Konten dari Pengguna

Generasi Rebahan vs Generasi Keras? Menimbang Ulang "Ketangguhan" di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari yulius wahyu putranto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

source:chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
source:chatgpt.com

"Anak zaman sekarang tidak setangguh zaman dahulu." Kalimat itu mungkin sudah sering kita dengar, entah dari orang tua kita, guru, atau bahkan komentar di linimasa media sosial. Nostalgia masa kecil yang penuh dengan permainan tradisional, kepolosan, dan "keringat" sering dijadikan tolok ukur ketangguhan. Sementara itu, generasi saat ini kerap dicap sebagai generasi rebahan atau strawberry generation kuat di luar tapi rapuh di dalam. Namun, benarkah generasi Z dan Alpha tidak setangguh generasi 90-an? Atau justru tantangan yang mereka hadapi berbeda bentuknya, sehingga "ketangguhan" pun harus didefinisikan ulang?

Dua Wajah Zaman: Antara Main Kelereng dan Main Gim

Generasi yang lahir di akhir 80-an hingga 90-an memang merasakan sweet spot sejarah. Mereka adalah generasi transisi. Di sore hari, mereka masih bermain kelereng, petak umpet, atau layang-layang di sawah. Namun, menjelang remaja, mereka mulai mengenal komputer Pentium II, chatting lewat ICQ, dan internet dial-up. Mereka tumbuh di antara dua dunia: analog dan digital.

Kebahagiaan yang mereka rasakan terbilang "lengkap" karena mereka mendapatkan sensasi fisik dari bermain di luar ruangan, sekaligus menjadi saksi mata lahirnya revolusi teknologi. Paparan radiasi gadget saat itu belum semasif sekarang. Televisi pun masih bersiaran terestrial, dan ponsel baru menjadi barang mewah di akhir era 90-an.

Di sinilah perbedaan mendasar. Generasi saat ini, yaitu mereka yang lahir pascatahun 2010 (Gen Alpha), adalah generasi digital native sejati. Mereka lahir ketika gawai sudah menjadi "empeng digital". Para orang tua yang notabene adalah generasi 80-an dan 90-an seringkali tanpa sadar menghadirkan gawai sebagai solusi instan untuk menenangkan anak. Di restoran, di mobil, atau di rumah, smartphone adalah "babysitter" paling praktis. Dan di sinilah letak ironinya: generasi yang dulu bahagia tanpa gadget, kini justru menjadi orang tua yang memperkenalkan gadget sedini mungkin.

Ketangguhan Bukan Hanya Fisik, Tapi juga Mental

Tuduhan bahwa anak zaman sekarang "tidak tangguh" seringkali dikaitkan dengan dua hal: fisik yang kurang aktif dan mental yang mudah cemas. Memang, data menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik anak kini menurun drastis. Mereka lebih akrab dengan jari daripada otot kaki. Namun, apakah itu berarti mereka "lemah"?

Para psikolog anak dan sosiolog justru melihat bahwa tantangan generasi sekarang jauh lebih kompleks. Jika generasi 90-an menghadapi masalah konflik fisik di lapangan, generasi saat ini menghadapi medan perang yang tak kasat mata: media sosial, perundungan siber (cyberbullying), distorsi citra tubuh, dan banjir informasi yang tak terfilter. Ketangguhan yang dibutuhkan kini bukan lagi ketangguhan otot, melainkan ketahanan mental (mental resilience), kemampuan menyaring informasi, dan kecerdasan emosional.

Dr. Rose Mini, psikolog anak dari Universitas Indonesia, dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa membandingkan generasi secara linear adalah kekeliruan. "Zaman dulu anak bermain tanah, sekarang anak bermain di dunia maya. Keduanya memiliki risiko dan manfaat. Tugas orang tua bukan menyalahkan zaman, tapi membekali anak dengan keterampilan menghadapi zamannya," ujarnya.

Warisan Generasi 90-an: Adaptasi, Bukan Dikotomi

Hal yang paling berharga dari generasi 90-an bukanlah "ketangguhan fisik" semata, melainkan kemampuan beradaptasi. Mereka adalah generasi yang paling luwes karena tumbuh di tengah perubahan paling cepat dalam sejarah manusia. Mereka bisa main di luar, lalu di dalam; bisa bergaul secara langsung, lalu bergaul secara daring; bisa membaca peta, lalu membaca GPS. Kemampuan adaptasi inilah yang harus diwariskan kepada anak-anak mereka saat ini.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang tua 90-an yang terjebak dalam nostalgia. Mereka melarang anak bermain gadget sambil menatap layar ponsel mereka sendiri. Mereka merindukan anak-anak bermain di luar, tapi takut anak terjatuh, kepanasan, atau terkena polusi. Mereka ingin anaknya tangguh, tapi segala risiko dihilangkan.

Padahal, ketangguhan tidak tercipta dari larangan, melainkan dari pendampingan. Jika kita ingin anak-anak generasi sekarang tangguh, maka orang tua harus tangguh terlebih dahulu dalam mendampingi mereka. Tangguh dalam membatasi waktu layar, tangguh dalam menjelaskan konten positif, dan tangguh dalam mengajak anak kembali ke alam meski hanya di taman kota.

Kesimpulan: Generasi yang Berbeda, Bukan Lebih Buruk

Mengatakan "anak zaman sekarang tidak setangguh zaman dahulu" adalah pernyataan yang terlalu disederhanakan. Setiap generasi punya luka dan kemenangannya masing-masing. Anak 90-an tangguh menghadapi terik matahari, anak zaman sekarang tangguh menghadapi terik komentar netizen. Anak 90-an belajar dari kesalahan fisik, anak sekarang belajar dari kesalahan interaksi sosial di ruang digital.

Yang perlu kita benahi bukanlah menuduh generasi mana yang lebih lemah, tetapi bagaimana menjembatani kearifan masa lalu dengan tantangan masa kini. Orang tua 90-an memiliki modal besar: mereka pernah merasakan bahagia tanpa gawai. Maka, wujud ketangguhan orang tua saat ini adalah mampu menularkan kebahagiaan itu kepada anak-anak mereka, tanpa harus memusuhi teknologi.

Karena pada akhirnya, ketangguhan sejati bukanlah tentang seberapa keras kita jatuh, tetapi seberapa cepat kita bangkit dan beradaptasi di zaman apa pun kita berada.