Konten dari Pengguna

Ketika Cinta dan Keadilan Harus dibayar Mahal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulingga Juventini Siti Azahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : https://www.pexels.com/id-id/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : https://www.pexels.com/id-id/

“Tenanglah, sayang. Kita sudah menang.” Kalimat itu menjadi penutup yang menyisakan keheningan panjang dalam cerpen Kendelar. Bukan karena cerita telah berakhir dengan kebahagiaan, melainkan karena pembaca harus memahami bahwa kemenangan terkadang tidak selalu identik dengan keselamatan, atau kebersamaan. Ada harga yang perlu dibayar ketika seseorang memilih berdiri di pihak kebenaran.

Cerpen Kendelar menghadirkan tokoh Nan sebagai seseorang yang berusaha mengungkap hilangnya seorang anak yang menyuarakan haknya. Di tengah pencarian tersebut, ia justru berhadapan dengan pengkhianatan dari orang yang seharusnya menjadi tempat bergantung, yakni seniornya sendiri. Sementara itu, Nia hadir bukan sekadar sebagai pasangan, tetapi sebagai sosok yang memahami sekaligus menemani perjuangan Nan hingga akhir. Dari sinilah cerita berkembang menjadi refleksi tentang cinta, keadilan, dan pengorbanan.

Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi, karya fiksi merupakan hasil dialog pengarang dengan realitas kehidupan yang diolah melalui imajinasi sehingga mampu menghadirkan makna yang lebih luas daripada sekadar cerita. Pandangan tersebut tampak jelas dalam Kendelar. Konflik yang dialami Nan bukan hanya konflik pribadi, melainkan representasi dari kenyataan sosial yang masih sering ditemui, yakni sulitnya memperjuangkan keadilan ketika kekuasaan dan kepentingan ikut bermain.

Nurgiyantoro juga menjelaskan bahwa konflik merupakan unsur penting yang menggerakkan cerita. Konflik dapat berupa konflik internal maupun konflik eksternal. Dalam cerpen ini, kedua bentuk konflik tersebut hadir secara bersamaan. Secara eksternal, Nan berusaha mengungkap kasus hilangnya seorang anak dan menghadapi dugaan adanya penghilangan barang bukti oleh seniornya sendiri.

Namun, konflik yang paling kuat justru muncul dari dalam diri Nan. Ketika Nia bertanya, “Apa yang sesungguhnya kau takutkan?”, jawaban Nan bukanlah tentang ancaman terhadap dirinya, melainkan, “Aku takut meninggalkanmu sendirian.” Kalimat tersebut memperlihatkan bahwa keberanian bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, keberanian justru lahir ketika seseorang tetap memilih melangkah meskipun ketakutan itu ada.

Dalam kajian Burhan Nurgiyantoro, tokoh tidak hanya berfungsi sebagai pelaku cerita, tetapi juga sebagai pembawa gagasan yang ingin disampaikan pengarang. Nan merepresentasikan manusia yang berpegang pada idealisme dan rasa tanggung jawab. Sementara itu, Nia menjadi simbol kesetiaan dan pengorbanan.

Kehadirannya bukan sekadar melengkapi unsur romantis, melainkan memperlihatkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tidak pernah benar-benar dilakukan seorang diri. Sebaliknya, tokoh Hasim menjadi representasi penyalahgunaan kepercayaan. Penggambaran tokoh-tokoh ini memperkuat pesan moral bahwa ancaman terhadap keadilan tidak selalu datang dari musuh yang terlihat jelas, tetapi juga dapat muncul dari orang-orang yang berada di lingkaran terdekat.

Salah satu kekuatan Kendelar terletak pada penggunaan simbol. Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa karya fiksi sering memanfaatkan unsur simbolik untuk memperdalam makna cerita. Dalam cerpen ini, kandelar yang terus menyala kemudian padam dapat dimaknai sebagai harapan yang terus dijaga di tengah situasi yang gelap. Begitu pula cincin yang ditinggalkan Nia menjadi lambang ikatan, kesetiaan, sekaligus perpisahan. Adapun sapu tangan yang bercak darahnya terlihat di akhir cerita menjadi simbol bahwa setiap kemenangan memiliki harga yang harus dibayar.

Cerpen ini terasa relevan dengan kehidupan saat ini. Dalam berbagai kasus, tidak sedikit orang yang berusaha mengungkap kebenaran justru menghadapi tekanan, ancaman, bahkan kehilangan. Mereka yang bersuara sering kali harus berhadapan dengan sistem yang lebih kuat daripada dirinya. Kendelar tidak menawarkan solusi yang sederhana, tetapi mengajak pembaca merenungkan bahwa keadilan hampir selalu menuntut keberanian dan pengorbanan.

Yang menarik, kemenangan dalam cerpen ini tidak digambarkan sebagai akhir yang bahagia. Justru ketika Nia mengatakan,

“Tenanglah, sayang. Kita sudah menang,”

pembaca menyadari bahwa kemenangan tersebut dibayar dengan kehilangan. Pengarang seolah ingin menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan selalu tentang bertahan hidup atau tetap bersama, melainkan tentang berhasil mempertahankan nilai-nilai kebenaran di tengah berbagai tekanan.

Pada akhirnya, Kendelar bukan hanya sebuah kisah tentang cinta. Cerpen ini berbicara mengenai keberanian untuk memilih yang benar, kesetiaan dalam mendampingi perjuangan, dan pengorbanan yang sering kali luput dari perhatian. Sebagaimana dijelaskan Burhan Nurgiyantoro bahwa karya fiksi yang baik mampu memberikan pengalaman batin kepada pembacanya, Kendelar berhasil menjalankan fungsi tersebut. Cerita ini meninggalkan pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apabila suatu hari kita berada di posisi Nan, masihkah kita memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, meskipun harus membayar harga yang begitu mahal?

Daftar Pustaka :

Nurgiantoro, B. (2002). Teori Pengkajian puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University press.

Sandita, M. (2026). Kendelar. Batam : Compas id Kandelar

https://www.kompas.id/artikel/kandelar?utm_medium=shared&utm_source=link&utm_campaign=tpd_-_ios_traffic