkin ada juga produk dengan riwayat pelanggaran yang secara ilmiah memerlukan perhatian lebih besar. Sungguh kondisi yang sangat beragam akan dihadapi setiap harinya.

Dengan segala kemampuan dan sumberdaya yang ada, laboratorium bukan lagi sekadar fasilitas teknis yang menghasilkan angka-angka hasil pengujian dan pemastian kandungan suatu zat atau cemaran, namun laboratorium juga menjadi fondasi pengambilan keputusan regulator dalam melindungi kesehatan masyarakat.

Di era globalisasi dan digitalisasi serta kemudahan dalam perdagangan melalui jalur elektronik saat ini, muncul pertanyaan yang menjadi dasar peran laboratorium saat ini :

“Apakah laboratorium pengujian masih cukup hanya dengan menguji sampel?”

Dalam berbagai sistem pengawasan, hampir seluruh sampel masih sering diperlakukan relatif sama. Terdapat konsekuensi sederhana ats hal tersebut, tetapi penting. Laboratorium menghabiskan energi untuk menguji banyak sampel, tetapi belum tentu menguji dan menentukan sampel mana yang paling berisiko dan berbahaya.

Dari Testing Laboratory Menjadi Intelligence Laboratory

Selama bertahun-tahun keberhasilan laboratorium sering diukur menggunakan indikator operasional:

• Jumlah sampel,

• Jumlah parameter,

• Jumlah laporan hasil uji,

atau waktu penyelesaian pengujian.

Seluruh indikator tersebut memang penting, Namun, indikator tersebut belum menjawab pertanyaan utama di mana pengujian tersebut apakah benar-benar menurunkan risiko kesehatan masyarakat?

Kuantitas Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Perlindungan

Dalam Manajemen Risiko ISO 31000:2018, dikenal prinsip bahwa sumber daya yang terbatas diarahkan pada risiko terbesar . Prinsip serupa juga menjadi dasar risk-based thinking pada ISO/IEC 17025:2017, yang mengharuskan laboratorium mempertimbangkan risiko yang dapat memengaruhi mutu hasil maupun efektivitas sistem manajemen.

Dalam hal ini, laboratorium modern tidak hanya dituntut menghasilkan data yang akurat, tetapi juga mampu menentukan data mana yang paling penting untuk dihasilkan terlebih dahulu. Melalui berbagai data yang terhimpun dan mengolah data sampel, hasil tren data yang tepat dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan pemangku kepentingan sekaligus membuat laboratorium yang Integrated Risk-Based.

Dengan konsep tersebut, pertanyaan "sampel mana yang memenuhi syarat?" akan berubah menjadi "Produk mana yang paling berisiko dan menimbulkan masalah beberapa bulan ke depan?"

Perubahan signifikan yang mungkin dapat terjadi ini tidak lepas dari integrasi berbagai data yang terkumpul jadi satu kesatuan, seperti riwayat kepatuhan industri, hasil inspeksi sarana, data impor, surveilans pasar, tren adanya cemaran, laporan efek samping, pengaduan masyarakat, analisis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta pendukung lainnya yang mungkin diperlukan untuk mewujudkan Integrated Risk-Based Laboratory.

Konsep Integrated Risk-Based Laboratory dapat dibangun atas tiga pilar utama, yaitu:

(1) Scientific evidence (didasarkan pada bukti ilmiah yang valid)

(2) Risk management (seluruh aktivitas laboratorium disusun berdasarkan prioritas risiko terhadap kesehatan masyarakat)

(3) Digital intelligence (pemanfaatan data besar (big data), sistem informasi laboratorium, dashboard analitik, dan kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan)

Ketiga pilar tersebut merupakan prinsip-prinsip laboratorium berbasis kompetensi (ISO/IEC 17025:2017), manajemen risiko (ISO 31000:2018), serta transformasi digital laboratorium dan pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan berbasis bukti.

Sistem laboratorium yang tangguh harus mampu menghasilkan data berkualitas yang mendukung kebijakan kesehatan masyarakat dan menempatkan data ilmiah sebagai dasar utama dalam analisis risiko pangan. Sayangnya, banyak data hasil pengujian masih tersimpan sebagai dokumen historis, belum dimanfaatkan untuk membangun model prediksi risiko. Melalui analisis tren, laboratorium dapat mengidentifikasi pola kontaminasi sebelum berkembang menjadi kejadian luar biasa.

Mulai saat ini, transformasi laboratorium bukan lagi tentang memiliki instrumen yang lebih canggih atau untuk mempercepat waktu pengujian. Laboratorium uji diharapkan harus berkembang dari sesuatu yang berorientasi pada jumlah pengujian menjadi berorientasi pada pengurangan risiko kesehatan masyarakat dan keamanan mutu produk yang digunakan.

Laboratorium saat ini seharusnya tidak lagi diukur dari banyaknya sampel yang diuji. Nilainya ditentukan oleh seberapa banyak risiko yang berhasil dikendalikan, dicegah, seberapa cepat ancaman dapat diidentifikasi dan seberapa tepat data ilmiah digunakan untuk melindungi masyarakat. Ketika laboratorium mampu mengubah data menjadi intelijen risiko, pengujian tidak lagi berhenti pada angka-angka di laporan, tetapi menjadi dasar keputusan yang menyelamatkan kesehatan publik.

Inilah esensi Integrated Risk-Based Laboratory—laboratorium yang tidak hanya menghasilkan hasil uji, tetapi juga memberikan hasil bagi pengawasan yang lebih cerdas, adaptif dan berdampak luas

Berapa banyak masyarakat yang terlindungi karena keputusan ilmiah yang tepat, pada waktu yang tepat.