Kamera Dulu, Empati Kemudian: Ketika Konten Mengalahkan Kemanusiaan

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yuliana Asriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pemandangan yang semakin sering muncul di ruang publik — sebuah fenomena yang mencerminkan hilangnya empati di tengah masyarakat digital. Ketika kecelakaan terjadi, seseorang pingsan di tempat umum, atau korban bencana membutuhkan bantuan, sebagian orang justru lebih cepat mengangkat telepon genggam daripada mengulurkan tangan. Peristiwa direkam, diunggah, lalu beredar di media sosial. Fenomena ini begitu sering terjadi hingga perlahan dianggap sebagai hal yang wajar, padahal [etika berinteraksi di media sosial seharusnya tetap menempatkan empati di atas segalanya.
Kebiasaan merekam penderitaan orang lain sebelum memberikan pertolongan menunjukkan adanya krisis empati yang serius. Di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia, sebagian masyarakat justru lebih terdorong menjadi penonton daripada penolong.
Peristiwa kecelakaan maut di Jalan Transyogi, Cibubur, pada 18 Juli 2022 menjadi contoh yang menyentak. Saat Firas Firdaus terjepit di bawah truk Pertamina dan berteriak meminta tolong, banyak warga di sekitar lokasi justru sibuk merekam kejadian tersebut. Istri korban, Nadita, mengaku kepada Kompas.com bahwa hampir satu menit berlalu tanpa ada yang menolong karena orang-orang sibuk merekam video. Pertolongan baru datang dari Kurwanto, seorang pengamen muda berusia 21 tahun yang memilih bertindak ketika orang lain hanya menyaksikan. Kasus ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan dari fenomena sosial yang lebih luas: ketika kamera didahulukan, empati sering kali tertinggal.
Secara etis, merekam penderitaan orang lain tanpa berusaha membantu bukanlah tindakan yang netral. Pilihan untuk mengarahkan kamera kepada korban merupakan keputusan yang menunjukkan prioritas tertentu. Dalam situasi darurat, keselamatan manusia seharusnya menjadi perhatian utama, namun budaya media sosial telah menciptakan dorongan untuk mengabadikan setiap peristiwa, termasuk tragedi yang menimpa orang lain.
Akibatnya, batas antara kepedulian dan tontonan menjadi semakin kabur. Banyak orang merasa telah berpartisipasi hanya karena membagikan video atau menunjukkan reaksi di media sosial. Padahal, kepedulian sejati tidak diukur dari jumlah tayangan, melainkan dari tindakan nyata yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan bantuan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan bystander effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk tidak bertindak ketika banyak orang lain berada di lokasi yang sama. Psikolog sosial John Darley dan Bibb Latané menemukan bahwa semakin banyak saksi yang hadir, semakin kecil rasa tanggung jawab pribadi yang dirasakan masing-masing individu, karena semua menunggu orang lain bergerak lebih dulu (Darley & Latané, 1968).
Di era digital, efek tersebut memperoleh bentuk baru. Alih-alih membantu, sebagian orang memilih merekam dan menunggu orang lain mengambil tindakan. Padahal, dalam kondisi darurat, beberapa menit pertama sering kali menjadi penentu keselamatan korban. Waktu yang digunakan untuk mengambil gambar bisa menjadi waktu yang hilang untuk memberikan pertolongan atau menghubungi layanan darurat. Kurwanto sendiri mengungkapkan kekecewaannya: "Dalam hati saya, ya Allah kenapa sih Indonesia gini banget, ada orang kecelakaan ngambilnya HP, bukannya langsung nolongin" (IDN Times, 2022).
Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku ini terus direproduksi melalui media sosial. Ketika video korban kecelakaan atau musibah beredar luas dan dianggap lumrah, masyarakat perlahan belajar bahwa menjadi penonton adalah respons yang dapat diterima.
Persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan kemarahan sesaat di kolom komentar. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang, bahwa menolong harus selalu didahulukan daripada mendokumentasikan. Sekolah dan keluarga perlu memperkuat pendidikan etika serta keterampilan pertolongan pertama agar masyarakat memiliki keberanian untuk bertindak dalam situasi darurat. Di sisi lain, platform media sosial juga perlu lebih bertanggung jawab terhadap penyebaran konten yang menampilkan penderitaan korban tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Melatih ulang refleks kita untuk lebih peka juga bisa dimulai dari hal sederhana, misalnya dengan [mengurangi waktu di media sosial agar kepekaan terhadap sesama tidak semakin tumpul.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah nilai yang digunakan manusia ketika menggunakannya. Kamera tidak pernah salah; yang perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang terlalu cepat merekam dan terlalu lambat peduli.
Kasus Cibubur menunjukkan bahwa hilangnya empati bukan lagi persoalan individu semata, melainkan persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian bersama. Ketika seseorang berada dalam kondisi darurat, hal pertama yang dibutuhkan bukanlah sorotan kamera, melainkan pertolongan. Karena itu, budaya "kamera dulu, empati kemudian" harus diubah menjadi "empati dulu, dokumentasi kemudian." Sebab dalam situasi genting, satu uluran tangan akan selalu lebih berharga daripada ribuan tayangan video.
Sumber
Darley, J. M., & Latané, B. (1968). Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility. Journal of Personality and Social Psychology, 8(4), 377–383.
Detik.com. (2022, 20 Juli). Cerita 'Iron Man' tolong korban kecelakaan Cibubur saat yang lain merekam. https://news.detik.com/berita/d-6189763
Detik.com. (2022, 21 Juli). Duh! Banyak warga disebut malah merekam saat kecelakaan maut Cibubur. https://news.detik.com/berita/d-6190426
IDN Times. (2022). Kesaksian 'Iron Man' saat terjadi kecelakaan maut Cibubur. https://www.idntimes.com/news/indonesia/uji-sukma-medianti-1/kesaksian-iron-man-saat-terjadi-kecelakaan-maut-cibubur
Jawa Pos. (2022, 22 Juli). Tidak ada yang menolong, cerita 'Iron Man' bantu kecelakaan maut. https://www.jawapos.com/jabodetabek/01398189
Kompas.com. (2022, 21 Juli). Banyak warga sibuk merekam saat kecelakaan maut Cibubur, bikin keluarga korban miris. https://megapolitan.kompas.com/read/2022/07/21/14421061
