Berawal Serai di Dapur ke Semangat Warga Sunter: Melawan DBD dengan Cara Alami

Dosen Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yulius Evan Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Solusi sering kali tumbuh di halaman rumah, yang dibutuhkan hanyalah pengetahuan dan kemauan.”
Musim hujan di Jakarta selalu membawa dua hal: kesejukan dan kekhawatiran. Genangan air di sudut halaman, ember yang tak tertutup rapat, hingga talang yang mampet, semua bisa jadi tempat favorit bagi nyamuk Aedes aegypti. Kecil, bergaris putih-hitam, tapi dampaknya mematikan. Virus dengue yang dibawanya telah menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat Indonesia.
Hingga pertengahan tahun 2024, data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 244.000 kasus DBD dan 1.430 kematian di seluruh Indonesia. Angka yang mengingatkan bahwa ancaman ini bukan sekadar masalah lingkungan, tapi juga soal pengetahuan dan perilaku masyarakat.
Dari Kebiasaan Lama ke Solusi Baru
Selama ini, fogging dan obat nyamuk kimia menjadi “senjata utama” dalam melawan nyamuk. Namun, efektivitasnya sering kali hanya sementara. Fogging hanya mematikan nyamuk dewasa — sementara telur dan jentik tetap aman, menunggu waktu untuk menetas.
Lebih dari itu, penggunaan bahan kimia seperti DEET (N,N-diethyl-meta-toluamide) dalam obat nyamuk semprot atau lotion juga menimbulkan kekhawatiran. Paparan jangka panjang terhadap zat ini bisa menyebabkan iritasi kulit, gangguan pernapasan, hingga efek toksik jika digunakan berlebihan.
Kondisi inilah yang mendorong munculnya inisiatif baru: mengembangkan spray herbal antinyamuk berbasis tanaman lokal, hasil kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat.
Lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. RPTRA Sutra Indah 3 adalah ruang publik yang aktif digunakan warga untuk kegiatan edukatif, sosial, dan kebersamaan. Terletak di kawasan padat dengan tingkat kelembaban tinggi, lingkungan sekitar RPTRA menjadi tempat yang potensial bagi nyamuk berkembang. Apalagi saat musim hujan, genangan air kecil bisa berubah jadi ‘hotel bintang lima’ untuk jentik nyamuk.
Melalui program pengabdian masyarakat, dosen dan mahasiswa dari bidang farmasi mengenalkan cara membuat spray herbal anti-nyamuk dari tanaman lokal. Menariknya, semua bahan bisa ditemukan di dapur atau halaman rumah!
Dari Kampus ke Komunitas: Ilmu yang Turun ke Lapangan
Di tengah kawasan padat penduduk Sunter, Jakarta Utara, RPTRA Sutra Indah 3 menjadi ruang pertemuan yang unik. Tidak hanya tempat bermain anak atau ajang kegiatan sosial, RPTRA juga menjadi laboratorium kecil tempat warga belajar ilmu praktis tentang kesehatan lingkungan.
Melalui program pengabdian masyarakat, dosen dan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya datang membawa konsep sederhana namun berdaya guna: pelatihan pembuatan spray herbal antinyamuk alami.
Pendekatannya tidak sekadar penyuluhan, tetapi transfer pengetahuan yang aplikatif. Peserta diajak memahami dasar ilmiah bahan-bahan herbal, mempelajari cara ekstraksi sederhana, serta prinsip keamanan penggunaan minyak atsiri dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu di Balik Aroma: Kandungan Aktif yang Efektif
Dalam pelatihan ini, warga dikenalkan dengan sejumlah tanaman lokal yang telah terbukti secara ilmiah memiliki efek repelan (penolak nyamuk):
Serai wangi (Cymbopogon nardus L.)
Mengandung citronelal dan geraniol, dua senyawa yang menghasilkan aroma khas yang tidak disukai nyamuk.
Daun kemangi (Ocimum basilicum)
Kaya akan eugenol dan linalool, senyawa yang bekerja mengganggu sistem penciuman nyamuk.
Kulit jeruk (Citrus sp.)
Mengandung limonene, senyawa volatil yang efektif mengusir serangga.
Daun nangka dan bunga kamboja
Dikenal memiliki minyak atsiri yang mampu menolak dan menekan aktivitas nyamuk.
Kesemua bahan ini memiliki keunggulan yang sama: alami, mudah ditemukan, dan ramah lingkungan.
Selain bahan utama berupa minyak atsiri, pelarut seperti etanol 96% digunakan untuk melarutkan senyawa aktif, sedangkan propilen glikol berfungsi menjaga kestabilan larutan agar tidak mudah menguap. Semua formula diracik dengan standar keamanan sederhana namun efektif, menggunakan peralatan rumah tangga.
Yuk, Bikin Spray Herbal Sendiri!
Langkah-langkah pembuatan spray ini ternyata cukup sederhana. Tapi tetap harus mengikuti standar keamanan dan efektivitas. Bahan utama yang digunakan antara lain:
• Minyak atsiri dari tanaman pilihan
• Etanol 96% sebagai pelarut
• Propilen glikol untuk menjaga kestabilan larutan
• Botol semprot gelap untuk penyimpanan
Proses pencampurannya tidak ribet. Tapi yang menarik, warga juga belajar mengukur dengan tepat dan tips menyimpan spray agar tidak mudah rusak.
Semua orang bisa ikut membuat. Nggak perlu alat canggih, cukup alat rumah tangga dan panduan praktis. Pelatihan ini juga dilengkapi dengan materi sederhana berisi langkah, ilustrasi, dan penjelasan ilmiah yang mudah dimengerti.
Gerakan Kecil, Dampak Besar
Pelatihan di RPTRA Sutra Indah 3 menunjukkan bagaimana ilmu farmasi dapat menjangkau masyarakat secara praktis dan inklusif. Warga bukan sekadar penerima informasi, tetapi menjadi pelaku perubahan. Mereka belajar, bereksperimen, dan menemukan keyakinan baru bahwa solusi kesehatan bisa tumbuh dari halaman rumah sendiri.
Lebih jauh, kegiatan ini menginspirasi munculnya semangat kemandirian komunitas. Beberapa kelompok warga mulai memanfaatkan kembali lahan kecil di sekitar rumah untuk menanam tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai bahan spray alami.
Sebagian lainnya berencana menjadikan produk ini sebagai peluang ekonomi rumahan — bentuk nyata dari keberlanjutan ilmu yang bermanfaat.
Penutup: Dari RPTRA Sunter, Untuk Warga di Mana Saja
Pelatihan ini jadi bukti nyata bahwa ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kearifan lokal dan kepedulian komunitas, dampaknya bisa luar biasa. Kita tidak harus menunggu program nasional atau alat mahal. Kita hanya perlu diberi akses pengetahuan, dilibatkan secara aktif, dan diberi ruang untuk berkreasi.
Spray herbal hanyalah simbol dari gerakan lebih besar: bahwa warga bisa sehat, berdaya, dan mandiri dengan cara yang alami dan aman.
Perspektif Lingkungan: Sehat Tanpa Merusak
Dampak dari kegiatan ini tidak hanya terasa di aspek kesehatan, tetapi juga lingkungan. Penggunaan bahan alami berarti mengurangi limbah kimia dari produk konvensional. Tak ada residu berbahaya, tak ada asap beracun, dan tak ada polusi udara dalam ruangan.
Spray herbal menjadi simbol pergeseran paradigma: dari konsumsi menuju produksi, dari ketergantungan menuju kemandirian.
Dalam konteks urban seperti Jakarta, ini adalah langkah kecil menuju gaya hidup yang lebih sadar lingkungan — di mana teknologi sederhana, kearifan lokal, dan partisipasi warga berpadu menjadi kekuatan baru.
“Kalau kita bisa lawan nyamuk dengan serai dari halaman, kenapa harus tunggu disemprot dulu baru sadar?”
