Konten dari Pengguna

Resensi Janji: Menyulam Ampun Dari Luka, Menyusuri Jejak Bahar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuliana Dyah Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam khazanah sastra populer Indonesia, nama Tere Liye telah lama dikenal lewat novel-novelnya yang sarat pesan moral. Diterbitkan oleh PT Sabak Grip Nusantara pada tahun 2021, Janji menghadirkan kisah pengembaraan dalam 488 halaman, tentang kebaikan yang bersembunyi di balik rupa yang buruk dan pintu ampunan yang tak pernah tertutup.

Novel "Janji" (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Novel "Janji" (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sinopsis dan Latar Cerita

Cerita berlatar sebuah pesantren di pedalaman Sumatra yang dipimpin oleh seorang Buya. Suatu hari, pesantren itu menerima kunjungan seorang calon presiden beserta rombongannya. Di tengah penyambutan tersebut, tiga santri paling nakal, yaitu Hasan, Baso, dan Kaharuddin, justru berulah dengan memasukkan garam dalam jumlah banyak ke teh yang disuguhkan kepada tamu dan Buya. Para pengurus murka, dan ketiganya terancam dikeluarkan.

Namun, Buya memilih jalan yang lebih bijak. Alih-alih mengusir, ia menjatuhkan hukuman sekaligus misi, mencari seorang lelaki bernama Bahar. Bahar adalah mantan santri di masa ayah Buya, yang kenakalannya jauh melampaui ketiga santri itu hingga ia diusir dari pesantren. Sebelum melangkah keluar gerbang, ia membisikkan sebuah janji kepada sang kiai tua, dan bisikan itulah yang menjadi teka-teki terbesar dalam cerita.

Berbekal petunjuk yang sangat sedikit, Hasan, Baso, dan Kahar berkelana dari kota ke kota. Lewat kesaksian orang-orang dari masa lalu Bahar, kisah hidupnya terkuak sepotong demi sepotong. Selepas diusir, ia hidup sebagai preman, penjudi, dan pemabuk, hingga mendekam di LP Cipinang karena kasus pembunuhan demi membela diri. Meski begitu, di setiap tempat yang ia singgahi, ia diam-diam menanam kebaikan besar.

Di balik jeruji, ia dihormati karena membela narapidana yang tertindas, dan di sanalah perubahan spiritualnya mulai tumbuh. Pada puncak cerita, ketiga santri akhirnya bertemu Bahar yang kini renta dan hidup dalam kesederhanaan. Terungkaplah janji lama itu, ia memilih memikul cacian dan keburukan dunia agar nama baik pesantren dan gurunya tetap terjaga. Perjalanan panjang tersebut menempa ketiganya menjadi pemuda yang penuh empati dan bijaksana.

Sebagai novel yang menyuguhkan kisah perjalanan sekaligus renungan, Janji membuktikan bahwa cerita yang ditulis dengan sederhana mampu menyentuh pembaca dari berbagai usia.

Pendapat Pribadi

Bagi saya, hal paling memikat dari novel ini adalah rahasia yang dijaga rapat hingga halaman-halaman akhir. Isi janji Bahar membuat pembaca terus bertanya-tanya, dan jawabannya tidak mengecewakan. Pengakuan Bahar bahwa ia rela menanggung dosa dan cacian dunia agar kesempatan kembali kepada-Nya selalu tampak terbuka adalah inti emosional cerita yang sangat kuat.

Bagian yang paling membekas bagi saya adalah saat Bahar diingatkan, "Lagi pula, Tuhan saja maha pemaaf, Bahar. Kenapa kau melangkahi Tuhan? menghukum diri sendiri." Kalimat ini menyentuh karena menyadarkan bahwa terlalu keras pada diri sendiri atas kesalahan masa lalu sama artinya dengan meragukan luasnya ampunan Tuhan. Pesan ini begitu dekat dengan kehidupan nyata, sebab tak sedikit orang terperangkap dalam rasa bersalah hingga lupa bahwa pintu untuk memperbaiki diri tak pernah benar-benar tertutup.

Dibandingkan dengan Negeri 5 Menara karya A. Fuadi yang juga berlatar pesantren, Janji lebih menitikberatkan pada pengembaraan mencari sosok dan pesan moral di baliknya, sementara Negeri 5 Menara berkisah tentang perjuangan merengkuh mimpi. Meski berbeda arah, keduanya sama-sama menghadirkan kehangatan kehidupan pesantren. Alur yang episodik membuat setiap persinggahan menghadirkan pelajaran baru, dan bahasa Tere Liye yang sederhana membuat novel setebal ini tetap nyaman dibaca. Namun, karena Bahar digambarkan nyaris tanpa cela di balik keburukannya, sebagian pembaca mungkin merasa tokoh ini terlalu ideal. Kekurangan itu tidak sampai mengurangi kekuatan pesan yang ingin disampaikan.

Janji bukan sekadar kisah tiga santri nakal yang dihukum mencari seseorang. Novel ini adalah perjalanan tentang ketulusan, kebaikan yang tersembunyi, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Dari buku ini saya belajar untuk tidak menilai orang dari penampilannya, berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan, dan percaya bahwa ampunan Tuhan lebih luas daripada dosa sebesar apa pun. Bagi siapa saja yang mencari bacaan yang menenangkan sekaligus menggugah hati, Janji layak masuk daftar bacaan Anda.