Berawal Dapur Menjadi Peluang: Warga Sunter Belajar Membuat Sabun Cuci Piring

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sabun cuci piring merupakan salah satu produk kebersihan yang hampir selalu tersedia di rumah. Produk ini digunakan setiap hari untuk membersihkan piring, gelas, sendok, dan berbagai peralatan memasak dari sisa makanan maupun minyak.
Karena penggunaannya rutin, kebutuhan sabun cuci piring juga menjadi bagian dari pengeluaran rumah tangga. Masyarakat umumnya memilih produk berdasarkan harga, aroma, banyaknya busa, atau kemampuannya mengangkat lemak.
Namun, sabun cuci piring sebenarnya dapat dibuat secara mandiri dengan bahan dan peralatan sederhana. Proses pembuatannya tetap memerlukan pengetahuan mengenai fungsi bahan, urutan pencampuran, kebersihan, serta keamanan selama proses produksi.
Pengetahuan tersebut diperkenalkan kepada warga melalui pelatihan pembuatan sabun cuci piring cair di RPTRA Sutra Indah 3, Sunter, Jakarta Utara. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diselenggarakan oleh tim Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 2 Juli 2026.
Bukan Sekadar Mencampurkan Bahan
Membuat sabun cuci piring tidak cukup dilakukan dengan mencampurkan seluruh bahan secara bersamaan. Setiap bahan memiliki fungsi tertentu dan perlu digunakan dengan komposisi yang sesuai.
Proses pencampuran juga perlu dilakukan secara bertahap. Pengadukan yang kurang tepat dapat memengaruhi kekentalan, keseragaman, dan tampilan produk yang dihasilkan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai fungsi bahan, penggunaan bahan pembersih rumah tangga secara aman, serta tahapan membuat sabun cuci piring cair.
Peserta kemudian dibagi menjadi kelompok kecil untuk mempraktikkan proses pencampuran, pengadukan, pengaturan kekentalan, hingga pengemasan produk. Tim pelaksana mendampingi setiap kelompok agar proses dilakukan dengan benar dan hati-hati.
Hasil produk juga diamati berdasarkan aroma, warna, kekentalan, daya busa, serta kenyamanan penggunaannya. Dengan demikian, peserta tidak hanya membawa pulang produk, tetapi juga memahami proses pembuatannya.
Keterampilan Praktis bagi Ibu Rumah Tangga
Kelompok utama yang menjadi sasaran kegiatan adalah ibu-ibu PKK dan ibu rumah tangga yang aktif mengikuti kegiatan di RPTRA Sutra Indah 3.
Kelompok ini dipilih karena memiliki peran penting dalam mengelola kebutuhan rumah tangga. Keterampilan membuat produk kebersihan dapat diterapkan untuk kebutuhan keluarga sekaligus dikembangkan menjadi aktivitas produktif.
Bahan yang relatif mudah diperoleh dan peralatan yang sederhana membuat pembuatan sabun cuci piring dapat dipraktikkan kembali di rumah. Peserta juga memperoleh panduan singkat agar tahapan pembuatannya tidak berhenti hanya pada saat pelatihan.
Dokumentasi kegiatan pada halaman 6 memperlihatkan peserta mengikuti sesi edukasi, melakukan praktik pencampuran dalam kelompok, menunjukkan produk yang telah dibuat, dan berfoto bersama setelah kegiatan selesai.
Peserta Didominasi Perempuan
Laporan kegiatan mencatat pelatihan diikuti oleh 39 peserta. Data jenis kelamin yang tersedia mencakup 37 peserta, terdiri atas 34 perempuan atau 91,89 persen dan tiga laki-laki atau 8,11 persen.
Mayoritas peserta berada pada kelompok usia 46–55 tahun, yaitu sebesar 56,76 persen. Peserta berusia 21–35 tahun dan 36–45 tahun masing-masing mencapai 18,92 persen, sedangkan peserta berusia lebih dari 56 tahun sebesar 5,41 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan menjangkau kelompok usia produktif hingga pra-lansia. Mereka umumnya memiliki peran sentral dalam mengelola kebersihan, kesehatan, dan pengeluaran keluarga.
Tingginya partisipasi perempuan juga memperlihatkan bahwa pelatihan berbasis kebutuhan rumah tangga memiliki daya tarik tersendiri. Materi yang dekat dengan kegiatan sehari-hari membuat peserta lebih mudah melihat manfaat langsung dari keterampilan yang dipelajari.
Pengetahuan Peserta Meningkat
Sebelum dan sesudah kegiatan, peserta mengikuti evaluasi untuk mengetahui perubahan tingkat pemahaman mereka.
Praktik langsung membuat peserta tidak hanya mengingat penjelasan secara teori. Mereka dapat melihat perubahan campuran, mengamati tingkat kekentalan, dan memahami tahapan yang perlu dilakukan apabila ingin membuat produk kembali secara mandiri.
Model pelatihan seperti ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Peserta mengetahui bahwa produk kebutuhan sehari-hari dapat dibuat melalui proses yang dapat dipelajari, bukan sekadar dibeli dalam bentuk jadi.
Berpotensi Menjadi Usaha Rumahan
Sabun cuci piring memiliki permintaan yang relatif konsisten karena digunakan setiap hari. Kondisi ini membuka kemungkinan bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha rumahan berskala kecil.
Namun, produk yang akan dipasarkan perlu dibuat dengan standar yang lebih tertib dibandingkan produk untuk penggunaan pribadi. Kebersihan alat, ketepatan formulasi, kualitas bahan, kestabilan produk, kemasan, dan pelabelan perlu diperhatikan.
Label sebaiknya memuat nama produk, komposisi, isi bersih, cara penggunaan, peringatan, identitas pembuat, dan informasi produksi. Klaim produk juga tidak boleh dibuat secara berlebihan tanpa bukti yang memadai.
Perhitungan biaya produksi menjadi hal lain yang perlu dipelajari. Harga bahan, kemasan, transportasi, tenaga, dan kemungkinan produk gagal harus masuk dalam perhitungan sebelum menentukan harga jual.
Dengan pengelolaan yang tepat, keterampilan rumah tangga dapat berkembang menjadi sumber pendapatan tambahan. Kegiatan dapat dimulai dalam skala kecil, lalu dievaluasi berdasarkan kualitas produk dan tanggapan pengguna.
RPTRA sebagai Tempat Belajar Bersama
RPTRA tidak hanya berfungsi sebagai ruang bermain anak atau tempat berkumpul warga. Fasilitas ini juga dapat menjadi pusat edukasi, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pelatihan pembuatan sabun cuci piring menunjukkan bahwa kegiatan sederhana dapat memberikan manfaat dalam beberapa bidang sekaligus. Warga memperoleh pengetahuan mengenai produk kebersihan, keterampilan teknis, serta gambaran peluang usaha yang dapat dimulai dari rumah.
Jadi, apakah sabun cuci piring dapat dibuat sendiri? Jawabannya bisa, asalkan prosesnya dilakukan menggunakan formulasi yang tepat, bahan yang sesuai, peralatan bersih, dan tahapan kerja yang aman.
Tujuan utama pelatihan bukan hanya menghasilkan sebotol sabun. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk memahami proses, menjaga kualitas, dan memanfaatkan keterampilan tersebut secara produktif.
Kemandirian keluarga dapat dimulai dari pengetahuan yang sederhana. Ketika pengetahuan tersebut dipraktikkan dan dikembangkan bersama, kegiatan rumah tangga pun dapat berubah menjadi peluang yang bernilai.
