Andil Media dalam Mengolah Pola Pikir Manusia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki kompetensi dibidang kehumasan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yulian Amiftahkhul Ibra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media dapat menggagas rasa dan cara pandang kita terhadap sesuatu, percayakah kamu? Rasanya hal ini memang harus diakui secara massal. Karena sadar atau tidak media merupakan saluran informasi yang kita peroleh setiap harinya. Perolehan informasi ini benar-benar tidak terbatas akhir-akhir ini.
Dahulu, media cetak menjadi pacar bagi semua orang yang haus akan informasi berbarengan dengan radio dan televisi yang kian menjamur dan membuat masyarakat dapat memilih saluran apa yang dia sukai.
Lebih jauh memang media memilki peranan sendiri untuk menghipnotis pemirsanya sehingga akan terbentuk pola pikir kita secara tidak sadar. Ditambah lagi dengan fenomena media sosial yang kian menjamur, sehingga membuat masyarakat semakin bebas untuk membagikan informasi yang dia dapat.
Fenomena ini sering dimaknai sebagai revolusi media modern, citizen journalist yang orang dapat memproduksi berita sendiri dan membagikannya di kanal akun mereka masing-masing. Banyak kanal media sosial yang mendukung hal ini terjadi.
Dampaknya, sekarang perputaran informasi yang lebih cepat dan terkadang tidak akurat. Kenapa? Karena dalam sebuah informasi terdapat framing yang ditunjukkan oleh pengguna media tersebut. Framing ini yang membuat paparan informasi yang didapat oleh manusia terkadang tidak penuh, mengurangi konteks dan mempengaruhi cara pandang kita akan suatu perkara yang dibagikan.
Tak jarang potongan-potongan informasi inilah yang membuat kita menjadi terkotak dengan sebuah sudut pandang dan cenderung mudah menghakimi sudut pandang yang berbeda dengan apa yang kita percaya. Tak sedikit dari kita yang terpapar dengan hoaks yang bertebaran di dunia digital ini karena informasi yang disajikan tidak penuh dengan nada provokasi.
Menisik lebih lanjut, agaknya ini pula yang terjadi pada kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang berbuntut pada aksi 212 pada 2016 lalu.
Kasus ini mencuat setelah ada potongan video pidato dari Pak Ahok yang akhirnya memprovokasi publik untuk melakukan sebuah aksi. Terlepas dari siapa yang salah dan benar, hal ini membuktikan bahwa media dapat mempengaruhi pola pikir manusia yang terpapar oleh informasi.
Indonesia membutuhkan literasi digital yang lebih menyeluruh lagi bagi masyarakatnya. Karena jika literasi digital tidak digalakkan, rasanya masyarakat Indonesia akan lebih mudah lagi untuk menyekat diri dengan yang berbeda pandang dengan mereka.
