Bernafas Bersama di Rumah Sederhana

Saya adalah seorang pendidik dan seorang penulis
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yulius Benny Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PALANGKA RAYA- Sore itu, Jalan Isakar Udang, Kota Palangka Raya tampak syahdu dengan air yang membasahi jalan, pertanda jalan tersebut habis diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Syahdunya sore hari itupun seketika pecah seketika saat terdengar suara nyanyian dan tepuk tangan dari banyak anak di kawasan itu.
Di dalam sebuah rumah sederhana, yang disebut “Panti Asuhan Amanda” terlihat sejumlah anak-anak dengan rompi berwarna abu-abu couple berbaris rapi saat menyambut kedatanganku. Ya, mereka adalah anak-anak Panti Asuhan Amanda Palangka Raya yang menyambutku dengan penuh senyuman. Raut bahagia dan penuh dengan kegembiraan di wajah mereka menambah kesan damainya sore itu.
Kedatanganku di sore itu adalah untuk berkunjung dan melihat dari dekat bagaimana kehidupan di Panti Asuhan ini. Memang dari kejauhan, sudah tampak terlihat senyuman manis dari anak-anak ini, dan terlihat sangatlah manis dan penuh ketulusan.
“Kami selalu merasa sangat senang ketika ada tamu yang datang berkunjung ke rumah sederhana kami,” ucap Pembina Panti Asuhan Amanda Kota Palangka Raya, Ibu Leni (51)
Dihuni oleh Puluhan Anak
Ia mengatakan bahwa di panti asuhan ini terdapat puluhan anak yang diasuh oleh mereka. Pada awalnya banyak anak-anak yang berasal dari Kalimantan Barat, namun seiring dengan berjalannya waktu, ibu Leni mulai mengasuh anak-anak dari Kalimantan Tengah dan berjalan hingga saat ini.
“Saat ini ada 17 anak yang tinggal di panti dan 8 anak binaan luar, jadi total ada 25 anak. Usia mereka berkisar dari 5 sampai 17 tahun.” katanya
Kini, ada 25 nyawa yang ia hidupi, dimana ada 17 anak tinggal menetap, sementara 8 lainnya merupakan anak binaan luar. Usia merekapun juga beragam, mulai dari balita berumur 5 tahun yang masih polos, hingga remaja usia 17 tahun yang mulai memikirkan bagaimana masa depannya kelak.
Anak-anak di panti asuhan inipun memiliki banyak mimpi dan cita-cita, mulai dari menjadi polisi, tentara, hingga menjadi orang sukses yang dalam pikiran mereka orang sukses adalah “Bos Sawit” dan “Bos Emas”. Hal ini merupakan bukti bahwa anak-anak bangsa, dalam kondisi minimal dan kondisi apapun juga mampu untuk memiliki mimpi agar dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Mendidik Dengan Disiplin
Ibu Leni selalu menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan anak-anak sehari-hari, mulai dari bagaimana bangun pagi, berdoa dan bersekolah. Mereka juga diajarkan agar dapat melakukan pekerjaan rumah sederhana sehari-hari dan belajar bagaimana nilai-nilai spiritual, yang kelak akan memberikan modal berharga bagi kelangsungan hidup mereka di masa yang akan datang.
Ia bukanlah tipe pengasuh yang hanya bisa memberi makan dan memberi perintah ini dan itu. Ia adalah pendidik yang keras dalam prinsip namun lembut dalam tujuan. Kedisiplinan adalah napas harian di panti ini yang akan turut serta membentuk karakter anak-anak yang berada di sini.
Setiap anak, punya tanggung jawab rumah tangga sederhana sebelum berangkat ke sekolah. Baginya pula, disiplin adalah modal utama agar anak-anak Kalteng bisa bersaing di tengah dunia modern saat ini. Namun di atas segalanya, nilai spiritual keagamaan ialah fondasi dasar untuk membentuk karakter semua anak yang ada di sini. Sebagai hamba Tuhan, ia ingin anak-anaknya tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang takut akan Tuhan dan mampu untuk senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar benderang, riuh rendah suara anak-anak sudah terdengar. Ada yang menyapu lantai, ada yang mengepel lantai, ada yang merapikan tempat tidur, hingga bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ada yang bersekolah di taman kanak- kanak, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas negeri atau sekolah menengah atas kejuruan negeri yang jaraknya lumayan jauh dari panti asuhan yang terletak di pinggiran Kota Palangka Raya ini.
Perlu diingat, dibalik keteraturan hidup itu, ada sosok Ibu Leni, seorang wanita yang memilih menyerahkan dan mengabdikan hidupnya untuk menjadi "tangan" bagi mereka yang nyaris kehilangan pegangan, yakni anak-anak panti asuhan tersebut. Saat bersosialisasi bersama, terlihat anak-anak begitu aktif dan tertib dalam berpartisipasi saat sesi games/ permainan yang dibuat oleh Pembina panti asuhan, dan terlihat mereka bermain dengan sportif dan mampu mengikuti setiap gerakan. Senyum dan tawa anak-anak terdengar begitu meriah menyelimuti bangunan sederhana tersebut.
Pengalaman masa kecilnya, membawanya serta untuk turut terbang bersama dalam kehidupan yang melayani sesama. Dimana ia pun di masa kecilnya hidup di panti asuhan, yang tentunya merupakan lingkungan yang dihuni oleh banyak orang, dengan latar belakang pengalaman hidup, yang berbeda- beda. Ada yang berasal dari yatim piatu, yatim, piatu, hingga tidak memiliki orang tua sejak lahir.
“Motivasi saya adalah karena saya juga pernah merasakan kasih Tuhan dan pernah dirawat oleh orang lain. Jadi saya ingin anak-anak lain juga bisa merasakan hal yang sama,” ucapnya.
Berawal dari Sebuah "Balas Budi"
Banyak orang membangun panti asuhan karena kelebihan harta, namun Ibu Leni membangunnya karena sebuah memori. Ia mengaku pernah berada di posisi anak-anak itu: merasakan kasih dan dirawat oleh orang lain.
"Saya pernah merasakan kasih Tuhan melalui tangan orang lain. Saya ingin anak-anak ini merasakan hal yang sama," ungkapnya tulus. Baginya, mengurus panti asuhan adalah sebuah estafet kebaikan. Ia hanya meneruskan apa yang pernah ia terima di masa lalu.
Panti asuhan yang berdiri sejak tahun 2021 ini awalnya dirintis oleh ia dan suami. Di awal, anak-anak yang mereka rawat berasal dari Kalimantan Barat, tetapi setelah itu justru lebih banyak anak dari Kalimantan Tengah yang datang dan bergabung di sini.
Dalam mengurus panti, kami menerapkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dibiasakan bangun pagi, mengerjakan pekerjaan rumah yang sederhana, lalu berangkat ke sekolah. Kami juga mengajarkan mereka untuk hidup disiplin setiap hari.
“Alasan saya mengurus panti ini adalah karena panggilan sebagai hamba Tuhan, untuk membantu anak-anak, khususnya di Kalimantan Tengah, agar mereka bisa mendapatkan pendidikan dan mengenal Tuhan,” ucapnya.
Dikelola secara Swadaya
Yang luar biasa, perjuangan ini dilakukan secara swadaya. Tanpa donatur tetap, panti asuhan ini bertahan dari kemurahan hati masyarakat yang datang silih berganti. Ibu Leni tidak pernah tahu dari mana bantuan akan datang esok hari, namun kerinduannya agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak selalu lebih besar dari rasa takutnya akan kekurangan yang mereka hadapi. Ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh pihaknya hari lepas hari, namun dengan doa dan tekad yang kuat, mereka pun mampu melewati tantangan demi tantangan yang hadir silih berganti.
Di Jalan Isakar Udang, Ibu Leni sedang membuktikan satu hal bahwa untuk mengubah dunia, kita tidak perlu menjadi kaya raya. Kita hanya perlu menjadi saluran kasih bagi mereka yang sering terlupakan.
Motivasi terbesar Ibu Leni adalah karena beliau pernah merasakan kasih dan pertolongan dari orang lain. Oleh karena itu, beliau ingin anak-anak lain juga bisa merasakan hal yang sama. Harapan beliau ke depan adalah agar anak-anak tersebut dapat menjadi pribadi yang berhasil, berpendidikan, dan memiliki iman yang kuat.
"Harapan saya sederhana saja. Saya ingin mereka berhasil, berpendidikan, dan punya iman yang kuat," tutupnya.
